Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 08 Juni 2026

Impor Tepung Terigu dan Mentega Meroket

*Harga Jagung Impor lebih Murah Dibandingkan Produk Lokal
- Rabu, 04 Juni 2014 12:51 WIB
588 view
 Impor Tepung Terigu dan Mentega Meroket
Jakarta (SIB)- Impor tepung terigu dan mentega pada April 2014 mengalami lonjakan tajam. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan kebutuhan masyarakat jelang bulan Ramadhan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Selasa (3/6), tercatat impor tepung terigu mencapai 20.198 ton atau US$ 8,1 juta. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kenaikan yang terjadi hampir mencapai 3 kali lipat. Maret 2014, impornya masih 8.863 ton (US$ 3,6 juta).

Negara asal impor tepung terigu adalah Turki: 7.027 ton (US$ 2,5 juta), Srilanka: 3.966 ton (US$ 1,7 juta), Malaysia: 2.456 ton (US$ 1,2 juta), India: 2.910 ton (US$ 1,1 juta), Ukraina: 2.327 ton (US$ 948 ribu) dan negara lainnya: 1.511 ton (US$ 696 ribu).

Kondisi yang hampir serupa terjadi pada mentega. Impornya pada April diilaporkan mencapai 3.735 ton (US$ 19,1 juta). Naik lebih dari 2 kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebanyak 1.526 ton (US$ 7,3 juta).

Negara asal impor mentega adalah Selandia Baru: 2.537 ton (US$ 12,9 juta), Belgia: 488 ton (US$ 3,2 juta), Perancis: 97 ton (US$ 720 ribu), Amerika Serikat: 234 ton (US$ 1,2 juta),  Australia: 108 ton (US$ 546 ribu) dan negara lainnya: 269 ton (US$ 477 ribu)

"Jangan salah, produk impor untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan jelang puasa dan lebaran juga tinggi. Seperti mentega, gula, keju, susu, dan daging sapi," kata Suryamin, Kepala BPS.

Sementara itu, harga jagung impor jauh lebih murah dibandingkan jagung lokal. Namun hal ini bukan menjadi penyebab terjadinya impor jagung ke dalam negeri.

Menurut catatan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), harga jagung lokal mencapai Rp 3.300-Rp 3.500/Kg atau lebih tinggi dibandingkan jagung impor yang hanya Rp 3.200/Kg, termasuk dari India.

"Kalau dari segi harga, jagung ini cukup berfluktuasi, tetapi tidak ada perbedaan harga yang cukup jauh antara jagung lokal dan impor," kata Sekretaris Dewan Jagung Nasional Maxdeyul Sola, Selasa (3/6.

Menurut Max, kualitas jagung lokal lebih baik dibandingkan jagung impor. Jagung lokal dinilai sangat cocok dibuat untuk campuran bahan dasar pakan ternak karena sisi kesegaran maupun kuning biji jagung jauh lebih baik daripada produk impor.

"Kalau dia (jagung lokal) itu bisa dikeringkan segera, jagung lokal lebih baik dari impor, dan protein kita lebih tinggi. Kemudian aflatoksin kita rendah dibandingkan jagung impor," katanya.

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin) atau toksin yang berasal dari fungi yang dikenal mematikan bagi manusia.

Max mengatakan kapasitas produksi jagung lokal yang mencapai 18 juta/tahun tidak dapat memenuhi kebutuhan industri pakan ternak yang membutuhkan jagung 7 juta ton/tahun. Penyebabnya waktu panen jagung yang tak terjadi sepanjang tahun tak diimbangi dengan sistem stok atau resi gudang yang baik. Sehingga potensi produksi yang tinggi tak bisa memasok sepanjang tahun ke industri.

"Para industri pakan ternak justru lebih memilih jagung lokal ketimbang yang impor. Impor jagung dilakukan karena terpaksa takut tidak adanya pasokan," imbuhnya.(Dtf/ r)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru