Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Kurang Beraroma, Kendala Ekspor Cokelat Indonesia

- Rabu, 25 Juni 2014 18:46 WIB
302 view
Kurang Beraroma, Kendala Ekspor Cokelat Indonesia
Jakarta (SIB)- Indonesia termasuk penghasil biji kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading. Namun, angka impor biji kakao terus menanjak. Penyebabnya, biji kakao lokal berasa pahit dan tidak menguarkan aroma cokelat akibat tidak difermentasi terlebih dulu. Padahal, industri olahan cokelat membutuhkan biji kakao penghasil aroma cokelat.

Rendahnya mutu biji kakao lokal menjadi perhatian pemerintah belakangan ini. Kendati terlambat, Yusni Emilia Harapan, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, mengatakan Kementerian Pertanian telah menerbitkan aturan yang mewajibkan petani untuk memfermentasi biji kakao. Keterlambatan ini disebabkan pemerintah menunggu pernyataan tidak keberatan dari negara anggota organisasi perdagangan dunia (WTO).

Yusni mengatakan Kementerian Pertanian akan memberlakukan standar nasional Indonesia (SNI) untuk biji kakao. "Sudah keluar Peraturan Menteri Pertanian pada 21 Mei 2014 dan akan diwajibkan atau berlaku efektif mulai 2016," katanya di kantornya, Jakarta, Senin (23/6).

Peraturan itu mewajibkan petani memfermentasi biji kakao terlebih dulu. Kebiasan mayoritas petani adalah menjual langsung biji kakao. Padahal, petani merupakan pemilik 94 persen perkebunan kakao. Kebiasaan ini disebabkan harga biji kakao non-fermentasi dan fermentasi tidak jauh berbeda.

Agar petani terpacu, pemerintah mengiming-imingi dengan menetapkan harga biji kakao fermentasi lebih mahal Rp 3.800-4.000 ketimbang harga biji non-fermentasi. Harga biji non-fermentasi mencapai Rp 36 ribu per kilogram.

Yusni mengatakan sosialisasi standarisasi dan sertifikasi biji kakao domestik sudah dimulai bersamaan dengan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao pada 2009. Namun, menurut Direktur Jenderal Perkebunan Gamal Nasir, Gernas baru menjangkau 400 hektare dari total 1,7 hektare perkebunan kakao.

Jumlah ekspor biji kakao menunjukkan tren penurunan, yaitu sebesar 432 ribu ton pada 2010, lalu 210 ribu ton pada 2011, turun lagi menjadi 165 ribu ton pada 2012, dan hanya 180 ribu ton pada 2013. Adapun nilai ekspor kakao olahan meningkat, yakni sebesar US$ 669 juta pada 2012, menjadi US$ 705 juta pada 2013. (Tempo.co/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru