Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 21 Juni 2026

Putra Lawe Desky, Aceh Tenggara Haposan Sianipar Kembangkan Seni Budaya Nusantara di AS

Redaksi - Senin, 18 Maret 2024 10:34 WIB
776 view
Putra Lawe Desky, Aceh Tenggara Haposan Sianipar Kembangkan Seni Budaya Nusantara di AS
(Foto: Dok Persatuan Anak Rantau Asal Lawe Desky)
Acara Adat: Haposan Sianipar (kanan depan) bersama Sony Esron Sianipar dan Omri Sianipar pada pesta adat pernikahan Carlos Napi
Loma Linda (SIB)
Haposan Sianipar muncul lagi di Indonesia. Kehadiran putra asal Lawe Desky, Aceh Tenggara itu adalah yang kedua dalam sebulan. “Iya. Ada urusan sangat mendesak terkait keimigrasian,” urainya di ujung telepon.
Pertama hadir di Tanah Air pada Februari untuk urusan menghadiri pesta adat Batak Toba di Jakarta dan sejumlah kota di Jawa Barat. Dari kegiatan adat, buru-buru kembali ke kampung halaman keduanya di San Bernardino, California - Amerika Serikat. Sepekan di negeri adi daya, kembali lagi di Indonesia. “Maaf, saya tidak sempat ke bona pasogit sebab harus kembali,” tambahnya.
Bona pasogit yang dimaksudkannya adalah Lawe Desky, Aceh Tenggara dan Toba. Dulu, orangtuanya merantau ke Aceh dan membuka perkampungan Batak di Aceh Tenggara. Keturunannya kemudian berpencar ke sejumlah penjuru. Seperti Medan, Jakarta dan kota-kota utama di Indonesia.
Saat suksesi kepemimpinan di Indonesia, Haposan Sianipar dan kerabatnya harus “mengungsi” ke Amerika Serikat sehubungan penguasa saat itu mencari individi atau organisasi yang tidak sejalan dengannya.
Di “pengungsian” ia memilih bermukim di California dan kembali membuka perkampungan Batak di wilayah paling populer di Amerika Serikat tersebut. Dewi Fortuna berpihak padanya ketika pemerintah memberinya permanent resident.
Di rantau, ia tetap menjalankan kehidupan seperti layaknya di bona pasogit. Pengamalan adat-istiadat pun dibawanya dalam urusan religi. Inkulturatif. “Lahir sebagai orang Batak harus tetap menjadi Bangso Batak. Sebab darah yang mengalir di tubuh saya adalah mudar Batak,” jelasnya.
Itu sebabnya, bersama warga Batak yang ada di AS, rutin mengadakan acara berciri kebudayaan leluhur. “Tapi sekarang saya sudah tidak selincah dulu. Sudah sepuh,” paparnya.
Haposan Sianipar pernah terserang stroke yang membuat aktivitasnya terhalang. Begitu sembuh total dari kelumpuhan, ia kembali ke habitatnya untuk melestarikan adat budaya leluhur. Peran lainnya dalah sebagai pendamping warga Indonesia yang hendak ke AS. Mulai dari urusan keimigrasian hingga mencarikan akomodasi selama di negeri orang. “Kali ini saya melengkapi berkas United States permanent residence. Itulah yang membuat saya harus langsung mengurus ke Indonesia,” urainya.
Di tengah kesibukannya, ia tetap menyempatkan hadir di acara adat. Seperti di syukuran pernikahan Carlos Napitupulu / br Panjaitan di Gedung Gorga 2 Pondok Bambu. “Indonesia itu kaya dengan adat budaya dan harus ditunjukkan pada pihak luar,” ujarnya.
Keluarga Haposan Sianipar memang banyak suku. Seperti Indoensia mini. Selain Batak dan yang telah berbaur dengan Aceh, ada juga Ambon yakni Monica Tuapattinaja yang diperistri putranya. “Itulah menunjukkan Indonesia itu kaya raya,” tutupnya. (**)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru