Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 29 Agustus 2026

Tarik Ulur Kepentingan Membuat Infrastruktur RI Tertinggal Jauh dari Negara Lain

- Selasa, 29 April 2014 19:59 WIB
515 view
 Tarik Ulur Kepentingan Membuat Infrastruktur RI Tertinggal Jauh dari Negara Lain
Jakarta (SIB)- Kondisi infrastruktur di Indonesia semakin tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. Salah satu penyebab terhambatnya pembangunan infrastruktur adalah tarik ulur kepentingan berbagai pihak.

"Infrastruktur kita itu makin tertinggal, tiap tahun bukannya makin baik malah makin terpuruk. Tertinggal dibandingkan India dan Thailand, apalagi harus dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura," tegas Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Emma Sri Martini ketika ditemui di Kantornya Gedung GKBI, Jakarta, Senin (28/4).

Emma mengungkapkan, kualitas infrastruktur Indonesia secara keseluruhan berada diperingkat 92. Tertinggal jauh dari India yang berada di peringkat 82, Thailand peringkat 49, Malaysia 29, dan Singapura peringkat 2. "Untuk pembangunan jalan tol saja di India setahun terbangun hampir 1.000 km," ucapnya.
Di Indonesia, data Kementerian Pekerjaan Umum menyebutkan, sampai saat ini total panjang jalan tol yang terbangun baru 927,53 km.

Salah satu penyebab infrastruktur Indonesia makin terpuruk, lanjut Emma, adalah sinkronisasi antara pemangku kepentingan (stakeholders) baik di tingkat pusat mapun daerah.

"Tarik ulur kepentingan makin membuat proyek infrastruktur sulit dieksekusi. Padahal mereka tidak melihat dampaknya jika infrastruktur makin tertunda, biaya operasional dan logistik masyarakat makin mahal. Investor pun malas dan lari ke negara lain, akibatnya lapangan kerja makin terbatas kemudian pengangguran makin banyak," paparnya.

Sementara itu, pengusaha kawakan properti Tanah Air, Ciputra bercita-cita menjadikan Jalan Prof Dr Satrio Jakarta Selatan sebagai Orchard Road-nya Indonesia layaknya di Singapura. Masih butuh 5-10 tahun lagi untuk mewujudkan sentra komersial yang terintegrasi di Jakarta.

Ciputra mengatakan di kota-kota besar di dunia, sebuah kawasan atau jalan yang dilengkapi pusat komersial, untuk turis yang datang bisa menikmati semua fasilitas pariwisata. Sehingga jalan tersebut menjadi ikon dari sebuah kota atau negara.

"Kita mengharapkan masih akan terjadi karena setiap negara membutuhkan turis untuk datang ke satu kota. Ke mana dia pergi, ada satu jalan," kata Ciputra ditemui di Kantor Pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI) Jakarta, Senin (28/4).

Ia mengatakan, seperti di Singapura yang memiliki kawasan Orchard Road yang menjadi tujuan turis dari berbagai negara, Jepang memiliki kawasan Ginza dan negara-negara lainnya.

"Seperti di Singapura Orchard Road, di Jepang ginza. Dia perlu Jakarta dia bisa datang ke satu jalan yang ada bisnisnya, mal-nya, tempat rekreasinya, museum, art gallery, dan lainnya," kata pria yang akrab disapa Pak Ci ini.

Ciputra mengatakan, cita-cita ini berjalan terus dan akan didukung dengan proyek-proyek yang dikerjakan Ciputra Group di kawasan Jalan Prof Dr Satrio.
"Mungkin butuh 5-10 tahun lagi. Karena perlu pengembangan yang benar-benar besar," tutupnya. (detikfinance/q)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru