Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 12 Juli 2026

Kebakaran Hutan di Hawaii Paling Mematikan Tewaskan 115 Orang

* 1.100 Orang Masih Hilang
Redaksi - Kamis, 24 Agustus 2023 09:17 WIB
291 view
Kebakaran Hutan di Hawaii Paling Mematikan Tewaskan 115 Orang
Foto: AP/Jae C. Hong via pressdemocrat
PASANG SALIB: Seorang warga, Ethan Meyers (kanan) membawa salib untuk dipasang sebagai penghormatan bagi para korban yang tewas dalam kebakaran hutan di Lahaina, Hawaii, Selasa (22/8). 
Hawaii (SIB)
Sedikitnya 1.100 orang masih hilang, dua minggu setelah kebakaran hutan dahsyat melanda pulau Maui di Hawaii. Kebakaran itu adalah yang paling mematikan yang melanda Amerika Serikat dalam satu abad, merenggut sedikitnya 115 nyawa, menurut angka kematian sementara terbaru.

Kota wisata Lahaina, rumah bagi 12.000 orang, musnah terbakar, dengan ribuan orang hilang muncul dalam daftar yang dikelola oleh berbagai organisasi, termasuk polisi, Palang Merah, dan tempat-tempat penampungan. Dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/8), Biro Investigasi Federal (FBI) sekarang bekerja untuk menyusun dan memverifikasi data, kata Agen Khusus Steven Merrill kepada wartawan pada hari Selasa (22/8) waktu setempat. "Kami merujuk silang semua daftar sehingga kami dapat menentukan siapa sebenarnya yang masih belum ditemukan," kata Merrill.

Hingga Selasa, FBI telah menghitung 1.100 orang hilang, tambahnya, dengan jumlah yang kemungkinan akan bertambah. FBI telah menyiapkan hotline telepon khusus dan telah mendorong kerabat yang hilang untuk menghubungi FBI. "Kami sangat membutuhkan bantuan publik", ujar Merrill, terutama dalam hal mendapatkan informasi tambahan untuk memverifikasi detail mereka yang hilang.

Kepala polisi Maui, John Pelletier mengatakan, pihak berwenang sedang menyempurnakan data dan berharap untuk menerbitkan daftar orang hilang yang diverifikasi "dalam beberapa hari ke depan".

Para agen FBI juga telah mengumpulkan sampel DNA dari keluarga orang hilang yang tidak dapat melakukan perjalanan ke Maui, di mana pun mereka berada. Mengidentifikasi mayat tidak dikenal yang ditemukan di antara abu di Lahaina adalah tugas yang melelahkan. Sejauh ini, baru 27 dari 115 korban tewas yang berhasil diidentifikasi.

Memiliki DNA keluarga orang hilang merupakan langkah penting untuk membuat identifikasi para korban, kata Julie French, wakil presiden ANDE, perusahaan yang bertanggung jawab atas operasi ini. "Hampir tiga perempat jenazah yang telah dites DNA sejauh ini telah menghasilkan hasil DNA yang dapat dicari," katanya.

Tetapi tanpa DNA dari kerabat untuk membandingkan data ini, prosesnya sia-sia. Hanya 104 sampel DNA dari anggota keluarga yang hilang atau meninggal telah dikumpulkan sejauh ini, dan pihak berwenang sangat ingin menghilangkan ketidakpercayaan terhadap proses tersebut. "Profil DNA tidak disimpan oleh FBI atau polisi," kata Jaksa Distrik Maui, Andrew Martin. "Satu-satunya tujuan yang akan digunakan adalah membantu mengidentifikasi yang belum ditemukan," imbuhnya.


Kerugian Ekonomi
Sementara itu, Moody’s RMS memperkirakan kebakaran hutan di Maui, Hawaii telah menyebabkan kerugian ekonomi antara USD 4 miliar (Rp. 61,1 triliun) dan USD 6 miliar (Rp. 91,7 triliun).

Perkiraan tersebut mengamati kerusakan properti dan gangguan bisnis di seluruh aset perumahan, komersial, industri dan infrastruktur.

Melansir CNBC, Rabu (23/8) Moody’s mengukur kerugian dari kebakaran Hawaii melalui penilaian risiko dari perubahan iklim dan bencana alam.

Moody's mengakui, besaran kerugian sebenarnya dari kebakaran hutan itu hampir pasti lebih tinggi daripada perkiraan kerusakan properti.

Perusahaan pemeringkat itu menjelaskan, perkiraan kerugian yang mencapai miliaran dolar belum termasuk dampak kebakaran terhadap produk domestik bruto Hawaii, pengeluaran pemerintah untuk tanggap bencana, atau dampak sosial dari kebakaran tersebut.

Pembangunan kembali bahkan akan memakan biaya karena inflasi menaikkan harga selama proses pemulihan yang panjang. Selain itu, harga barang-barang di Maui juga lebih mahal karena lokasi pulau yang terpencil dan biaya tenaga kerja di industri konstruksi yang tinggi.

Sebagian besar kerugian kemungkinan terkonsentrasi di kota bersejarah Lahaina, di mana kobaran api menghanguskan lebih dari 2.100 hektar properti dan menghancurkan hampir 2.200 bangunan, menurut Moody’s.

Nilai properti yang diasuransikan pada bekas kebakaran di Lahaina dan Kula diperkirakan antara USD 2,5 miliar dan USD 4 miliar.

Asuransi diharapkan dapat menanggung sebagian besar kerusakan, sekitar 75 persen atau lebih, karena kebakaran hutan ditanggung berdasarkan polis yang umum dan Hawaii memiliki tingkat perlindungan asuransi yang tinggi. (AFP/detiknews/Liputan6/r)



Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru