Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 26 April 2026

Mantap Jadi Oposisi, PKS Hormati Partai yang Berkeringat Menangkan Jokowi

* Gerindra Hargai PAN dan PKS
Bantors Sihombing - Senin, 14 Oktober 2019 11:22 WIB
193 view
Mantap Jadi Oposisi, PKS Hormati Partai yang Berkeringat Menangkan Jokowi
Jazuli Juwaini
Jakarta (SIB) -Kabar akan merapatnya Gerindra ke pemerintah semakin santer setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Sebagai mantan koalisi pada Pilpres 2019, PKS mengaku tak mempermasalahkan jika Gerindra bergabung ke koalisi Jokowi.

PKS sendiri sudah memantapkan sikap untuk menjadi oposisi. Menurut PKS, akan lebih leluasa dan terhormat untuk berada di luar pemerintahan.

"Berbeda dengan Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mantap bersikap tidak tergoda masuk pemerintahan. PKS akan lebih leluasa, terhormat, bermartabat, dan objektif dalam menawarkan perspektif dan alternatif solusi kebangsaan jika tetap berada di luar pemerintahan. Oleh karena itu, insya Allah PKS komitmen tetap berada di luar pemerintahan," kata Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini dalam keterangannya, Minggu (13/10).

Jazuli menjelaskan, sikap tersebut diambil untuk menghormati parpol-parpol koalisi Jokowi. Sebab, pada Pilpres 2019, mereka telah berkeringat untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin.

"PKS tidak ingin masuk kabinet karena ingin menghormati partai-partai yang berkeringat memenangkan Jokowi-Maruf Amin. PKS ingin memaksimalkan peran parlemen dalam hal check and balances sesuai konstitusi. Lagipula, kami merasa tetap di Pemerintahan Republik Indonesia karena PKS punya kader-kader terbaik yang menjadi gubernur dan bupati/wali kota. Di situ PKS hadir dan memberikan cinta dan pengabdian untuk Indonesia," tuturnya.

Kendati demikian, Jazuli mengingatkan, komunikasi politik tak seharusnya melulu berujung pada bagi-bagi kekuasaan. Dia mengatakan, komunikasi politik haruslah membahas hal yang lebih fundamental yaitu solusi atas permasalahan bangsa yang ada saat ini.

"Komunikasi atau silaturahim antar elit politik tidak lantas harus dimaknai atau dilihat sebagai bagi-bagi kekuasaan. Sehingga pimpinan negara dan elit politik diharapkan bicara solusi-solusi dan optimisme di hadapan rakyat yang menyaksikan pertemuan tersebut," ujar Jazuli.

Hargai
Sementara itu, Gerindra menghargai keputusan dua mantan koalisinya di Pilpres 2019 PAN dan PKS menjadi oposisi.
"Kami menghargai keputusan apapun yang diambil PAN dan PKS. Walaupun BPN sudah dibubarkan, karena Pemilu 2019 sudah usai kami masih menjalin hubungan baik dengan mereka," kata Ketua DPP Partai Gerindra, Habiburokhman kepada wartawan, Minggu.

Habiburokhman mengatakan, pasca Pilpres 2019, partainya menyerahkan sikap politik ke parpol masing-masing. Dia mengungkapkan, meski Gerindra terbuka untuk merapat ke koalisi pemerintah, partainya tak pernah membujuk PAN dan PKS untuk ikut melabuhkan dukungan ke Jokowi.

"Tentu tidak dong karena kami tidak boleh mencampuri urusan dapur partai lain," ujarnya.

Terkait sikap politik Gerindra, Habiburokhman mengatakan akan diumumkan pada Rakernas Gerindra. "Tanggal 17 pas Rakernas. Hari itu Insya Allah semua kumpul, Dewan Pembina, Dewan Pakar, DPP, Perwakilan DPD serta organisasi sayap," tutur Habiburokhman.

Seperti diketahui, kabar merapatnya Gerindra ke koalisi Jokowi semakin menguat. Apalagi, setelah Presiden Jokowi dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto bertemu pada Jumat (11/10) lalu. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas kemungkinan Gerindra untuk merapat.

"Berkaitan dengan koalisi, belum final, tapi kami tadi sudah berbicara banyak kemungkinan Partai Gerindra masuk ke koalisi kita," ujar Jokowi.

Sementara, PAN dan PKS sendiri telah menyatakan menjadi oposisi. PAN mengaku akan menjadi oposisi konstruktif, sementara PKS merasa lebih leluasa dan terhormat untuk berada di luar pemerintahan. (detikcom/f)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru