Quito (SIB)
Seluruh sipir dan pegawai administrasi yang disandera oleh narapidana di penjara Ekuador telah dibebaskan pada Sabtu (13/1) malam waktu setempat. Kendati demikian, pihak otoritas penjara Ekuador SNAI tidak merinci berapa banyak orang yang telah dibebaskan. Mereka hanya mengatakan sipir dan para pegawai itu sedang menjalani pemeriksaan kesehatan dan menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas penyanderaan tersebut.
Namun, pada Sabtu, SNAI sempat menyebut ada 133 sipir dan tiga pegawai administrasi masih ditahan setelah sedikitnya 41 orang dibebaskan. Dilansir dari CNN, Minggu (14/1) presiden Ekuador Daniel Noboa menyambut baik hal tersebut dan mengucapkan selamat kepada SNAI, angkatan bersenjata, dan kepolisian nasional atas pembebasan mereka.
Kepolisian Nasional Ekuador sebelumnya mengatakan bahwa orang-orang telah dibebaskan dari penjara di kota Esmeraldas di barat laut Ekuador serta provinsi Tungurahua pada hari Sabtu setelah melalui mediasi oleh gereja Katolik.
Badan tersebut juga melaporkan ada konfrontasi bersenjata di satu penjara di wilayah selatan El Oro antara narapidana dan anggota angkatan bersenjata dan kepolisian.
SNAI melaporkan seorang penjaga penjara dilaporkan tewas dan lainnya terluka di fasilitas tersebut. Penyanderaan di penjara-penjara Ekuador terjadi di tengah gelombang kekerasan yang melanda negara itu, termasuk ledakan dan penculikan polisi.
Dalam insiden lainnya yang terjadi pada pekan ini, pria bertopeng bersenjatakan bahan peledak menyerbu lokasi siaran langsung televisi. Penyiar televisi Jorge Rendon menggambarkan pengambilalihan tersebut sebagai “serangan yang sangat kejam” dan mengatakan dia mengetahui satu orang yang ditembak dan lainnya terluka oleh para penyerang.
"Situasi ini telah menimbulkan ketakutan bagi warga Ekuador dan negara ini 'benar-benar mengalami mimpi buruk'," kata mantan Presiden Rafael Correa dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial.
Ekuador, yang merupakan rumah bagi kepulauan Galapagos dan merupakan negara yang ramah terhadap turis, pernah dikenal sebagai 'pulau damai', yang terletak di antara dua produsen kokain terbesar di dunia, Peru dan Kolombia.
Namun ketidakstabilan telah meningkat di negara Amerika Latin tersebut selama bertahun-tahun. Pemicu langsung dari insiden terbaru ini adalah kaburnya pemimpin geng terkenal, Adolfo 'Fito' Macías, dari penjara di kota Guayaquil, baru-baru ini.
Fito merupakan pemimpin Los Choneros, salah satu geng yang paling ditakuti di Ekuador - terkait dengan perdagangan narkoba maritim ke Meksiko dan Amerika Serikat, yang juga bekerja dengan kartel Sinaloa Meksiko dan Front Oliver Sinisterra di Kolombia, menurut pihak berwenang.
Ia dijatuhi hukuman 34 tahun penjara pada tahun 2011 karena kejahatannya, termasuk perdagangan narkoba dan pembunuhan. Keadaan darurat diumumkan setelah pelariannya.
Pasukan keamanan telah berjuang untuk menghadapi geng-geng penjara di dalam fasilitas yang penuh sesak, di mana para narapidana sering kali mengambil alih cabang-cabang lembaga pemasyarakatan dan menjalankan jaringan kriminal dari balik jeruji besi, menurut pihak berwenang.
Pencarian Fito terus berlanjut. Lebih dari 3.000 petugas polisi dan anggota angkatan bersenjata telah dikerahkan untuk menemukannya. Pihak berwenang belum menentukan waktu dan tanggal pasti dia melarikan diri dari penjara. (CNNI/d)