Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 12 Mei 2026

Sipituama Music Kolaborasikan Etnik Toba dan Simalungun di Industri Kreatif

- Kamis, 05 Oktober 2017 18:20 WIB
547 view
Sipituama Music Kolaborasikan Etnik Toba dan Simalungun di Industri Kreatif
SIB/Dok
Laba Suprianto Simanjuntak - Hizkia Purba dan Chrizty Yanti Manalu.
Labuhanbatu (SIB) -Tiga penggiat musik etnik berkolaborasi. Mereka adalah broadcast Laba Suprianto Simanjuntak, musisi dan komponis Hizkia Purba, Chrizty Yanti Manalu dan Hizkia Purba selama ini berkiprah di dunia hiburan beda genre. Chrizty di uning-uningan Toba dan Hizkia yang personel Sabou Band berkiprah dalam genre pop. Tetapi ketiganya mengangkat musik etnik dua puak tersebut memasuki industri kreatif. "Niat kami ingin membuat musik untuk mempersatukan dan mempererat persaudaraan musisi musik tradisional tapi juga berhasrat menggali dan memberi makna pada musik etnik," jelas Laba Suprianto Simanjuntak, Senin (2/10).

Menurutnya, menyatunya orang-orang muda dalam kegiatan positif tersebut agar semakin banyak generasi muda tertarik pada musik tradisional. "Dari mengisi
kegiatan, mudah-mudahan mencintai. Tetapi, dengan bergabungnya banyak generasi muda, maka waktunya terisi kegiatan positif. Minimal, infiltrasi godaan dunia, tertepiskan," jelasnya sambil mengatakan semangat indealisme dari kegiatan dimaksud menumbuhkan rasa cinta kebudayaan etnik agar warisan budaya tersebut tetap terpelihara dan dilakoni. "Kami melihat, generasi muda Batak mulai tercerabut dari akar budayanya. Itulah (kemungkinannya) yang membuat generasi muda Batak semakin hedonisme dan semakin fokus pada duniawi yang serba pop!"

Chrizty menegaskan, menggeluti musik tradisional tak semata mengisi waktu atau menyalurkan hobi. "Seperti tadi diutarakan, semangatnya melestarikan budaya. Tetapi, yang namanya industri kreatif, dapat mendatangkan penghasilan yang lebih. Kuncinya, harus melakukan dengan niat tulus. Kalau pendapatan, pasti mengalir... Apalagi sudah profesional, perkusi tradisi semakin sempurna keindahannya bila dibarengi dengan tari yang menyatu dengan uning-uningan tersebut," ujar perempuan yang dari pemahaman dan kecintaannya pada musik tradisional telah melanglanglang ke seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara tersebut.

Ia mengatakan, bila pemusik etnik kreatif, akan memberi nilai tambah dalam penampilan. Sesuai dengan namanya - industri kreatif - maka akan menghasilkan nilai tambah yang maksimal. "Misalnya dalam memukul taganing, tiap orang punya style masing-masing. Bila dalam permainan itu audiens sampai merasa menyatu dengan si pelakon, trans, berarti permainannya sempurna!"

Alasan menggali dan mengkolaborasikan musik etnik Toba dan Simalungun karena pemahaman keduanya. "Sipituama Music hanya sebagai bendera, wadah musisi kreatif dan profesional. Di dalamnya ada Musik Gondang Bolon untuk acara pernikahan, Sulang-sulang Pahoppu, Saur/Sari Matua, ulang tahun dan ragam lainnya," tutup  Simanjuntak. (T/R10/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru