Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 06 Juli 2026

Pramono Anung: Istana Kepresidenan Diincar Teroris

- Rabu, 14 Desember 2016 10:12 WIB
374 view
Jakarta (SIB)- Sekretaris Kabinet Pramono Anung memastikan bahwa Istana Kepresidenan memang bemar diincar oleh empat teroris Bekasi yang telah ditangkap oleh tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror.

Hal itu sekaligus mengklarifikasi pernyataan Mabes Polri sebelumnya, yang menyebutkan informasi ihwal Istana Kepresidenan menjadi target teroris, masih simpang siur. "Ancaman teror itu benar ke Istana dan kami percaya laporan Kapolri," ujar Pramono saat ditemui di Istana Kepresidenan, Selasa (13/12).

Diberitakan sebelumnya, pada Sabtu (10/12) lalu, Densus 88 Anti Teror berhasil menangkap empat orang di sebuah rumah kost di Bekasi. Mereka berinisial MNS, S, AS, dan DYN. Dikabarkan DYN akan melakukan serangan bom bunuh diri di Istana Kepresidenan.

Bom itu akan diledakkan di depan Istana Kepresidenan saat pergantian jaga Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) pada Ahad lalu. Namun, Kepala Bagian Penerangan Umum Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Komisaris Besar Awi Setiyono mengatakan, hal itu belum pasti. Baru berupa isu yang beredar.

Menurut Pramono, ancaman bom yang direncanakan diledakkan di depan Istana Kepresidenan dibenarkan oleh Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian pada Minggu (11/12) malam, sebelum Presiden Joko Widodo bertolak ke India dan Iran selama empat hari.

Pramono mengatakan, Kapolri Tito melaporkan langsung hal itu kepada Presiden Jokowi. "Kapolri juga memastikan bahwa keamanan akan tetap terjaga selama Presiden berada di India dan Iran," ujarnya.

Pengamanan Istana Ditambah?
Pramono Anung memastikan tidak akan ada perubahan dalam hal pengamanan Istana Kepresidenan pasca ancaman teror bom. Hal itu termasuk tidak adanya penambahan personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Joko Widodo di ring satu Istana Kepresidenan.

"Tidak ada penambahan keamanan khusus di lingkaran Istana Kepresidenan," ujar Pramono.

Pramono menjelaskan, penambahan pengamanan di lingkaran dalam Istana Kepresidenan tidak dilakukan karena pemerintah percaya pihak Kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dapat mencegah terjadinya teror. Dengan tidak menambah keamanan, pemerintah ingin menunjukkan bahwa kepercayaan itu nyata.

"Beri kepercayaan kepada Polri, Densus 88, BNPT bahwa mereka bisa menangani terorisme atau radikalisme dengan baik," ujar Pramono menegaskan.
Ditanya apakah ancaman teror itu tidak akan berpengaruh terhadap proses pergantian jaga, Pramono juga menjawab iya. Sebab, proses pergantian jaga adalah momen di mana masyarakat bisa dekat dengan Istana Kepresidenan. "Tapi kewaspadaan pasti akan ada (pasca ancaman teror)," ujar Pramono. (T/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru