Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 Juli 2026

Kelapa Sawit Berbasis UKM, Strategis Dorong Perekonomian Sumut

- Rabu, 13 Agustus 2014 16:27 WIB
307 view
Kelapa Sawit Berbasis UKM, Strategis Dorong Perekonomian Sumut
Medan (SIB)- Akademisi dan praktisi menilai, program hilirisasi  kelapa sawit berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM)  yang diangkat Pemprovsu sebagai Sistem Inovasi Daerah (SIDa) sangat strategis mendorong perekonomian Sumut.    Dalam hal ini Sumut dinilai berhasil dalam kegiatan hilirisasi kelapa sawit berbasis UKM dengan pengembangan benih unggul kelapa sawit.

Pengamat sosial ekonomi pertanian alumni USU Hafian Tan dan pakar teknologi kimia yang juga praktisi perkelapasawitan Sumut, Ermin, memberi apresiasi atas keberhasilan Gubsu mengembangkan inovasi ini.  Hal itu diungkapkan menjawab wartawan, Selasa (12/8) menanggapi diterimanya penghargaan oleh Gubsu dari Wapres berupa Piala Budhipura atas inovasi Sumut khususnya dalam  mengembangkan industri hilir kepala sawit.

Ermin yang kini senior manager di salah satu perkebunan swsta terbesar di Sumut,  mengakui potensi sawit dengan industri hilirnya di Sumut cukup besar. Berdasarkan data Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia atau Apkasindo (2013), luas kebun rakyat di Sumut mencapai 1.520.000 ha yang terdiri atas kebun rakyat 710.000 ha, kebun milik PTPN 432.000 ha dan kebun milik swasta 387.000 ha.

Hafian Tan juga mengemukakan,  industri hilir diharapkan menghasilkan nilai tambah bagi produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).   Hal ini akan bisa menekan volume ekspor CPO terutama di tengah kondisi harga di pasar internasional yang gonjang ganjing. Sumut sebagai penghasil minyak sawit mentah terbesar di Indonesia sangat potensial mengambil peluang ini. Tentunya dengan membangun industri hilir sawit yang akan bisa menambah nilai produknya. “Namun, pembangunan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan,” katanya.

 Sebab, katanya, ada sejumlah regulasi yang harus diikuti. Selain itu, butuh waktu untuk menarik investor menanamkan modalnya di sektor ini. “Paling tidak, butuh waktu dua tahun untuk mengembangkan industri hilir di Sumut.  Itu pun tidak bisa langsung sesuai dengan yang ditargetkan. Tapi jika sudah dimulai dari sekarang, dalam dua tahun ke depan akan bisa terlihat perkembangannya. Apalagi ada inovasi yang menggabung beberapa teknologi kreatif sebagaimana yang dilaksanakan Sumut,” ujarnya.

Sebelumnya Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprovsu, Sabrina,  mengemukakan, pemerintah mendorong peningkatan industri sawit di Sumut dengan membatasi pembukaan lahan sawit baru. Namun memberikan rekomendasi terhadap perusahaan yang ingin membangun industri hilir. “Kalau mau bangun industri hilir, pemerintah sangat terbuka tapi jika cari lahan, kami tidak merekomendasikan karena lahannya sudah tidak ada lagi,” ucapnya.  

Oleh sebab, kata dia, dengan inovasi baru diharapkan industri hilir lebih berkembang. Bahkan  pengembangan industri sawit ke depannya akan otomatis menekan volume ekspor.  Sebab serapan dalam lokal akan lebih banyak.

Selama ini, kata dia, serapan minyak sawit hanya sekitar 20-30% dari total produksi nasional yang mencapai 23 juta ton. Jika industri hilir berkembang akan bisa menyerap 50-60% yang otomatis akan meningkatkan jumlah produk hilirnya. “Hasil produk ini juga tidak mungkin terserap pasar lokal.  Sehingga pengusaha juga akan membidik pasar luar negeri. Tapi sudah berbeda nilainya dari yang selama ini hanya ekspor yang mentah saja,” sebutnya.   

Lebih lanjut Hafian Tan mengemukakan saat, ini memang menjadi momentum yang tepat untuk mengembangkan industri hilir. Supaya bisa juga mendapatkan nilai tambah di tengah harga minyak sawit yang terus turun. “Di tengah keterbukaan pasar seperti sekarang ini, pemerintah harus gesit mendorong pertumbuhan sektor hilir dengan memudahkan perizinan dan lainnya. Dengan begitu harga bisa dipertahankan tapi kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi,” ucapnya.(A16/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru