Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 11 Juni 2026

Ledakan Mematikan di Iran Tewaskan 103 Orang

* AS Bantah Terlibat
Redaksi - Jumat, 05 Januari 2024 09:06 WIB
283 view
Ledakan Mematikan di Iran Tewaskan 103 Orang
(Foto: SNA/AP/Sare Tajalli)
LEDAKAN BOM: Situasi di lokasi meledaknya dua bom di dekat makam Jenderal Qasem Soleimani saat peringatan empat tahun kematiannya di dekat Masjid Saheb Al Zaman, Kota Kerman, Iran selatan, Rabu (3/1). Sedikitnya 103 orang tewas dalam ledakan ini.
Jakarta (SIB)
Pemerintah Amerika Serikat (AS) membantah tuduhan bahwa mereka atau sekutunya, Israel, berada di balik ledakan mematikan di Iran. AS pun mengingatkan agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut setelah dugaan serangan Israel terhadap pemimpin Hamas di Lebanon.
Setidaknya 103 orang tewas di Iran selatan di makam Jenderal Garda Revolusi Qasem Soleimani, ketika para pelayat berkumpul tepat empat tahun setelah dia tewas dalam serangan drone Amerika Serikat.
"Amerika Serikat tidak terlibat dalam hal apa pun, dan anggapan sebaliknya adalah hal yang konyol," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller mengenai serangan yang terjadi pada hari Rabu (3/1) waktu setempat tersebut.
"Kami tidak punya alasan untuk percaya bahwa Israel terlibat dalam ledakan ini," imbuhnya seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (4/1).
"Kami menyampaikan simpati kami kepada para korban dan orang-orang yang mereka cintai yang meninggal dalam ledakan mengerikan ini," katanya.
Dua ledakan bom yang terjadi pada peringatan pembunuhan Soleimani itu terjadi satu hari setelah dugaan serangan Israel yang menewaskan pemimpin nomor dua Hamas, Saleh al-Aruri, di pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, yang merupakan basis gerakan Hizbullah yang didukung Iran.
Seorang pejabat pertahanan AS, yang berbicara kepada AFP tanpa menyebut nama, membenarkan bahwa Israel-lah yang melakukan serangan tersebut.
Miller mengatakan bahwa Aruri adalah "teroris brutal dengan darah warga sipil di tangannya."
Namun dia memperingatkan agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut di wilayah tersebut.
"Tidak ada kepentingan siapa pun-tidak ada kepentingan negara di kawasan ini, tidak ada kepentingan negara mana pun di dunia - untuk melihat konflik ini meningkat lebih jauh dari yang sudah terjadi," ujar Miller.
Namun, Amerika Serikat menolak tekanan yang semakin besar untuk mendukung gencatan senjata di Gaza, dan mengatakan bahwa Israel mempunyai hak untuk mengalahkan Hamas.
Hamas "masih memiliki kekuatan yang signifikan di Gaza," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby.
Israel telah "menargetkan dan berhasil melawan sejumlah pemimpin Hamas, tentu saja di tingkat brigade dan lebih tinggi," kata Kirby.
Para pejabat AS menolak untuk menduga siapa yang melakukan serangan di Iran tersebut.
Soleimani, yang memimpin unit elit Garda Revolusi Iran, juga merupakan musuh keras kelompok ISIS. Soleimani terbunuh empat tahun lalu di bandara Baghdad, Irak dalam serangan yang diperintahkan oleh presiden AS saat itu, Donald Trump menyusul serangan terhadap pasukan AS di negara itu oleh para milisi Syiah yang terkait dengan Iran.



Bom Meledak
Ledakan bom terjadi di peringatan kematian jenderal garda revolusi, Qasem Soleimani di Iran. Sebanyak 103 orang dilaporkan tewas.
Dilansir AFP, Kamis (4/1), pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyalahkan "musuh jahat dan kriminal" atas serangan tersebut. Ia berjanji akan melakukan "respons keras".
Ledakan tersebut terjadi di dekat sebuah pemakaman di Masjid Saheb al-Zaman di Kerman, kampung halaman Soleimani. Ada dua ledakan yang berjarak 15 menit.
Ledakan terjadi di tengah-tengah kerumunan pendukung memperingati kematian Soloeimani saat ditembak pesawat tak berawak AS pada 2020 lalu.
Kantor berita resmi IRNA melaporkan ledakan pertama terjadi sekitar 700 meter dari makam Soleimani sementara ledakan berikutnya berjarak sekitar satu kilometer.
IRNA melaporkan jumlah korban tewas meningkat menjadi 103, sementara televisi pemerintah melaporkan 211 orang terluka, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Sebanyak tiga tenaga medis yang bergegas ke lokasi kejadian setelah ledakan pertama termasuk di antara mereka yang tewas, kata Bulan Sabit Merah Iran.
Presiden Iran Ebrahim Raisi mengutuk serangan tersebut. Kantor berita Tasnim, mengutip sumber yang tak disebutkan, melaporkan "dua tas yang membawa bom meledak" dan "pelakunya... tampaknya meledakkan bom tersebut dengan jarak jauh". (**)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru