Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 03 Juni 2026

NYTimes Tuntut ChatGPT Dimusnahkan

Studi Ungkap ChatGPT Bakal Bohong Saat Didesak Cari Duit
Redaksi - Minggu, 31 Desember 2023 08:16 WIB
405 view
NYTimes Tuntut ChatGPT Dimusnahkan
Foto : Istimewa
Lindsey Held
Jakarta (SIB)
Kantor berita internasional asal Amerika Serikat (AS), The New York Times (NYTimes) menggugat raksasa teknologi Microsoft dan perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) OpenAI pekan ini.

Gugatan tersebut adalah soal dugaan pelanggaran hak cipta atas artikel-artikel berita milik The New York Times yang dipakai untuk melatih kecerdasan OpenAI, tanpa izin dan tanpa pemberian royalti oleh Microsoft dan OpenAI.

Dalam dokumen gugatan yang dikirimkan ke pengadilan distrik selatan kota New York, AS, NYTimes menyebut bahwa “jutaan” artikel berita milik mereka dipakai untuk melatih mesin pembelajaran bahasa (large language model/LLM).

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dari chatbot ChatGPT dan sejenisnya.

OpenAI sendiri merupakan platform pembuat ChatGPT dan beberapa model serta platform AI lainnya, sedangkan Microsoft merupakan salah satu investor besar dari OpenAI.

Microsoft juga memiliki chatbot lainnya yang bernama Copilot, yang juga ditenagai dengan teknologi ChatGPT.

NYTimes tak menyebut berapa angka kerugian yang mereka alami atas dugaan pelanggaran hak cipta oleh Microsoft dan OpenAI ini.

Namun, mereka mengatakan bahwa tergugat harus bertanggung jawab atas “kerugian dari pelanggaran hukum serta kerusakan aset perusahaan yang nilainya bisa mencapai miliaran dollar AS”.

The New York Times juga meminta pengadilan supaya Microsoft dan OpenAI memusnahkan aneka chatbot (bisa Copilot atau ChatGPT) yang mengambil sumber informasi dari berita-berita yang tayang di NYTimes.

Sebelum gugatan ini dikirimkan ke pengadilan, NYTimes, dalam dokumen gugatan di atas mengaku bahwa pihaknya telah bertemu dan berdiskusi dengan Microsoft dan OpenAI pada April lalu soal pemakaian artikel berita.

Diskusi tersebut mencari solusi atas permasalahan yang bisa terjadi, terutama dari produksi konten di aspek Generative AI, mulai dari hak cipta, royalti, dan berbagai hal lainnya. Namun, diskusi ini disebut tak membuahkan hasil, sehingga NYTimes terpaksa harus melayangkan gugatan ke pengadilan.

Juru bicara OpenAI, Lindsey Held mengatakan, pihaknya sebenarnya terus bekerja sama dengan para penerbit berita terkait pemakaian teknologi AI. Ia juga mengatakan, pihaknya kecewa atas langkah hukum yang dilakukan NYTimes.

“Kami menghormati segala hak cipta dari para penerbit berita, dan kami selama ini terus berkomitmen agar mereka mendapatkan keuntungan dari teknologi AI berdasarkan model bisnis yang ada,” ujar Held, dikutip dari NYTimes, Kamis (28/12).

“Di masa depan, kami berharap kami bisa menemukan cara yang sama-sama menguntungkan untuk berkolaborasi (dengan NYTimes), sama seperti apa yang kami lakukan dengan para penerbit lainnya,” tambah Held.

Microsoft, sebagai salah satu pihak yang digugat NYTimes, menolak untuk berkomentar atas gugatan hak cipta ini.

Belum ada informasi kapan proses pengadilan akan berjalan, dan berapa lama proses tersebut akan berlangsung.

Namun yang jelas, gugatan yang dilakukan NYTimes kemungkinan akan berdampak pada model bisnis dan pemakaian teknologi AI, terutama Generative AI (produksi konten baru dari konten yang sudah ada), di masa depan, terlebih apabila NYTimes menang atas Microsoft dan OpenAI.

Selain itu, gugatan ini, yang diklaim merupakan pertama di AS, juga kemungkinan bisa memicu media lainnya untuk melakukan hal serupa.

Gugatan ini juga bisa membuat kompetitor-kompetitor Microsoft dan OpenAI, seperti Google, Apple, hingga Amazon lebih unggul di aspek AI. Sebab, teknologi Microsoft dan OpenAI sedang “dijegal” oleh NYTimes.

Terkait gugatan ini, NYTimes mengandalkan pengacara dari kantor hukum Susman Godfrey L.L.P. Sebelumnya, perusahaan ini telah mewakili perusahaan pembuat alat voting asal AS, Dominion Voting Systems yang menggugat kantor berita asal AS Fox News atas pencemaran nama baik pada 2021 lalu.

Hasilnya keluar pada April 2023 lalu, di mana Fox News sepakat membayar Dominion Voting Systems 787,5 juta dollar AS (sekitar Rp 12,1 triliun) atas kerugian yang terjadi.

Selain itu, Susman Godfrey L.L.P. juga melayangkan gugatan kelompok (class action suit) dari para penulis buku nonfiksi sekitar bulan lalu kepada Microsoft dan OpenAI.

Sama seperti NYTimes, Microsoft dan OpenAI dianggap menggunakan beragam material dari buku nonfiksi tanpa izin dan royalti untuk kepentingan peningkatan kemampuan chatbot.


Bohong dan Curang
Sementara itu, studi baru menunjukkan AI seperti ChatGPT akan berbuat curang dan menipu saat pengguna menyuruhnya untuk mencari uang. Simak hasil penelitian berikut.

Perilaku menipu ini muncul secara spontan ketika AI diberi petunjuk soal "insider trading", dan kemudian ditugaskan untuk menghasilkan uang bagi institusi yang berkuasa - bahkan tanpa dorongan dari manusia.

"Dalam laporan teknis ini, kami mendemonstrasikan skenario tunggal di mana Large Language Model (LLM) bertindak tidak selaras dan secara strategis menipu penggunanya tanpa diinstruksikan untuk bertindak dengan cara ini," tulis penulis dalam penelitian mereka yang diterbitkan 9 November di server pra-cetak arXiv, mengutip LiveScience, Jumat (29/12).

"Sepengetahuan kami, ini adalah demonstrasi pertama dari perilaku menipu strategis seperti itu dalam sistem AI yang dirancang untuk tidak berbahaya dan jujur," tambahnya.

Dalam studi terbaru ini, para peneliti menggunakan Generative Pre-trained Transformer-4, atau GPT-4 (yang mendukung ChatGPT Plus), untuk berperilaku sebagai sistem AI yang melakukan investasi atas nama lembaga keuangan.

Para peneliti memberi asupan GPT-4 satu set petunjuk berbasis teks untuk menghasilkan lingkungan simulasi.

AI kemudian diberi akses ke alat keuangan untuk menganalisis saham, melakukan perdagangan, merencanakan langkah selanjutnya, dan memberikan pembaruan kepada manajer di perusahaan.

Para peneliti berinteraksi dengan AI melalui antarmuka obrolan, sementara juga mengonfigurasi AI untuk mengungkapkan pemikiran batinnya saat membalas pesan

Untuk setiap perdagangan yang dilakukannya, itu juga memberikan alasan "publik", yang memungkinkan AI berbohong.

Para peneliti menekankan pendekatan mereka dalam tiga langkah. Pertama, mereka mengirimkan surel kepada pedagang saham buatan yang berperan sebagai "manajer," menyampaikan bahwa kinerja perusahaan sedang tidak baik dan memerlukan peningkatan yang signifikan di kuartal mendatang.

Selain itu, mereka melakukan manipulasi permainan agar kecerdasan buatan mencoba, namun gagal, untuk mengidentifikasi perdagangan yang menjanjikan dengan risiko rendah atau menengah.

Terakhir, mereka mengirimkan email dari seorang rekan yang memproyeksikan penurunan kinerja pada kuartal berikutnya. (Kompas.com/CNNI/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru