Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 30 Agustus 2026

OJK Berharap Minat Masyarakat Investasi di Pasar Modal Meningkat, Tapi Jangan Pakai Uang Belanja

- Senin, 03 November 2014 19:54 WIB
632 view
Medan(SIB)- Berinvestasi di pasar modal memang membutuhkan dana khusus akan tetapi  jangan   menggunakan uang belanja rumah karena akan mengganggu ekonomi keluarga. Hal itu dikatakan Junaidi, Kepala Bagian  Pengawasan Transaksi Efek 1 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada wartawan di Medan, Kamis (30/10).

Ia menjelaskan, literasi pasar modal di Indonesia terendah yakni 2,32% dibanding Lembaga Jasa Keuangan (LJK) lainnya. Perbankan 37,22%, jasa asuransi 22,52 %, Pegadaian 20,41 %, lembaga pembiayaan 10,44. % dan dana pensiun 7,10 %.

"Minat masyarakat berinvestasi di pasar modal masih sangat rendah. Jangan menggunakan uang belanja. Penuhi dulu kebutuhan primer, sekunder keluarga baru berinvestasi,” ujarnya.

Kalau di  negara-negara maju   seperti  Malaysia, literasinya sudah tinggi mencapai lebih 3 %. Untuk Indonesia saat ini, jumlah investor saja baru sekira 350.000, masih rendah dibanding jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa.  Investor terbesar berada di Jawa hampir sebesar 27 %  karena di sana tingkat pendidikan dan ekonomi  sudah tinggi dibanding luar Jawa.

Untuk  emiten (perusahaan  yang tercatat) di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebut Junaidi  saat ini jumlahnya 505 perusahaan, jumlah perusahaan yang listing di bursa tahun 2014 sebanyak 17, sedangkan yang delisting tidak ada.

Nilai kapitalisasi di pasar modal pada  posisi  17 Oktober mencapai Rp5.013 triliun, meningkat Rp794 miliar atau tumbuh 18,81 %  dibanding posisi 30 Desember 2013 sebesar Rp4.219 triliun.

Masih sedikitnya jumlah perusahaan yang masuk bursa (emiten) itu  di antaranya karena konsekuensinya perusahaan itu harus transparan ke publik. Jadi banyak perusahaan yang masih ada boroknya tidak mau masuk pasar modal. Sebab  perusahaan emiten di pasar modal harus benar-benar sehat.

"Inilah salahs atu alasannya sehingga masih sedikit perusahaan yang masuk bursa," jelasnya sambil menyebutkan kemampuan keuangan masyarakat  Indonesia cukup tinggi untuk berinvestasi di pasar modal.

Dari data penabung disebut banyak orang kaya, namun mereka kebanyakan masih   bermain di perbankan (tabungan dan deposito). "Sekarang tugas OJK bagaimana bisa mengarahkan investor maupun emiten untuk bermain di bursa," katanya.

Data di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), tambahnya, pemilik efek terbesar adalah asing mencapai  60  % lebih, namun transaksi harian kebanyakan lokal. Sedangkan asing  kepemilikannya dalam jangka panjang.

MEA 2015
Junaidi menyebut persiapan OJK  dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yakni meningkatkan jumlah investor lokal di pasar modal dengan persyaratan yang tidak terlalu rumit seperti cukup dengan persyaratan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Selain itu OJK berupaya meningkatkan investor dalam negeri, memperkecil lot dari 500 ke 100 lot saja sehingga kemampuan masyarakat membeli saham cukup besar. (A3/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
‎Cuan Manis Bisnis Daster

‎Cuan Manis Bisnis Daster

Medan(harianSIB.com)Tren pakaian rumahan terus berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin pintar memadu padankan pak