Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 30 Agustus 2026

Impor BBM Tinggi, Neraca Perdagangan RI Kembali Tekor

- Selasa, 04 November 2014 18:45 WIB
330 view
Jakarta (SIB)- Neraca perdagangan Indonesia masih mengalami defisit pada September 2014. Ekspor memang meningkat, tetapi tidak mampu menyamai peningkatan impor.

Suryamin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), mengatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit US$ 270,3 juta pada September 2014.

"Ekspor September adalah US$ 15,28 miliar, sementara impor US$ 15,55 miliar," katanya dalam jumpa pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (3/11).

Defisit ini, tambah Suryamin, adalah yang ke-5 selama 2014. Namun, dia menyebutkan defisit neraca perdagangan terus berkurang.

"Januari US$ 443,9 juta, April US$ 1,69 miliar, Juni US$ 228,3 juta, Agustus US$ 311,5 juta, September menurun jadi US$ 270,3 juta. Mudah-mudahan akan menghilang," paparnya.

Penyumbang defisit perdagangan, kata Suryamin, adalah sektor migas. Total defisit migas adalah US$ 1,03 miliar, terdiri dari minyak mentah surplus US$ 179,5 juta, hasil minyak (termasuk BBM) defisit US$ 2,21 miliar, dan gas surplus US$ 1 miliar. Neraca non migas masih surplus US$ 758,7 juta.

"Januari-September, neraca perdagangan defisit US$ 1,668 miliar. Sumbangan dari migas yang defisit US$ 9,62 miliar," sebut Suryamin.

Sementara total ekspor sepanjang Januari-September 2014 adalah US$ 132,71 miliar. Turun 0,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor non migas Januari-September 2014 adalah US$ 109,3 miliar, juga turun 0,81%. Ekspor masih didominasi bahan bakar mineral (US$ 16,2 miliar) dan lemak dan minyak hewan/nabati (US$ 15,44 miliar).

Pangsa pasar ekspor non migas Januari-September 2014 masih didominasi 3 negara besar yaitu Amerika Serikat (US$ 11,87 miliar), Tiongkok (US$ 12,58 miliar), dan Jepang (US$ 10,71 miliar). Sementara impor September 2014 yang sebesar US$ 15,55 miliar naik 0,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Total impor Januari-September 2014 tercatat US$ 134,37 miliar. Turun 4,26% dibandingkan periode yang sama pada 2013.

Impor non migas Januari-September 2014 adalah US$ 101,35 miliar. Turun 5,03% secara tahunan.

Sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, perusahaan migas asal Rusia telah menawarkan untuk memasok minyak mentah ke Indonesia. "Tadi malam, kita dapat telepon dari rekan yang punya kontak dengan Rusia. Mereka menawarkan crude-nya," katanya dalam acara bincang-bincang di satu radio di Jakarta, Sabtu (1/11).

Menurut dia, tawaran tersebut sesuai rencana pemerintah ke depan yang akan lebih mencari minyak mentah dan BBM secara langsung dari sumbernya atau tanpa melalui perantara (trader dan broker).

Sebelumnya, pada Jumat (31/10), BUMN migas asal Angola, Sonangol telah menandatangani kesepakatan memasok crude dengan PT Pertamina (Persero).

Saat ini, produksi minyak mentah Angola mencapai dua juta barel per hari, dengan tingkat konsumsi hanya satu juta barel per hari. "Kalau Angola bisa masok 100.000 barel per hari saja ke Indonesia, maka sudah mengurangi 25 persen impor," kata Sudirman.

Menurut dia, sebenarnya, banyak produsen minyak dan BBM global berkeinginan memasok secara langsung ke Indonesia. "Kita adalah market yang luar biasa," katanya.

Saat ini, kilang yang ada hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan premium nasional, sementara solar 70 persen.

Artinya, Indonesia masih mengimpor 70 persen kebutuhan premium nasional dan solar mencapai 30 persen. Total impor kedua produk tersebut mencapai 13 juta kiloliter per tahun.

Kebutuhan impor tersebut bakal terus meningkat mengingat pertumbuhan pemakaian BBM mencapai 8-9 persen per tahun. (detikfinance/Kompas.com/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
‎Cuan Manis Bisnis Daster

‎Cuan Manis Bisnis Daster

Medan(harianSIB.com)Tren pakaian rumahan terus berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin pintar memadu padankan pak