Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 Juli 2026

26 Juta Riwayat Browsing Pengguna IndiHome Diduga Bocor

* Telkom Buka Suara: Temuan Itu Hoaks
Redaksi - Senin, 22 Agustus 2022 09:14 WIB
451 view
26 Juta Riwayat Browsing Pengguna IndiHome Diduga Bocor
(ANTARA/HO/Pexels)
Ilustrasi hacker mencoba membobol data di ruang digital.
Jakarta (SIB)
Data pelanggan IndiHome diduga bocor. Dikabarkan, data yang bocor mencapai 26 juta, menampilkan nama dan NIK pelanggan.

Informasi ini diungkap oleh Pengamat Keamanan Siber, Teguh Aprianto, melalui thread di Twitter, Minggu (21/8).

Dia mengungkap, saat ini ada 26 juta browsing history yang dicuri dan dibagikan gratis di forum hacker, beserta dengan nama dan NIK pelanggan.

"Tahun 2020 kemarin kita berhasil menekan @IndiHome untuk mematikan tracker milik mereka yang selama ini digunakan untuk mencuri browsing history milik pelanggan. Sekarang 26 juta browsing history yang dicuri itu bocor dan dibagikan gratis. Ternyata berikut dengan nama dan NIK," tulis Teguh via akun Twitter @secgron.

Dalam utasan itu, dia menilai hal ini bisa mempermalukan seseorang jika browsing history-nya diketahui orang yang tak bertanggung jawab.

"Jika kebetulan ada pelanggan yang ketahuan sedang buka film dewasa, lalu browsing history-nya dicuri serta diidentifikasi nama, jenis kelamin dan juga NIK miliknya dari data pelanggan, ini bisa digunakan untuk mempermalukan seseorang," ujar Teguh.

Sebelumnya, pada September 2020, dalam utasnya di Twitter, Teguh membeberkan kalau IndiHome diam-diam mengambil data browsing history pelanggan IndiHome.

"Berdasarkan website tracker milik mereka, website tersebut sudah mendapatkan hits sebanyak 26,681,371,055 (26,6 Miliar). Tidak diketahui berapa banyak data yang sudah mereka dapatkan," ungkapnya kala itu.[br]





Selidiki
Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang mendalami dugaan data pelanggan IndiHome bocor dan masuk ke situs gelap.

"Sehubungan dengan informasi dugaan kebocoran data pribadi pelanggan Indihome, PT Telkom Indonesia (Persero), Kementerian Kominfo sedang melakukan pendalaman terhadap dugaan insiden tersebut," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, dilansir dari Antara, Minggu (21/8).

Kominfo menyatakan akan segera memanggil manajemen Telkom, selaku perusahaan induk untuk dimintai keterangan soal insiden ini. Kominfo juga akan meminta Telkom memberikan informasi langkah apa yang mereka lakukan untuk menindaklanjuti laporan ini.

"Kementerian Kominfo akan segera mengeluarkan rekomendasi teknis untuk peningkatan pelaksanaan pelindungan data pribadi Telkom dan di saat bersamaan berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)," kata Semuel.

Itu Hoaks
Sementara itu, Perwakilan Telkom Group buka suara soal kabar tersebut.

Senior Vice President Corporate Communication and Investor Relation, Telkom, Ahmad Reza, mengatakan, kabar data-data IndiHome yang diduga bocor tidak valid. Reza mengatakan, pihaknya tetap melakukan pemeriksaan atas data-data tersebut.

"Kami dari pagi sudah dan terus melakukan pengecekan dan investigasi mengenai keabsahan data-data tersebut. Temuan awal data itu hoaks dan tidak valid," kata Reza seperti dilansir Antara News, Minggu (21/8).[br]




Berdasarkan penyelidikan awal, Telkom menyatakan mereka tidak pernah memberikan email untuk pelanggan IndiHome dan bahwa domain alamat mereka adalah @telkom.co.id. Penyelidikan terhadap sekitar 100.000 sampling menunjukkan data NIK tidak cocok.

"Di internal Telkom sendiri, data-data pelanggan sulit diakses mengingat ada enkripsi dan firewall yang berlapis," kata Reza.

Menurut Telkom, jumlah pelanggan IndiHome saat ini ada 8 juta. Peretas mengklaim mengantongi 26 juta histori browsing. Dia menyatakan histori browsing tersebut bukan berasal dari internal Telkom, melainkan dari situs lain.

"Ada kemungkinan data-data histori browsing diretas karena mengakses situs-situs terlarang. Sebaiknya memang kita semua bijak menggunakan akses internet dan waspada terhadap situs-situs terlarang karena bisa saja mengandung malware," kata Reza.

Telkom juga menemukan data sampel berasal dari tahun 2018. (detikcom/d)





Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru