Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 30 Agustus 2026

Gara-gara Impor Turun, Neraca Perdagangan RI Surplus

*Dampak Pembatasan Subsidi BBM Pengaruhi Inflasi Agustus
- Selasa, 02 September 2014 19:06 WIB
413 view
Jakarta (SIB)- Setelah defisit US$ 305,1 juta pada Juni, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 123,7 juta pada Juli 2014. Ekspor maupun impor sama-sama turun, tetapi impor turun lebih dalam.

"Sebenarnya dari ekspor maupun impor sama-sama turun. Tapi impor turun lebih dalam dibanding ekspor," ujar Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), kala jumpa pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (1/9).

Pada Juli 2014, nilai ekspor Indonesia tercatat US$ 14,18 miliar. Turun 6,03% (year-on-year/yoy) dan 7,99% (month-to-month/mtm).

Ekspor migas Juli tercatat US$ 2,55 miliar, turun 8,59% dibanding Juni. Sementara ekspor non migas adalah US$ 11,63 miliar, turun 7,86%.

"Ini merupakan dampak dari libur lebaran yang membuat banyak pegawai yang libur dan aktivitas pabrik banyak tutup. Tentu mempengaruhi aktivitas ekspor," kata Suryamin.

Akumulasi ekspor Januari-Juli 2014 adalah US$ 103 miliar, turun 2,97% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara akumulasi ekspor non migas adalah US$ 84,77 miliar, turun 3,17%.

Ekspor non migas Januari-Juli 2014 masih didominasi oleh bahan bakar mineral (khususnya batu bara) sebesar US$ 12,88 miliar. Kemudian disusul lemak dan minyak hewan/nabati (khususnya minyak sawit mentah/CPO) sebesar US$ 12,18 miliar.

Pangsa pasar ekspor non migas Januari-Juli 2014 juga masih didominasi Tiongkok, yang mencapai US$ 10,16 miliar. Kemudian disusul Amerika Serikat (AS) US$ 9,20 miliar, Jepang US$ 8,22 miliar, ASEAN US$ 16,74 miliar, dan Uni Eropa US$ 9,73 miliar.

Sedangkan impor pada Juli tercatat US$ 14,05 miliar. Turun 19,31% secara yoy dan 10,47% secara mtm.

Impor migas Juli adalah US$ 4,16 miliar, naik 22,46% dibandingkan Juni. Sementara impor non migas turun 19,55% menjadi US$ 9,90 miliar.

Akumulasi impor Januari-Juli 2014 adalah US$ 104,01 miliar atau turun 6,99%. Impor non migas tercatat US$ 78,06 miliar, turun 8,79%.

Impor non migas Januari-Juli 2014 terbesar adalah untuk mesin dan peralatan mekanik US$ 14,95 miliar serta mesin dan perlatan listrik US$ 10,09 miliar.

Pangsa pasar impor non migas terbesar masih ditempati Tiongkok dengan US$ 17,30 miliar. Lalu disusul Jepang US$ 9,99 miliar, Singapura US$ 6,03 miliar, ASEAN US$ 17,5 miliar, dan Uni Eropa US$ 7,36 miliar.

DAMPAK PENGARUHI INFLASI AGUSTUS

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai dampak pembatasan subdisi bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah mempengaruhi laju inflasi pada Agustus 2014 yang mencapai 0,47 persen (mom).

"Memang ada beberapa dampak dari pembatasan subsidi BBM. Di minggu ketiga itu kelihatan ada beberapa dampaknya yang memang lebih tinggi," ujar Perry usai rapat dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Senin.

Perry menuturkan, hingga minggu ke dua survei pemantauan harga menunjukkan laju inflasi mencapai 0,2 persen. Namun ternyata di minggu ketiga dan keempat terdapat kenaikan harga khususnya tarif angkutan dan harga ikan yang cukup tinggi.

Akan tetapi inflasi pada Agustus 2014 relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Agustus 10 tahun terakhir.

"Secara keseluruhan kalau kita lihat infasi Agustus itu sebenarnya masih lebih rendah dari rata-rata historis sekitar 5,7 persen (yoy)," kata Perry.

Perry meyakini, laju inflasi sepanjang 2014 masih akan tetap terkendali. Berdasarkan siklus, pada September dan Oktober mendatang, inflasi relatif lebih rendah namun akan kembali meninggi pada November dan Desember.

"Jadi kita masih mempunyai konklusi bahwa inflasi baik month on month (bulan ke bulan) atau year on year (tahun ke tahun) masih tetap terkendali. Seasolility-nya (musimannya) seperti itu sehingga kami konfiden akhir tahun bisa 5,3 persen (yoy)," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Agustus 2014 mencapai 0,47 persen atau lebih rendah dari inflasi Agustus tahun lalu yang tercatat 1,12 persen.

Dengan demikian, laju inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2014 telah mencapai 3,42 persen dan secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 3,99 persen.

Menurut BPS, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang terlihat dari naiknya indeks beberapa pengeluaran, antara lain dari kelompok bahan makanan (0,36 persen); makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,52 persen); serta perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,73 persen).

Kenaikan indeks juga terjadi pada kelompok pengeluaran sandang (0,23 persen); kesehatan (0,33 persen); serta pendidikan, rekreasi dan olahraga (1,58 persen). Sementara kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan menunjukkan penurunan indeks 0,12 persen. (detikfinance/Ant/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
‎Cuan Manis Bisnis Daster

‎Cuan Manis Bisnis Daster

Medan(harianSIB.com)Tren pakaian rumahan terus berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin pintar memadu padankan pak