Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 21 Agustus 2026

Tambang Emas di Afrika Tengah Runtuh, Tewaskan Lebih dari 100 Orang

Redaksi - Kamis, 20 Agustus 2026 12:33 WIB
276 view
Tambang Emas di Afrika Tengah Runtuh, Tewaskan Lebih dari 100 Orang
ANADOLU AGENCY
Para penambang bekerja di tambang emas di bagian timur Afrika Tengah -

Zamboye(harianSIB.com)

Tambang emas yang berlokasi di dekat Desa Zamboye, Republik Afrika Tengah, runtuh akibat tanah longsor pada Selasa (18/8/2026).

Lokasi tambang emas itu berada sekitar 50 kilometer dari Kota Baboua dan berdekatan dengan perbatasan Afrika Tengah-Kamerun.

Akibat longsor itu, lebih dari 100 orang dilaporkan tewas. Ratusan jenazah itu telah ditemukan di dalam reruntuhan dan dievakuasi.

Seorang penambang di lokasi tersebut, Cedric Mbango, menggambarkan insiden tersebut sebagai "bencana".

"Tanah runtuh total dan menimbun orang-orang. Saat ini, saat saya berbicara dengan Anda, masih ada orang-orang yang tertimbun," kata dia dikutip dari Al Jazeera, Kamis (19/8/2026).

Wakil Gubernur Prefektur Nana-Mambere, Souleymane Bi menyampaikan, pihaknya telah meminta bantuan berbagai pihak dalam merespon peristiwa itu.

"Ini mengerikan … Dan kami meminta bantuan dari berbagai organisasi serta semua orang yang berbaik hati untuk turut membantu," sebutnya.

Diperkirakan, jumlah korban runtuhan tambang emas berpotensi meningkat seiring proses evakuasi yang dilakukan pihak berwenang.

Oleh karena itu, pejabat setempat bernama Laurent Ngon Baba menerangkan bahwa pihaknya belum bisa memastikan jumlah korban total saat ini.

"Pada tahap ini, sulit bagi kami untuk menetapkan jumlah korban resmi," ucap dia.

Seorang pejabat lainnya, Bertrand Be Yangue, mengungkapkan hal senada mengenai jumlah korban.

Menurut Yangue, jumlah korban diperkirakan akan meningkat. Pasalnya, beberapa orang lainnya masih hilang atau terjebak di bawah reruntuhan.

"Menemukan mereka dalam keadaan hidup akan menjadi sebuah keajaiban," ujar dia.

Dilansir dari kompas.com, penyebab tambang emas di Afrika Tengah runtuh itu sedang disediliki.

Media lokal di Republik Afrika Tengah melaporkan bahwa pihak berwenang telah membuka penyelidikan mengenai penyebab peristiwa yang sebabkan lebih dari 100 orang meninggal.

Sementara itu, seorang jaksa penuntut umum di Baboua mengatakan bahwa penyebabnya diduga karena runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah tempat para penambang sedang bekerja.

Penambangan artisanal yang membutuhkan padat karya seperti itu, merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak rumah tangga di wilayah tersebut.

Namun, kondisi kerja sangat buruk, sehingga para penambang sering kali terpapar risiko kesehatan dan lingkungan.

Runtuhnya tambang dan tanah longsor sudah sering terjadi karena lubang tambang biasanya dibiarkan terbuka dan hujan lebat melemahkan tanah.

Pekerjaan tersebut semakin berisiko karena penambang biasanya tidak memiliki perlindungan yang memadai.

Pada Juni 2026, sebuah longsoran menewaskan puluhan orang di lokasi pertambangan emas Be-Mbari, yang juga berada di dekat perbatasan Kamerun.

Kemudian pada pertengahan Maret 2026, tanah longsor menewaskan tujuh orang di sebuah tambang Ngourroum, Afrika Tengah bagian barat.

Selain itu, sebanyak 20 orang lainnya dilaporkan tewas pada Februari di Gordi, wilayah timur laut Afrika Tengah. (*)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru