Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 01 Mei 2026

Militer Thailand dan Kamboja Saling Serang di Perbatasan

Redaksi - Kamis, 24 Juli 2025 13:13 WIB
49 view
Militer Thailand dan Kamboja Saling Serang di Perbatasan
huffingtonpost.com
Ilustrasi tentara.
Hanoi/Bangkok(harianSIB.com)

Ketegangan di perbatasan Kamboja dan Thailand kembali memanas. Bentrokan senjata antara militer kedua negara meletus pada Kamis (24/7/2025) pagi di sekitar wilayah kuil kuno yang disengketakan.

Wilayah tersebut berada di perbatasan Provinsi Surin, Thailand dan Oddar Meanchey, Kamboja.

Konflik lama yang telah berlangsung puluhan tahun itu kembali memicu kekerasan. Kali ini, militer Thailand menyatakan bahwa tiga warga sipil terluka akibat serangan roket dari pihak Kamboja.

Tak lama setelah itu, Thailand membalas dengan meluncurkan serangan udara terhadap dua target militer Kamboja, sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak Angkatan Darat Thailand.

Dalam pernyataannya, Militer Thailand menuding pasukan Kamboja menembakkan dua roket BM-21 ke wilayah permukiman di Distrik Kap Choeng, Surin, yang menyebabkan tiga warga sipil terluka.

"Ini adalah serangan langsung terhadap warga sipil. Kami akan mengambil langkah-langkah tegas sesuai hukum internasional," ujar pihak militer Thailand, dikutip dari kompas.com

Insiden bermula saat pasukan Thailand yang berjaga di kompleks Kuil Ta Muen mendeteksi keberadaan drone Kamboja sekitar pukul 07.35 waktu setempat.

Beberapa saat kemudian, enam prajurit Kamboja bersenjata, termasuk satu yang membawa pelontar granat, mendekati pagar kawat berduri dekat pos Thailand.

Militer Thailand mengeklaim bahwa mereka sudah memberikan peringatan suara, namun sekitar pukul 08.20, tembakan dilepaskan dari pihak Kamboja ke arah posisi mereka.

Sementara itu, selang beberapa saat, Kantor PM Thailand mengumumkan bahwa serangan artileri Kamboja menewaskan warga sipil Thailand.

Kementerian Pertahanan Kamboja memberikan tanggapan keras atas tuduhan tersebut. Mereka menyebut Thailand-lah yang pertama kali melanggar batas wilayah dan menyerang lebih dulu.

Kamboja juga menuding Thailand melakukan "invasi terbuka" dan menyebut tindakan balasan mereka sebagai bentuk pembelaan terhadap kedaulatan nasional.

Dalam eskalasi lanjutan yang terjadi beberapa jam kemudian, Militer Thailand mengumumkan bahwa mereka meluncurkan serangan udara terhadap dua target militer Kamboja.

Belum ada konfirmasi korban jiwa dari pihak Kamboja hingga berita ini diturunkan.

Langkah ini menyusul ketegangan diplomatik yang sudah meningkat sejak Rabu malam, ketika Thailand memutuskan mengusir Duta Besar Kamboja dan menarik pulang diplomatnya dari Phnom Penh.

Kamboja kemudian membalas dengan menurunkan hubungan diplomatik ke level terendah dan mengusir diplomat Thailand.

Pemicunya adalah insiden ledakan ranjau yang melukai lima anggota patroli militer Thailand, salah satunya kehilangan kaki. Thailand menuding ranjau tersebut baru ditanam oleh pasukan Kamboja, klaim yang dibantah keras oleh Phnom Penh.

"Kami menolak keras tuduhan itu. Masih banyak ranjau sisa perang masa lalu yang belum dibersihkan," kata Kementerian Pertahanan Kamboja.

Menyikapi kondisi yang kian tak menentu, Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh mengimbau warganya yang tinggal di Kamboja untuk segera kembali ke tanah air, kecuali memiliki alasan mendesak.

Sementara itu, Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan bahwa situasi ini harus ditangani secara hati-hati.

"Kami berkomitmen melindungi kedaulatan kami dan tetap berpegang pada hukum internasional," ujarnya, dikutip dari Bangkok Post.
Sengketa wilayah di kawasan yang dikenal sebagai "Segitiga Zamrud", yakni tempat bertemunya Thailand, Kamboja, dan Laos tersebut telah berlangsung sejak lama.

Beberapa kompleks candi kuno di wilayah ini menjadi titik sengketa, terutama setelah kawasan tersebut menjadi simbol identitas nasional masing-masing negara.

Ketegangan kali ini terjadi di tengah krisis politik dalam negeri Thailand, di mana Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra saat ini tengah menjalani skorsing karena penyelidikan etika.

Sementara itu, Kamboja di bawah pemerintahan Perdana Menteri Hun Manet atau putra dari Hun Sen baru saja mengumumkan kebijakan wajib militer bagi warga sipil yang akan dimulai tahun depan, menunjukkan langkah antisipasi atas situasi geopolitik yang tak menentu di kawasan. (*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru