Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 14 Juni 2026

PDIP Paksakan Mega-Jokowi, Prabowo-Hatta Bisa Menang

* PAN Skenariokan Mega-Hatta
- Sabtu, 15 Februari 2014 13:06 WIB
1.055 view
PDIP Paksakan Mega-Jokowi, Prabowo-Hatta Bisa Menang
SIB/Int
Kandidat Capres RI 2019
Jakarta (SIB)- Internal PDIP mematangkan duet Mega-Jokowi di Pilpres 2014. Jika duet ini dipaksakan maka duet Prabowo-Hatta berpotensi menaklukkan duet tua-muda tersebut.

Dalam survei yang digelar di akhir tahun 2013 silam, lembaga survei Charta Poitika mensimulasikan sejumlah pasangan capres. Hasilnya, pasangan Mega Jokowi memang masih paling atas, namun selisihnya sangat sedikit.

Mega-Jokowi memiliki elektabilitas 23,3%, Prabowo-Hatta 21,4%, Ical-Mahfud MD 16,3%, Wiranto-HT 7,9%, dan Pramono Edhie-Dahlan Iskan 3%, pemilih tak tahu/tak jelas 28%.

"Tapi selisihnya masih masuk margin of error. Jadi Prabowo sangat berpeluang mengalahkan duet ini," kata peneliti Charta Politika Yunarto, saat merilis survei itu.

Survei skala nasional ini digelar pada 28 November - 6 Desember 2013 melalui wawancara tatap muka. Responden adalah mereka yang berusia di atas 17 tahun.

Jumlah sampel pada survei ini sebesar 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Sumber dana hasil survei ini diakui dari kocek Charta sendiri.

Namun duet Mega-Jokowi tak serta merta bakal mengantar Pranowo jadi presiden. Sebab banyak kalangan menyebut akan ada tokoh alternatif muncul dan menjadi penakluk Jokowi. Karena publik saat ini rindu dengan figur tokoh muda.

Tokoh-tokoh muda yang belum menatap Pilpres 2014 antara lain Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, CEO Trans Corp Chairul Tanjung, Ketua KPK Abraham Samad, CEO PT KAI Ignasius Jonan, dan lainnya.

Jadi Alternatif
Jika Gubernur DKI Jakarta Jokowi cuma jadi capres alternatif maka pendukungnya bisa kecewa. Peluang pasangan ini menang di Pemilu 2014 cukup kecil, malahan capres muda alternatif lainnya bisa bermunculan.

"Parpol akan mencari tokoh muda lain yang populer. Ada banyak alternatif tapi yang paling potensial adalah kepala daerah muda seperti Rismaharini, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil," kata pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, Selasa (11/2).

Para pengusaha yang muda dan sukses pun punya peluang cukup besar di Pilpres 2014. Karena pemilih saat ini menghendaki capres dari kalangan muda.

"Peluang juga terbuka pengusaha muda sukses seperti Chairul Tanjung, Sandiaga Uno, dan seterusnya,"bebernya.

Selain itu, menurut Qodari, peluang munculnya tokoh parpol yang masih muda juga terbuka lebar. "Peluang lain adalah tokoh parpol yang masih muda seperti Priyo Budi Santoso, Anis Matta, dan seterusnya," lanjutnya.

Pada akhirnya pemilih Mega-Jokowi tak akan signifikan. Karena masyarakat pendukung Jokowi kecewa dengan skenario duet Mega-Jokowi yang diusung PDIP.

"Banyak yang kecewa, mungkin tidak hanya di publik umum, tapi juga sebagian pemilih dan kader PDIP sendiri," pungkasnya.

Kekalahan di Depan Mata
Kalangan PDIP Pro Jokowi terus menentang skenario Mega-Jokowi ke Pilpres 2014. Mereka yakin duet ini bakal gigit jari alias keok di Pilpres 2014.

"Kalau Mega nyapres, potensi kalah dan kecurangan di depan mata," kata Koordinator Nasional PDI Perjuangan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi, dalam siaran pers, Rabu (12/2).

Sebagai kader PDIP, Budi mengaku menghormati wewenang Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menetapkan siapa capres PDIP. Namun saat ini masyarakat menghendaki capres muda dan dibuat pusing dengan berbagai skenario pencapresan yang dibocorkan sejumlah elite PDIP.

"Rakyat semakin kritis dan cerdas. Rakyat menghendaki Jokowi sebagai Presiden. Buat apa berideologi kalau tidak bisa memimpin untuk menjalankannya," jelas mantan fungsionaris DPD PDIP DKI ini.

Selain itu yang juga harus diantisipasi menurut Budi adalah potensi kecurangan yang akan dilakukan untuk mengalahkan Skenario Mega-Jokowi itu.

"Bila Mega-Jokowi yang diajukan, maka potensi kekalahan sangat jelas di depan mata. Sebab potensi kecurangan masih sangat besar. Ada banyak pihak yang dengan segala cara akan mengalahkan pasangan ini," tegas Budi.

Mega-Hatta
Menjelang Pilpres 2014 setiap parpol punya skenario pencapresan sendiri-sendiri. PAN misalnya mempersiapkan 4 skenario, 3 di antaranya menempatkan Ketum Hatta Rajasa sebagai cawapres.

"Semua masih terbuka, jadi bisa Mega-Hatta, Prabowo-Hatta, bisa Jokowi-Hatta," kata Waketum PAN Dradjad Wibowo, Rabu (12/2).

Komunikasi pun terus dilakukan saat ini, baik dengan capres Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Jokowi. Komunikasi kian intens sembari menunggu perolehan suara PAN pada Pemilu 9 April nanti.

"Bang Hatta komunikasi dengan semua partai sangat bagus. Dengan Jokowi apalagi, luar biasa bagusnya. Cuma kalau Jokowi mau maju kami lebih suka kalau dia mendapat restu dari Bu Mega supaya politik ini ada etikanya," kata Drajad.

Di luar tiga skenario itu ada skenario tambahan yakni mencapreskan Hatta. Meski menurut banyak survei, elektabilitas Hatta sebagai capres cukup berat.
"Bisa juga mencapreskan Bang Hatta dengan wakil militer dari Jawa atau yang lain," kata Dradjad.

PDIP: Sah-sah Saja
PAN memiliki 2 skenario pencapresan yang terkait dengan PDIP, yaitu duet Mega-Hatta atau Jokowi-Hatta. Apa tanggapan PDIP?.

"Sebenarnya bagaimana PDIP menyikapi hal ini semua sudah tahu, jawaban saya sah-sah saja," kata Wasekjen PDIP Bambang Wuryanto kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu.

Bambang mengatakan langkah-langkah parpol lain yang mengait-ngaitkan dengan PDIP dianggap sebagai masukan. Namun sekali lagi dia menegaskan bahwa segala hal terkait pencapresan ada di tangan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Setiap orang tahu hampir semua orang PDIP, kader-kader utamanya semua tegak lurus, ikut perintah ketua umum," ujarnya.

Bambang mengatakan PDIP tak menutup diri dengan parpol lain untuk hal-hal terkait pemilu, termasuk soal pencapresan. Namun itu tadi, PDIP hingga saat ini masih menunggu keputusan Megawati mengenai pencapresan.

"Perintah ketum nomor 3 agar kader partai membuka komunikasi dengan pihak-pihak lain," ujar Bambang. (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru