Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Februari 2026

Pelestarian Seni Pendatang Memperkuat Budaya Nasional

Redaksi - Rabu, 12 Februari 2020 18:16 WIB
185 view
Pelestarian Seni Pendatang Memperkuat Budaya Nasional
Foto: SIB/Dok
SENI PENDATANG: Ls Naurat Silalahi bersama Cerolina Sintauli SImanjuntak dengan latar lampion warna warni bagian Imlek dan Cap Go Meh sebagai seni pendatang yang membumi di Nusantara. 
Medan (SIB)
Ls Naurat Silalahi terlibat aktif dalam sejumlah perayaan Imlek 2571 Konzili. Lima belas hari setelahnya, novelis romantis yang kini kerap menjadi motivator berdasar perjalanan hidupnya yang 'kehilangan' ginjal dan beroleh 'kehidupan' baru itu pun banyak menyelami kebudayaan Tiongkok dalam perayaan Cap Go Meh. Menurutnya, seni budaya leluhur etnis Tionghoa di Indonesia sudah berkembang sedemikian rupa. "Yang orisinal, sudah membaur dengan apa yang berkembang secara turun-temurun.

Barongsai dan Tari Liong sama saja warna-warninya tapi gerakannya dinamis sesuai di daerah mana," ujarnya di kompleks Maha Vihara Maytera Kompleks Cemara Asri Deliserdang, Minggu (9/2), didampingi Arigato Sianturi dan Cerolina Sintauli Simanjuntak.

Ia menunjuk ornamen warga yang mayoritas merah dan kuning emas tapi di tempat berbeda ada dominasi biru benhur dan kuning lembut. "Pasti ada menyimpan filosofinya. Yang jelas, pelestarian seni pendatang memperkuat budaya Indonesia," ujar mantan Ketua Pemuda Methodist yang pernah studi di London dan Korea Selatan serta sejumlah kota utama dunia. Ia membandingkan keceriaan setiap perayaan Imlek yang diikuti Cap Go Meh. "Di Inggris, di China Town, bila mendekati Imlek, kemeriahan itu sangat kentara dan Cap Go Meh sedemikian rupa," ceritanya.

Ls Naurat Silalahi menyandingkan dengan perayaan Cap Go Meh di kediaman koleganya Yenny. Peringatan di lingkungan Keluarga Besar Osaka itu pun dihadiri sejumlah tokoh Tionghoa dari manca negara seperti Simon, Eddy Goh dan Noni yang dirasa beda dengan negara lain. Menurutnya, silaturahim dan warna persaudaraan terasa lebih dekat. "Perayaannya menekankan sustainable yang menghindari plastik. Semua serba keramik. Maklumlah, tauke Purtier Plasenta. Wkwkwk," ujarnya menyebut niaga tuan rumah di bidang herbal berbasis plasenta rusa produk Eropa yang digunakan di sedikitnya 80 negara dunia.

Fokus pada budaya etnis Tionghoa yang menyatu dalam perayaan Imlek 2571 dan Cap Go Meh, Ls Naurat Silalahi memastikan, dalam iven di Tanah Air, seni dari Tiongkok sudah membumi di Nusantara. "Itulah satu bukti memperkuat budaya nasional," tutup cerpenis kritis namun tak menyakitkan karena memasukkan unsur humor dalam tiap karyanya tersebut. (T/R10/d)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru