Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Banyak Salah Persepsi, MEA Bukan Ancaman Bagi Ekonomi ASEAN

- Kamis, 26 Juni 2014 21:07 WIB
389 view
Banyak Salah Persepsi, MEA Bukan Ancaman Bagi Ekonomi ASEAN
Jakarta (SIB)- Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai konsep Masyarakat Ekonomi ASEAN masih sering tidak tepat dipahami oleh banyak pihak. “Banyak pihak menerjemahkan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sama seperti Uni Eropa yang menganut asas integrasi ekonomi. Padahal tidak demikian,” ujarnya saat ditemui di Hotel Pullman, Rabu (25/6/2014).

Dalam Seminar Nasional bertajuk "Peningkatan Peran Indonesia Menghadapi MEA 2015", Faisal menjelaskan, secara historis, ASEAN dibentuk dengan semangat kooperasi atau kerja sama. Artinya, kerja sama yang dibentuk dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antarnegara.

“Sehingga, dalam konteks ini, MEA yang akan diterapkan pada 2015 perlu dipahami sebagai strategi meningkatkan fungsi kemitraan antarnegara,” ujar Faisal.

Ia juga menampik bahwa penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN akan berkonsekuensi kepemilikan mata uang bersama ASEAN, seperti halnya mata uang euro di zona Eropa.

Fungsi kemitraan itu merupakan pintu gerbang untuk meningkatkan arus lalu lintas komoditas, tenaga kerja, permodalan dan juga pengusaha yang tertarik berinvestasi di negara ASEAN. “Cakupan wilayah perekonomian yang lebih luas dan efisien secara teoritis akan mengundang banyak investor dari luar wilayah itu berbondong-bondong menanamkan modalnya,” katanya.

Secara umum, ia menilai daya tarik investasi ke ASEAN lebih besar dari pasar global ketimbang nilai investasi antarnegara ASEAN sendiri. “Nilai investasi dari pasar global ke ASEAN mencapai US$ 67 miliar, jauh lebih tinggi dibanding nilai investasi antarnegara ASEAN yang hanya US$ 26 miliar,” ujarnya.

Karena itu, ia mengatakan diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 bukan merupakan ancaman bagi perekonomian Indonesia. “Justru konsep MEA yang diterapkan merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan produk domestik bruto yang tahun lalu sudah mencapai US$ 2,2 triliun, tertinggi di antara negara ASEAN lainnya,” tuturnya. (Tempo.co/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru