Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 30 Agustus 2026

Anggur Karo Mulai Langka, Dijual Rp100 Ribu/Kg

* Simalem Resort Budidayakan Biwa Seluas 5 Ha
- Kamis, 28 Agustus 2014 11:53 WIB
2.141 view
 Anggur Karo Mulai Langka, Dijual Rp100 Ribu/Kg
Seorang pekerja sedang memerik buah biwa yang sudah matang di Taman Simalem Resort, Karo, Biwa yang juga dikenal dengan anama Anggur Karo merupakan buah yang mulai langka, dijual Rp 100.000/kg
Medan (SIB)- Buah biwa mengandung kadar vitamin C yang sangat tinggi dan sangat berguna bagi kesehatan. Namun buah tersebut kini sangat jarang ditemukan. Biwa hanya bisa hidup di daerah dataran tinggi dan budidayanya sangat jarang. Hal itu membuat buah biwa langka, kalaupun ada harganya cukup mahal berkisar Rp 100.000 per kilogram.

Biwa atau disebut juga anggur Karo ternyata tidak menjadi perhatian petani di Sumatera Utara  utamanya petani yang berada di dataran tinggi, seperti Kabupaten Karo. Harga yang sangat menggiurkan tidak mampu mendorong petani untuk mengembangkannya. Kalaupun ada hanya sebatas tanaman pagar atau pembatas antara ladang petani dengan petani lainnya. Itu juga tumbuhnya secara liar tanpa disengaja.

“Kalau untuk dibudidayakan sudah ada di sekitaran Berastagi dan Merek tetapi dalam partai kecil. Kecuali di Merek budidayanya dilakukan oleh Taman Simalem Resort,” kata Kepala Kebun Percobaan Hortikultura Berastagi, Edison Bangun, Minggu (24/8) di Tongkoh, Karo.

Edison mengatakan, ketidaktertarikan petani dikarenakan umur produksi yang relatif lama, berkisar antara 3,5 - 5 tahun. Dan, itu ditambah dengan produksinya yang tidak terlalu banyak kecuali budidayanya dilakukan secara intensif.

“Kalau budidayanya dilakukan secara intensif dalam artian pemupukan diperhatikan begitu juga dengan pengendalian hama dan penyakitnya produksi tanaman biwa bisa mencapai 40–50 kg per pohon per tahun dengan umur tanaman sekitar 5 tahun. Tetapi, kalau perawatan tidak dilakukan produksi yang bisa dicapai hanya berkisar 25–30 kg per pohon per tahun dengan umur tanaman 5 tahun,” jelas Edison.

Sementara dari segi harga menurut Edison sangat bagus antara Rp 80.000–Rp 100.000 per kg. “Itu masih dari  buah saja belum lagi dari pengolahan daun biwa menjadi teh. Di mana khasiat teh sama dengan khasiat buah biwa,” kata Edison.

Sejauh ini kata Edison, dalam perbanyakan tanaman, Kebun Percobaan Hortikultura Berastagi melakukannya dengan dua cara, yakni melalui biji dan sambung/cangkok. Kedua cara ini memiliki keuntungan yang berbeda.

Terluas di Asia Tenggara

Permintaan konsumen  terhadap buah biwa cukup tinggi, namun  belum mampu dipenuhi produsen.

“Produksinya masih sangat sedikit,” kata Supervisor Agro Biwa dan Markisa Taman Simalem Resort Antoni Sembiring, kepada wartawan di kebun biwa Taman Simalem Resort, di Merek Kabupaten Karo belum lama ini.

Menurut Antoni yang didampingi Supervisor Agro Reslina Limbong di Taman Simalem ada sekitar 5 hektare tanaman biwa yang dibudidayakan dengan jarak tanam 5 x 5 meter per segi. Namun, tanaman yang sudah menghasilkan masih berkisar 500 batang dan yang belum menghasilkan sekitar 1.500 batang.

“Dilihat dari luasannya, pengembangan biwa di Taman Simalem bisa dikatakan terluas di Indonesia bahkan di Asia Tenggara,” kata Antoni.

Namun, kata dia lagi, sejauh ini produksi yang dihasilkan masih sangat sedikit, saat ini rata-rata per pohon berkisar 2 kg dengan umur tanaman antara 7 – 10 tahun.

Rendahnya produksi biwa ini menurut Antoni dikarenakan tanah yang digunakan untuk pengembangan biwa ini termasuk tanah gersang karena itu harus ditambah pupuk dengan jumlah yang banyak. “Pupuk yang kami gunakan adalah pupuk organik, sehingga perkembangannya agak lambat. Di samping itu serangan hama dan penyakit juga sangat tinggi sehingga mengganggu produksi biwa,” katanya.

Menurut Antoni, tanaman biwa yang dikembangkan di Taman Simalem ini berasal dari bibit yang diproduksi oleh Kebun Percobaan Hortikultura Berastagi dengan cara biji. Tetapi, sebagian lagi dengan sistem sambung.

Terhadap pemasaran buah biwa yang dihasilkan, Antoni mengatakan, sejauh ini masih untuk kebutuhan tamu-tamu Taman Simalem Resort yang dijual, dengan harga Rp 100.000 per kg.

Memang kata dia, permintaan buah biwa sangat tinggi, namun pihaknya belum mampu memenuhinya karena rendahnya produksi yang dihasilkan.

“Kita berharap petani di sekitaran Simalem/Merek maupun di Kabupaten Karo bisa mengembangkan tanaman biwa sehingga produksinya bisa ditingkatkan lagi. Dan, yang paling penting, kelangsungan tanaman ini tetap terjaga dalam arti tidak punah mengingat manfaat yang dihasilkan tanaman ini sangat banyak dari buahnya maupun daunnya,” kata Antoni.

Dalam hal pemupukan, dikatakan, semua tanaman pertanian yang mereka kembangkan menggunakan pupuk organik yang diolah sendiri dari kotoran sapi serta pupuk organik cair yang dibuat dari bahan dasar daun kirinyu. (R5/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
‎Cuan Manis Bisnis Daster

‎Cuan Manis Bisnis Daster

Medan(harianSIB.com)Tren pakaian rumahan terus berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin pintar memadu padankan pak