Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Budidaya Tanaman Paprika di Bandung Barat Bisa Jadi Sentra Produksi Terluas di Indonesia

- Selasa, 04 Maret 2014 17:01 WIB
2.911 view
Budidaya Tanaman Paprika di Bandung Barat Bisa Jadi Sentra Produksi Terluas di Indonesia
BUDIDAYA tanaman paprika bagi masyarakat  Desa  Pasirlangau Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung  Barat menjadi salah satu penghasil utama dan tumpuan harapan masyarakat.  Desa Pasirlangau Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat terletak di ketinggian 1.000-1.500 meter dari permukaan laut, sekarang menjadi  salah satu sentra produksi paprika terluas di Indonesia.

Budidaya paprika di Pasirlangau telah dimulai tahun 1994, pada saat ini luas rumah plastik (GH) untuk budidaya paprika mencapai 70 Ha secara nasional dan 70 persen dari luas tanaman paprika terletak di Pasirlangau, serta 8 Ha di antaranya  milik anggota koperasi petani Mitra Sukamaju.

Kelompok  tani Sukamaju yang beranggotakan 11 orang memulai budidaya paprika di dalam rumah plastik dengan sistem hidroponik berdiri pada tanggal 4 September 1994. Namun pada tanggal 13 April 1999 berubah berbadan hukum menjadi koperasi dengan jumlah anggota 80 orang , berhasil  meraup omset penjualan per tahun Rp 2.5 miliar hingga Rp 3.5 miliar.

Menurut Ketua Koperasi  Mitra Sukamaju Dindin Cepi Cahyadi  SS kepada SIB, saat ditemui didampingi Head Unit Kemitraan dan KUR Agus Rio Gusmanto, Didit Aditya dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan Pematangsiantar, Ka Tim Hari Baskoro   belum lama ini di Cisarua, Bandung Barat, paprika adalah sejenis sayuran buah termasuk golongan cabe, tetapi tidak berasa pedas, namun rasanya agak manis. Oleh sebab itu ada juga yang menyebutnya sweet paper atau cabe manis. Habitat aslinya di daerah subtropis dan di Indonesia bisa tumbuh dengan baik pada  lahan dengan ketinggian 1.000 meter di permukaan laut atau lebih.

Buah muda umumnya berwarna hijau sedangkan yang matang beraneka warna, ada yang merah dan orange tergantung varietasnya. Bentuk buah umumnya agak bulat atau blocky dengan berat 100-300 gram. Buah paprika menurut Dindin mengandung sedikit  protein, lemak dan gula, namun juga mengandung banyak karoten dan sebagai sumber vitamin (sampai 340mg/100 gram buah segar), jika dibandingkan dengan  buah jeruk yang mengandung vitamin C (sekitar 146 mg/199 gram) maka kandungan vitamin C pada buah paprika jauh lebih tinggi daripada jeruk (Morgan dan Lennard, 2000).

Menyinggung kebutuhan paprika di dalam negeri saat ini, menurut Dindin terutama untuk memenuhi permintaan restoran-restoran bertaraf internasional, hotel-hotel, supermarket dan perusahaan catering di kota-kota besar. Tingkat konsumsi dalam negeri tidak diketahui secara pasti besarnya. Namun jika diukur dari kapasitas produksi yang ada dapat diperkirakan konsumsi dalam negeri bisa mencapai 70-100 ton per bulan. Kebutuhan ini dapat dipenuhi oleh petani yang ada di Desa Pasirlangau dan petai-petani paprika dari daerah lain.

Berdasarkan permintaan dari kalangan eksportir kepada Koperasi Mitra Sukamaju besarnya permintaan  sebanyak 100 ton per bulan. Sampai saat ini pihaknya baru bisa memenuhi permintaan untuk pasar ekspor ke Singapura hanya sekitar 15-20 persen. Untuk itulah Koperasi  Mitra Sukamaju  menargetkan peningkatan markershare sebesar 20 persen untuk pasar ekspor ke Singapura. Untuk mencapai target tersebut pihaknya akan menambah anggota baru dan perluasan kebun (rumah plastik) dari anggota yang sudah ada.

Paprika yang dihasilkan anggota Koperasi Mitra Sukamaju sudah bisa memenuhi standar Food Regulation negara tujuan ekspor (Singapura). Untuk itulah salah satu segmen pasar yang dibidik pihaknya lanjut Dindin adalah pasar ekspor sebesar 40 persen dan sisanya 60 persen untuk pasar domestik. Serta ditargetkan peningkatan untuk memenuhi pasar ekspor menjadi 50 persen. Kelebihan dari pasar ekspor antara lain harga relatif stabil dan volume permintaan besar sehingga efisien dalam pendistribusian, sedangkan kelemahan pasar ekspor dibandingkan dengan pasar domestik adalah syarat kualitas yang sangat  ketat, berupa tampilan fisik produk yang harus bagus, kandungan nutrisi, kadar maksimum residu pestisida dan lainnya.

Menyinggung modal usaha menurut Dindin pihaknya dibantu oleh Kantor Cabang  Bank Tabungan Negara  (BTN) Bandung, dan menjadi mitra binaan Bank Indonesia Bandung. Menurut Agus Rio Gusmanto, pihaknya telah memberikan kredit kepada Koperasi Mitra Sukamaju, pada April 2010 sebanyak 2 miliar, dan pembayaran kredit lancar. Untuk itulah pihaknya tetap menjalin hubungan kemitraan dengan koperasi. Serta BTN Kantor Cabang Bandung di tahun 2013 lalu telah menyalurkan kredit sebesar Rp 58 miliar. (Meily Saragih/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru