Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

Kepala BPIP Luruskan Pernyataan soal Hubungan Pancasila dan Agama

Redaksi - Jumat, 14 Februari 2020 10:01 WIB
337 view
Kepala BPIP Luruskan Pernyataan soal Hubungan Pancasila dan Agama
news.detik.com
"Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertingi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin," kata Yudian , Rabu (12/2).
Jakarta (SIB)
Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Profesor Yudian Wahyudi soal hubungan Pancasila dan agama menyulut kontroversi. Kini Yudian memberikan penjelasan bahwa dia tidak bermaksud mempertentangkan Pancasila dan agama.
"Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertingi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin," kata Yudian , Rabu (12/2).

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini menjelaskan Pancasila sendiri bersifat agamis. Nilai yang terkandung dalam tiap sila dengan mudah dapat ditemukan dalam kitab suci enam agama yang diakui Indonesia. Pancasila dan agama punya hubungan yang baik.

"Jadi hubungan antara Pancasila dan agama harus dikelola sebaik mungkin," kata Yudian.
Pernyataan Yudian menuai pro dan kontra, utamanya karena Yudian mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama. Yudian meluruskan pernyataan ini. Maksudnya, musuh Pancasila adalah minoritas yang mengklaim dirinya sebagai mayoritas umat beragama.

"Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrem, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas)," kata Yudian.
"Padahal Pancasila dan agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung," kata Yudian.

Jernihkan
Sementara itu, Pimpinan MPR dari Fraksi PDIP, Ahmad Basarah, membela Yudian dan meluruskan kesalahpahaman yang timbul akibat keterangan Yudian.

"Karena pernyataan tersebut sudah beredar luas di masyarakat dan dikhawatirkan menimbulkan salah paham bahwa Pancasila bertentangan dengan agama, maka menjadi tugas kita bersama menjernihkan kesalahpahaman bahwa Pancasila bertentangan dengan agama. Dalam Pancasila justru terkandung nilai-nilai agama-agama dan Ketuhanan yang hidup di Indonesia," kata Basarah lewat keterangan persnya, Rabu.

Dia mengatakan Pancasila bukan musuh agama. Dia menduga kuat Yudian tidak bermaksud berkata bahwa Pancasila adalah musuh agama. Yang Yudian maksud, menurut Basarah, adalah kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama demi untuk kepentingan sendiri.

"Karena itu, saya tidak sependapat dengan pernyataan baik perorangan maupun kelembagaan bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama," kata Basarah.

Wakil Ketua MPR bidang sosialisasi 4 pilar kebangsaan ini menjelaskan, Pancasila bukan bertentangan dengan agama melainkan justru meneguhkan nilai-nilai agama. Doktor bidang hukum Universitas Diponegoro Semarang ini mengajak semua pihak merujuk ke literatur pemikiran Sukarno. Tak akan ada literatur yang mendukung pemikiran bahwa agama adalah musuh Pancasila.

Sejarahnya, Bung Karno menyintesakan Islam dan nasionalisme. Itu tercatat dalam pembentukan Pancasila ketika atas inisiatif Bung Karno sendiri. Urutannya, Panitia Delapan menjadi Panitia Sembilan yang kemudian melahirkan naskah Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Dari peristiwa pembentukan Panitia Sembilan tersebut terlihat jelas penghormatan Bung Karno terhadap kepentingan golongan Islam dan selalu ingin menjadi jembatan serta menjaga harmoni dan persatuan antara Golongan Islam dan Golongan Kebangsaan.

"Piagam Jakarta itu justru pada awalnya lahir atas inisiatif pribadi Bung Karno membentuk Panitia Sembilan," kata Basarah.
Sejak awal, kalangan agama sudah menyepakati Pancasila. Sila pertama 'Ketuhanan Yang Maha Esa' sangat mencerminkan nasionalisme Indonesia yang religius.

"Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan konsensus final yang disepakati para pendiri bangsa bersama para alim ulama dan tokoh-tokoh agama lainnya serta tokoh-tokoh kebangsaan yang telah bersepakat Pancasila sebagai kalimatunsawa atau titik temu di antara berbagai macam kemajemukan bangsa Indonesia,'' kata Dosen Universitas Islam Malang (Unisma) itu. (detikcom/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru