Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 12 September 2026

Menkop dan UKM Optimis Bisa Mengejar Target Penyaluran KUR

- Sabtu, 26 September 2015 13:58 WIB
275 view
Menkop dan UKM Optimis Bisa Mengejar Target Penyaluran KUR
Jakarta (SIB)- Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Puspayoga, optimis bisa mengejar target penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 30 triliun.

"Kami optimis targetkan dana KUR Rp 30 triliun bisa tersalur semua sampai akhir tahun ini,” kata menteri melalui pesan singkatnya.

Tanpa mengenal lelah, mantan Wagub Bali ini, kerapkali mendatangi kantor cabang pelaksana penyalur kredit usaha rakyat (KUR) untuk melihat langsung bagaimana koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) mendapat KUR.

Tak hanya saja di Jakarta, tapi juga ke berbagai daerah. Dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB dan sebagainya.
Menteri mengaku dari Rp 30 triliun dana KUR yang disediakan, Rp 21,4 triliun diantaranya disalurkan melalui Bank BRI. Sisanya lewat Bank BNI dan Bank Mandiri masing-masing Rp 3,2 triliun.

Menteri berharap dengan dikucurkan dana KUR ini, perekonomian yang saat ini sedang lesu bisa kembali menggeliat. Selain itu juga mengurangi ketimpangan pendapatan yang sampai sekarang masih tinggi.

Sebelumnya, Direktur Bisnis Bank BRI Mohammad Irfan, mengaku sejak 18 Agustus hingga 4 September, BRI sudah merealisasikan penyaluran KUR sebesar Rp 667 miliar dengan jumlah debitur sebanyak 47,351 orang.

Dengan menambah jam kerja hingga akhir pekan, target BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 21 triliun bisa tercapai.

"Ini satu start yang bagus dan mudah-mudahan target akhir tahun syukur-syukur bisa dilampaui," ungkapnya saat mendampingi Menkop dan UKM AAGN Puspayoga saat mendatangi kantor cabang BRI di Kramatjati.

Sementara itu, pengamat ekonomi politik, Salamuddin Daeng, mengaku penyaluran dana KUR, dana desa dan dana pembiayaan dari lembaga pembiayaan pemerintah memang sedikit membantu.

Setidaknya bisa mendongkrak daya beli masyarakat yang selama ini tenggelam, karena naiknya harga energi, baik BBM, listrik dan barang konsumsi.
"Tapi tidak bisa mengatasi persoalan sebenarnya, terutama meredam gejolak nilai tukar dolar AS terhadap rupiah," tandasnya. (PK/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru