Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026
Field Trip Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli ke Aek Nauli Parapat

Dr Ahmad Dani Sunandar: Tanaman Kemenyan Belum Ada Sentuhan Teknologi

* Tata Niaga Kemenyan Belum Berpihak pada Petani
Redaksi - Sabtu, 07 Maret 2020 12:01 WIB
237 view
Dr Ahmad Dani Sunandar: Tanaman Kemenyan Belum Ada Sentuhan Teknologi
SIB/Dok
FOTO BERSAMA : Civitas akademik FP UNITA foto bersama staf ahli BPP LHK Dr Ahmad Dani Sunandar dan Aan Hasanudin SHut di BPP LHK Aek Nauli, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sabtu (29/2).
Tapanuli Utara (SIB)
Peneliti Badan Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPP LHK), Dr Ahmad Dani Sunandar, menyampaikan, tanaman kemenyan merupakan tanaman unik dan khas sebab 2.000 tahun yang lalu (masehi) tanaman kemenyan itu sudah
digunakan dan dipersembahkan pada kelahiran Juru Selamat Yesus Kristus, jelas Dr Ahmad dalam presentasinya bertajuk "Potensi Ekonomi Kemenyan" di hadapan Fungsionaris dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA), yang melaksanakan Abdi Masyarakat (Abdimas) dan penelitian di BPP LHK Aek Nauli, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sabtu (29/2).

Hingga 2.000 tahun sampai sekarang, lanjutnya, kemenyan itu masih terus diteliti di kawasan Danau Toba yang meliputi Kabupaten Taput, Toba, Humbahas, Dairi, Pakpak Barat dan lainnya.

Dijelaskannya, luas tanaman kemenyan terbesar yakni di daerah Kabupaten Taput sebanyak 16 ribu hektar kemudian disusul Kabupaten Humbahas sebanyak 5 ribu hektar yang didominasi kemenyan durame dan jenis kemenyan Toba sehingga ia berharap perlu upaya masyarakat untuk melakukan pelestarian yang didukung FP UNITA sebagai pionir untuk sosialisasi kepada masyarakat melalui Abdimas dan penelitian mahasiswa.

Diakhir sesi, Dr Ahmad menuturkan, bahwa tanaman kemenyan belum ada sentuhan teknologi mulai dari budidaya seperti pengadaan bibit dan penataan pola tanam campuran, panen dan paska panen.

"Tata niaga kemenyan yang belum berpihak pada petani karena penentuan harga belum terbuka dan pemerintah belum punya aturan sehingga diharapkan mahasiswa FP UNITA berperan dan turut andil membantu masyarakat dan stakeholder sebab mahasiswa FP banyak dari kalangan yang orangtuanya sebagai petani kemenyan," sebut Dr Ahmad.

Rombongan 100 mahasiswa UNITA itu disambut dengan ramah, dipimpin Rektor UNITA Dr Ir Adriani Siahaan MP yang juga dosen FP dan diterima pihak BPP LHK Kumala didampingi staf.

Dekan FP Ir Rosmalina Sinaga MP dalam sambutannya melalui PD-I FP/Pembantu Rektor (PR-II) Arta Junita Hutahayan SP MSi dalam relis yang diterima SIB, Jumat (6/3) mengemukakan, tujuan mahasiswa mengadakan field trip adalah untuk menambah wawasan mahasiswa di bidang produk olahan kemenyan dan ternak lebah madu dan ke depan akan menjalin kerja sama dengan Balitbang LHK Aek Nauli.

"Intinya, field trip tersebut untuk menambah wawasan pengetahuan mahasiswa tentang tanaman khas Tapanuli yaitu tanaman kemenyan yang secara kebetulan tanaman tersebut juga masuk kurikulum mata kuliah teknologi budidaya tanaman khas Tapanuli," katanya.

Dikatakan, awalnya kegiatan field trip terlaksana setelah pelaksanaan pengabdian masyarakat ke Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput (Abdimas). "Jadi kegiatan ini lanjutan dari kegiatan Abdimas ke LHK dari peneliti untuk lebih mendalami pengelolaan tanaman mulai dari penyediaan bibit, perawatan, pemeliharaan, cara panen dan pengelolaannya sampai pemasarannya," ujarnya.

Selain itu katanya, field trip dilaksanakan sebagai sharing para dosen FP dengan para peneliti di LHK untuk kerjasama di bidang ilmu kehutanan dan penelitian.

Sedangkan persentase kedua dari peneliti LHK Aan Hasanudin SHut bertajuk "Memaksimalkan Produktivitas Kegiatan Perlebahan pada Masyarakat". Disampaikan, budidaya ternak lebah madu memiliki beberapa kelebihan dibanding budidaya ternak lainnya.

Pertama, usaha ternak lebah tidak membutuhkan pakan yang menguras modal dalam pemeliharaan lebah madu. Sebab lebah madu akan mencari makanannya sendiri. "Kita pun tidak direpotkan dengan pemberian pakan yang biasanya terjadwal teratur," imbuhnya.

Kemudian kedua, dalam budidaya lebah madu tidak ada tahap pengawinan dua lebah madu secara sengaja oleh pelaku usaha. "Artinya, lebah madu akan menjalani proses perkawinan alami dengan caranya sendiri sehingga usaha budidaya ternak lebah madu lebih memudahkan," tuturnya.

Selanjutnya ketiga, hasil panen dari usaha budidaya ternak lebah madu sangat menjanjikan sebab harga jual madu per kilogram berkisar Rp 80 - 90 ribu. "Pokoknya, hasil panen dari usaha ini adalah 1 kwintal (100 kilogram) madu sehinggga nilainya bisa mencapai Rp 9 juta an per satu kali masa panen.

Yang pasti katanya, beternak lebah madu sudah lebih mudah, cukup di halaman rumah sudah bisa beternak lebah madu.
Turut hadir dalam kegiatan field trip ini, Dekan FP Ir Rosmalina Sinaga MP, PD-I FP, Pembantu Rektor II Arta Junita Hutahayan SP MSi, PD II FP Ir Saudur Simangunsong MSi, Ketua Jurusan FP Elseria Siburian SP MP, Sekretaris Jurusan Nixson Panjaitan SP MP, Lambok Simatupang SP MP, Ir Roland Siregar MP, Ir Lasminar Siahaan MSi, Theodora Nainggolan SP MSi, pegawai administrasi Mega Sitanggang SE dan seluruh dosen FP.

Di penghujung acara dilanjutkan dengan peninjauan langsung di lapangan didampingi staf ahli BPP LHK dan silahturahmi. (G01/f)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru