Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 09 September 2026

Putri Mahkota Swedia Kunjungi Desa Adat Karang Bajo, Pelajari Kearifan Lokal Jaga Lingkungan

Redaksi - Rabu, 09 September 2026 12:13 WIB
154 view
Putri Mahkota Swedia Kunjungi Desa Adat Karang Bajo, Pelajari Kearifan Lokal Jaga Lingkungan
Foto: Dok/Lombok Post
Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Désirée melihat hasil kerajinan tenun masyarakat adat Bayan.

Lombok Utara(harianSIB.com)

Putri Mahkota Swedia, Victoria Ingrid Alice Désirée, mengunjungi Desa Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (6/9/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat adat serta kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Putri Victoria hadir dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador atau Duta Kehormatan United Nations Development Programme (UNDP) untuk Pembangunan Berkelanjutan. Ia didampingi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal serta delegasi dari Kementerian Luar Negeri, Bappenas dan UNDP.

Dalam kunjungan itu, Putri Victoria mempelajari keterkaitan antara hutan, sumber mata air, budaya dan kehidupan masyarakat adat Bayan. Salah satu lokasi yang dikunjunginya adalah Mata Air Mandala yang berada di kawasan hutan adat. Di lokasi tersebut, Putri Victoria mengikuti kegiatan penanaman pohon sekaligus berdialog dengan masyarakat mengenai pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Pemekel Karang Bajo, Nikrana, menjelaskan, masyarakat adat memiliki filosofi yang menempatkan bumi sebagai ibu yang harus dihormati dan dijaga. Filosofi tersebut diterapkan melalui berbagai aturan adat, prosesi, dan tradisi yang mengatur hubungan manusia dengan alam.

Baca Juga:
"Bumi adalah ibu yang harus dihormati dan dijaga. Karena itu, aturan dan tradisi yang diwariskan leluhur menjadi pedoman masyarakat dalam menjaga hubungan dengan alam," ujar Nikrana.

Menurutnya, masyarakat Bayan memandang hutan dan mata air sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Di wilayah Bayan terdapat empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih dan pertanian.

"Bagi masyarakat Karang Bajo, menjaga hutan berarti menjaga mata air. Menjaga mata air berarti menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat," katanya.

Karang Bajo merupakan desa adat sekaligus desa wisata yang masih mempertahankan tradisi masyarakat Bayan. Kehidupan masyarakat berlangsung berdampingan dengan alam, dengan aturan adat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial.

Putri Victoria mengapresiasi upaya masyarakat Karang Bajo dalam menjaga alam sekaligus mempertahankan pengetahuan lokal sebagai warisan bagi generasi mendatang.

"Apa yang bapak dan ibu lakukan di sini sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga bagi upaya menjaga sumber daya alam yang ada," ujar Putri Victoria.

Ia juga menilai pengetahuan dan kearifan lokal yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Putri Victoria mengaku tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari pengalaman masyarakat Desa Bayan. Ia juga menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat masyarakat selama kunjungannya.

Kunjungan tersebut juga diwarnai momen menarik ketika rombongan berjalan kaki menuju perkampungan. Seorang tokoh adat senior Bayan, Raden Gederip, menyapa Putri Victoria dan mengajaknya berbincang menggunakan bahasa Swedia.

Raden Gederip diketahui pernah tinggal di Swedia selama tiga bulan pada 1992 bersama antropolog asal Swedia, Sven Cederroth. Pertemuan tersebut menjadi momen hangat yang menarik perhatian masyarakat dan kemudian ramai dibagikan di media sosial.

Kunjungan Putri Victoria menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat adat memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Upaya menjaga hutan dan mata air dilakukan bersamaan dengan pelestarian budaya serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Dari Desa Adat Karang Bajo, pesan mengenai pentingnya pengetahuan masyarakat lokal dalam menjaga lingkungan turut mendapat perhatian dalam agenda pembangunan berkelanjutan.(*)

Editor
: Donna Hutagalung
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ketum N4J Serahkan Bantuan untuk Korban Bencana di Sulteng dan NTB
Sebulan Terdampar di NTB, Lestarius Hia Bantu Pemulangan Ikhtiar ke Gunungsitoli
Jokowi Serahkan Rp 264 M untuk Perbaikan Rumah Korban Gempa NTB
Loka Penelitian Galang Deliserdang Kirim 150 Kambing Boerka ke NTB
JK: Tanggap Darurat NTB Berakhir Hari Ini, Disiapkan Rp4 T untuk Rehab
Istana: Anggaran Penanganan Bencana NTB Capai Rp 4 T, Bukan Rp 38 M
komentar
beritaTerbaru