Jakarta (SIB)- Hasil survei LIPI menunjukkan bahwa dari 15 parpol peserta Pemilu 2019 hanya 6 parpol yang elektabilitasnya di atas ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold-PT) sebesar 4%. Ke-6 parpol itu, PDIP, Golkar, Gerindra, PKB, PPP dan PD. Sementara 9 parpol lagi di bawah ambang batas, yaitu PKS, Perindo, PAN, NasDem, Hanura, PBB, Partai Garuda, PSI dan Partai Berkarya.
Atas hasil survei tersebut sejumlah Parpol tetap optimis dapat lolos ke parlemen pada Pemilu 2019 mendatang. Berikut tanggapan sejumlah parpol yang elektabilitasnya di bawah ambang batas.
Hanura
Partai Hanura terancam tak lolos ke DPR berdasarkan hasil survei LIPI. Hanura menanggapi santai hasil survei itu.
"Dari dulu juga Hanura gagal di survei, tapi lolos dalam pemilihan," kata Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah saat dikonfirmasi, Jumat (20/7).
Inas berkaca dari pengalaman Pemilu 2009 dan 2014. Saat itu sejumlah lembaga survei menempatkan elektabilitas Hanura di bawah ambang batas parlemen. Untuk Pemilu 2019, ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) sebesar 4%.
"Tahun 2009 hasil survei nggak lebih dari 1,5% dan tahun 2014 nggak lebih dari 2%," sebutnya.
Dia pun yakin Hanura bisa kembali melenggang ke Senayan. Sebab berdasarkan hasil survei di kalangan internal, kata Inas, elektabilitas Hanura sudah mendekati ambang batas parlemen.
"Hasil survei internal sudah mencapai di atas 3,5%," ujar Inas.
Elektabilitas parpol ini didasari hasil survei LIPI. Survei digelar pada 19 April-5 Mei 2018 dengan melibatkan 2.100 responden. Margin of error (MoE) survei sebesar +/- 2,14 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
PKS
PKS optimistis lolos ke DPR meski mendapat elektabilitas 3,7 persen dari survei LIPI. PKS berpatok pada hasil Pemilu sebelumnya.
"Kami optimis dapat melebihi ambang batas 4%. Tiga kali Pemilu, PKS suaranya 7-8% atau 8 juta suara. Itulah suara captic market PKS," ujar Wasekjen PKS Abdul Hakim, Kamis (19/7).
Untuk lolos ke DPR, setidaknya PKS harus mendapat minimal 4 persen suara nasional. PKS sendiri sudah menargetkan meraih perolehan 10-12 persen di Pemilu 2019.
"Bahkan target renstra (rencana strategis, red) kami 2019 dapat mencapai prosentase di atas 10 persen sampai 12 persen optimis dapat tercapai. Dan Insyaallah didukung kami punya pasangan capres/cawapres," terang Hakim.
Perindo
Perindo terancam tidak lolos ke DPR setelah mendapatkan elektabilitas 2,6 persen dalam survei LIPI. Perindo menghormati hasil survei dan optimistis meraih suara di atas 10 persen pada Pemilu 2019.
"Apa pun hasil survei LIPI, Perindo menghormati dan tentu ini menjadi alarm buat kami untuk terpacu dalam sisa waktu. Perindo optimis dobel digit dapat tercapai pada Pemilu 2019," ujar Sekjen Perindo Ahmad Rofiq, Kamis (19/7).
Untuk lolos ke DPR, minimal parpol harus meraih perolehan suara nasional 4 persen. Untuk menghadapi Pemilu, Perindo siap bersaing dengan parpol lain.
"Partai Perindo sangat siap untuk berkompetisi dengan partai-partai lainnya," terang Rofiq.
PAN
Partai Amanat Nasional (PAN) hanya berhasil meraih angka 2,3% atau di bawah ambang batas parlemen (4%) berdasarkan survei LIPI. PAN menilai hasil survei itu tak tepat dijadikan sebagai referensi.
"Sebetulnya, ini belum sepenuhnya bisa dijadikan sebagai referensi," kata Wasekjen PAN Saleh Daulay kepada wartawan, Jumat (20/7).
Alasannya, survei hanya mengukur popularitas partai. Padahal, popularitas kader dan caleg dari partai merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan.
"Bisa jadi partainya biasa saja, tetapi kader dan calegnya populer. Begitu juga sebaliknya. Sementara, survei hanya bekerja mengukur popularitas partai," sebut Saleh.
Dia pun PAN optimistis bisa kembali melenggang ke Senayan di Pemilu 2019. Saleh menyebut saat ini mesin PAN terbukti bekerja dengan baik.
Saleh mencontohkan kasus pilkada serentak 2018, di mana calon usungan PAN berhasil memperoleh kemenangan di sejumlah wilayah.
"Terbukti pada pilkada yang lalu, calon-calon yang diusung oleh PAN menang lebih dari 58,8 persen. Capaian ini termasuk capaian tertinggi di antara partai-partai yang ada, termasuk partai besar lainnya," tuturnya.
"Mesin partai terbukti sudah bekerja. Tinggal bagaimana memaksimalkannya untuk pemenangan pileg dan pilpres yang akan datang," imbuh Saleh.
NasDem
Survei LIPI menempatkan elektabilitas NasDem di angka 2,1% atau di bawah ambang batas parlemen (4%). Menurut NasDem, hasil tersebut tidak bisa dijadikan rujukan. Mengapa?
"Jadi survei itu bias, tidak akurat, dan keliru interpretasinya kalau menghubungkan hasil survei parpol dengan parliamentary threshold. Korelasinya nggak ada, bias. Jadi kalau 2,1% nggak lolos parliamentary threshold itu keliru. Itu tidak paham apa proses politik," ujar Sekjen NasDem Johnny G Plate saat dihubungi, Kamis (19/7).
Johnny menjelaskan, objek survei untuk Pemilihan Legislatif dibagi dua: parpol dan figur yang jadi caleg. Menurut Johnny, kontribusi figur yang nyaleg berkontribusi lebih besar ketimbang elektabilitas parpol semata.
"Sebagai contoh tahun 2014, NasDem survei 1,6%, tapi hasil Pemilu 6,7%. Dari mana 5% nya? Dari figur," terang Johnny.
Sementara itu, Ketua DPP NasDem Irma Suryani membandingkan hasil Pemilu 2014 di mana NasDem meraih 6,7%. Berkaca dari hal tersebut, Irma menegaskan mesin parpol akan bergerak untuk melenggang ke Senayan.
"Tahun 2014 NasDem belum punya bupati, wali kota, gubernur dan caleg saja sudah bisa dapat 6,7%,
Padahal waktu itu survei juga cuma 2%-an. Bagi kami yang penting kerja, survei hanya untuk menambah motivasi saja," ujar Irma.
PBB
Partai Bulan Bintang (PBB) yakin dapat melenggang ke DPR tahun 2019. PBB justru memastikan banyak parpol lama yang tidak lolos ke DPR.
"PBB yakin melampaui 4 persen, bahkan saya pastikan parpol lama akan banyak yang gagal lolos parliamentary threshold (ambang batas parlemen, red)," ujar Ketua Pemenangan Presiden PBB, Sukmo Harsono, Kamis (19/7).
PBB tidak mempermasalahkan elektabilitas parpol masih 0,7 persen versi survei LIPI. PBB lantas menyinggung penurunan suara parpol-parpol lama seperti PKS, PAN, NasDem, dan Hanura.
"PKS, PAN, NasDem, Hanura, suaranya turun di bawah 3 persen. Pertanyaannya, jika suara mereka turun, sementara suara partai lain tidak naik, maka suara lari ke mana hasil penurunan tersebut? Hal tersebut jadi kata kunci buat PBB. Artinya suara yang turun dari parpol lama adalah suara umat Islam, dan suara itu akan memilih PBB nanti susuai arahan para tokoh tokoh Islam," terang Sukmo.
Partai Garuda
Survei LIPI menempatkan elektabilitas Partai Garuda sebesar 0,2 persen. Partai Garuda punya alasan mesin partai belum berjalan secara maksimal.
"Kan mesin partai belum berjalan maksimal. Ada keterbatasan karena belum masuk masa kampanye dan sosialisasi," ujar Ketua Umum Partai Garuda Ahmad Ridha Sabana, Kamis (19/7).
Partai Garuda merupakan salah satu parpol baru dalam Pemilu 2019. Partai Garuda yakin dapat mengejar ketertinggalan elektabilitas saat masa kampanye.
"Buat kami partai baru pasti kami berstrategi mengejar pada waktunya," terang Ridha.
PSI
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak mempermasalahkan meraih elektabilitas 0,2% dalam survei LIPI. Sebab, PSI mengakui belum bergerak untuk menaikkan popularitas partai.
"Jadi nggak heran kalau kami memang di survei sekarang memang belum kerja meningkatkan popularitas. Setelah ini kami akan fokus ke sana dan lihat lagi bagaimana hasilnya nanti," ujar Ketum PSI Grace Natalie, Kamis (19/7).
PSI punya alasan belum bergerak menaikkan popularitas partai. Pasalnya mereka sebelumnya masih fokus menguatkan infrastruktur partai untuk lolos verifikasi Pemilu 2019.
"Cuma kalau buat kami kemarin itu kita fokus resmi dinyatakan peserta Pemilu kami membuat infrastruktur partai supaya bisa lolos verifikasi dan itu syaratnya maha berat yang ketika itu dikenakan ke partai lama pun mereka nggak sanggup," terang Grace.
Selain itu, faktor keterbatasan SDM partai menjadi alasan berikutnya. Terlebih PSI sempat fokus untuk menjaring legislator.
"Jadi kami fokus kemarin di situ, kami sumber daya terbatas, kami nggak punya media kayak Hary Tanoe di Perindo misalnya, jadi kami fokus membangun infrastruktur. Kemudian fokus juga merekrut legislator. Jadi memang belum allout, belum fokus meningkatkan awareness atau popularitas atau keterkenalan," paparnya.
Partai Berkarya
Elektabilitas Partai Berkarya sebesar 0,2% dalam survei yang digelar LIPI. Meski begitu, Berkarya yakin dapat melenggang ke Senayan di tahun 2019.
"Gimana kalau Partai Berkarya bukan hanya sekedar lolos threshold, tapi bahkan mendapat limpahan suara rakyat dan berhasil merebut 80 kursi DPR-RI?" ujar Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso, Kamis (19/7).
Jika berkaca pada hasil survei, Berkarya harus mengejar ketertinggalan 3,8% sebagai syarat minimal lolos ke DPR. Namun Berkarya memiliki hitung-hitungan tersendiri dan yakin meraih 80 kursi di DPR.
"Setelah dikalkulasi dan dihitung cermat, kami optimis bisa mendapat 57-80 kursi DPR-RI. Partai Berkarya siap diberi mandat rakyat untuk memimpin perolehan di parlemen," tutur Priyo. (detikcom)