Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 12 September 2026
Warga Buru Terpapar Merkuri

Perintah Presiden Jokowi untuk Menutup Tambang Diabaikan

- Senin, 09 November 2015 15:25 WIB
487 view
Perintah Presiden Jokowi untuk Menutup Tambang Diabaikan
Ambon (SIB)- Zat merkuri yang digunakan untuk pengolahan hasil tambang emas liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, terdeteksi telah masuk ke dalam tubuh manusia.

Ironisnya, sampai saat ini penambangan tetap berlangsung kendati secara lisan Presiden Joko Widodo telah memerintahkan agar tambang tanpa izin itu segera ditutup.

Yusthinus T Male, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura, Ambon, yang terlibat dalam penelitian itu, Jumat (6/11), mengatakan, merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan.

Pasalnya, limbah pengolahan emas dibuang ke Sungai Waeapo yang memiliki tujuh subdaerah aliran sungai. Sungai itu merupakan sumber utama pengairan lahan pertanian di daerah itu.

Data pemerintah setempat, sekitar 10.000 petambang beraktivitas di Gunung Botak. Bupati Buru Ramly I Umasugi mengatakan, pihaknya sulit menertibkan penambangan liar karena ada keterlibatan oknum-oknum tertentu. “Puluhan kali kami tertibkan, setelah itu mereka menambang lagi,” ucapnya.

KADAR SANGAT TINGGI

Penelitian Yusthinus dimulai pada 2012, setahun setelah aktivitas penambangan masif. Penelitian diawali pada sedimen sungai. Mereka menemukan kadar merkuri di sana sudah sangat tinggi, mencapai 9 miligram (mg) per 1 kilogram (kg) lumpur. Padahal, ambang batas merkuri pada sedimen tidak boleh lebih dari 1 mg per 1 kg lumpur. Sampel dari sedimen di tujuh lokasi.

Penelitian dilanjutkan tahun 2014 dengan fokus pada bahan makanan yang meliputi udang, ikan, kerang-kerangan dan kepiting yang diambil dari Teluk Kayeli, muara sungai yang sudah tercemar. Konsentrasi merkuri pada 30 persen sampel itu pun sudah melampaui batas atas standar nasional yang hanya 0,5 mg per 1 kg sampel. Temuan pada udang lebih dari tiga kali lipat dibandingkan standar, ikan tujuh kali, kerang enam kali, dan kepiting dua kali.

Mereka juga meneliti kandungan merkuri pada tubuh manusia dengan menjadikan rambut sebagai sampel. Hasilnya, pada rambut penduduk di sekitar tempat pengolahan emas, kadar merkuri 18 mg per 1 kg sampel atau lebih tinggi 36 kali dari standar. Ada lima warga dari petambang yang dijadikan sampel.

Mereka masih menganalisis kandungan merkuri yang ada dalam hasil pertanian di Buru. “Kami yakin area pertanian yang dekat dengan lokasi pengolahan emas itu sudah terkontaminasi zat merkuri,” katanya.

Menurut data Dinas Pertanian Maluku, pada 2014, dari produksi padi sebanyak 101.836 ton gabah kering giling, 42,33 persen berasal dari Buru. Padahal, banyak area persawahan di Buru menggunakan air dari sungai yang sudah tercemar itu.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan Maluku Ritha Tahitu juga mengemukakan temuan merkuri yang melebihi ambang batas di sejumlah lokasi, seperti Teluk Kayeli, tempat pemandian umum di Anahoni, serta sumur bor di Desa Wamsait dan Desa Kayeli.

Kerusakan lingkungan di Buru sudah menjadi perhatian Presiden Jokowi. Dalam kunjungannya, Mei lalu, Presiden memerintah agar aktivitas itu segera dihentikan.

“Saya perintahkan Kapolda (Maluku) untuk menutup tambang ilegal,” kata Jokowi.

Namun, kondisi lingkungan saat ini justru semakin parah dibandingkan pantauan  di Gunung Botak, Februari lalu.

Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Maluku Andrew Ardiansz mengatakan, Gubernur Maluku Said Assagaff telah mengeluarkan surat keputusan untuk penataan kembali kegiatan penambangan di Buru. Surat keputusan itu dikeluarkan pada akhir Oktober lalu.

ANCAMAN MERKURI DI DALAM TUBUH

Penggunaan merkuri untuk pengolahan hasil tambang emas terus terjadi di Indonesia. Selain harganya relatif murah, merkuri juga mudah didapat dan penggunaannya gampang. Namun, itu menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi pertambangan.

Selama ini, merkuri digunakan sebagai bahan pengikat bijih emas yang banyak digunakan petambang emas tradisional. Dengan cara mencampurkan merkuri dengan bijih emas, emas akan terikat dengan merkuri dan membentuk amalgam. Akan tetapi, penggunaan merkuri itu tak diimbangi pengetahuan tentang bahaya merkuri di kalangan petambang tradisional.

Riset yang dilakukan International Institute for Economic Development memperkirakan, 713 lokasi operasi kegiatan penambangan emas skala kecil muncul di Indonesia akibat kenaikan harga emas. Studi terbaru, seperti dimuat dalam buku Rencana Aksi Nasional Penghapusan Penggunaan Merkuri pada Pengolahan Emas, mencatat, terdapat 800 lokasi penambangan dengan estimasi 50.000 petambang.

Sebenarnya merkuri atau air raksa (Hg) termasuk jenis logam yang banyak ditemui di alam. Merkuri bisa terpapar ke tubuh manusia dalam bentuk uap merkuri, melalui ion merkuri anorganik, melalui metil merkuri dan etil merkuri. Pada penambangan emas, merkuri masuk melalui media air, tanah, dan udara, lalu akhirnya masuk rantai makanan.

Kasus pencemaran merkuri paling terkenal dalam sejarah manusia adalah tragedi Minamata di Jepang, 1950-an, akibat kegiatan industri. Setidaknya 50.000 orang terdampak dan lebih dari 2.000 orang menjadi korban.

Penduduk yang mengalaminya memiliki gejala tangan dan kaki mati rasa, gangguan koordinasi otot, gangguan pada mata, gangguan pendengaran, dan kelumpuhan. Bahkan, pada level tertentu, paparan merkuri itu menyebabkan kematian. (Kps.com/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru