Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 12 Mei 2026

Samrin Girsang Menggali Warisan Leluhur Simalungun dengan Pergelaran Seni

- Selasa, 08 September 2015 17:08 WIB
1.018 view
 Samrin Girsang Menggali Warisan Leluhur Simalungun dengan Pergelaran Seni
Medan (SIB)- Steven Samrin Girsang masih seperti sedia kala. Menggali warisan leluhur Simalungun sekaligus mengenalkan pada publik dengan pergelaran seni. Cara tersebut dimaksudkannya agar generasi muda Indonesia, khususnya yang punya kaitan darah, minimal yang memiliki emosional, dapat langsung mengetahui. Pasca terpilih menjadi Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (Himapsi), pelakon dan penggiat seni itu menegaskan program kerjanya dalam kepemimpinan 4 tahun ke depan. "Oleh para pendiri Himapsi, organisasi ini harus mampu melestarikan kesenian leluhur plus menggali semaksimalnya hingga warisan nonbenda terus lestari," tandasnya didampingi sejumlah pendiri organisasi yangmemasuki usia 38 tahun tersebut di antaranya Budi ND Sumbayak, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Anggota Erdiman Purba yang mewakili ketua Japorman Saragih, yang mewakili Badan Pertimbangan Organisasi Jamarsen Saragih di Medan, Sabtu (5/9).

Tantangan ke depan, ujarnya, anak-anak dan generasi muda dihadapkan pada memudar dan lunturnya pemahaman pada budaya. Hal tersebut, menurutnya, berbahaya karena kehidupan global tidak ada batas yang jelas antara satu individu dengan individu lainnya.  "Yang membedakan cuma jati diri dari sisi budaya. Itulah sebabnya Himapsi harus melakukan terobosan," tekadnya.

Kebudayaan Simalungun memang sangat kental dalam dirinya. Lahir di Bangun Saribu, Simalungun, pada 17 Oktober 1983 dari pasangan Awal Girsang-Nomin Munthe. Sebagai  anak kelima dan 7 bersaudara, Samrin paham benar tentang adat-istiadat Simalungun. Saat menimba ilmu di SD Bangun Saribu, SMP dan SMA di Saribu Dolok, anak-anak sebayanya sudah dicecoki dengan budaya pop. Ketika menimba ilmu di FIS Unimed, akulturasi budaya makin kental. Saat anak-anak muda perkotaan makin akrab dengan budaya west, Samrin remaja justru makin dekat dengan budaya leluhur. "Sekarang, setelah meninggalkan masa remaja, justru terasa bahwa yang merekatkan seorang individu dengan negaranya adalah pemahaman akan budaya bangsanya.

Masa kecil Samrin memang diisi dengan hal-hal kebudayaan, mulai dari tari, lagu hingga warisan non benda lainnya, termasuk dihar.

Bahkan kala kegiatan keagamaan, pun dipadupadankan dengan penampilan kesenian etnik. Suatu kali ketua perayaan Natal bersama di SD Inpres Bangun Saribu, Simalungun. Kelompok Samrin menampilkan tari dan lagu Serma Dengan dengan aroma religi. "Cara demikian semakin menegaskan bahwa adat dan agama saling mendukung. Adat adalah alas dari pribadi individu untuk makin intens dengan ibadahnya," ujarnya.

Ketika naik kelas tiga harus pintah ke Saribu Dolok yang dekat dengan kota. Ketika  itu, budaya pop semakin dekat.  Kala di SMP, kekentalan pada kesenian semakin dalam tapi mulai menyanyi pop seperti lagu Berita Kepada Kawan. Lagu  yang didendangkan dan dipopulerkan Ebiet G Ade itu dibawa trio bersama Johannes dan Deddy Tandra. "Tapi nuansanya tetap etnik. Dengan penampilan itu, orang-orang muda terhibur dan kaum tua memahami," kenangnya sambil mengatakan saat itu pula dibawakan lagu Apuini Parsilosilo ciptaan Tuan Kadung Saragih Garingging dan lagu Sipukka Huta ciptaan Agus Erdiaman Purba.

Lagu dari para musisi populer Simalungun tersebut adalah bagian dari penggalian kebudayaan. "Dewasa ini, banyak sekali lagu-lagu rakyat Simalungun yang tidak tahu siapa penciptanya. Ketidaktahuan tersebut tak dapat dielakkan tapi harus dibentengi dengan cara tetap dipergelarkan!"

Saat di FIS Unimed itu membawa Samsin menggeluti organisasi kedaerahan. Kala itu Ketua Umum Himapsi Darman Saragih. "Bagaimana luar biasanya semangat para pendiri organisasi dan Bang Darman Saragih membangun Himapsi. Semangat demikian yang saya bawa dan ketuk tularkan pada kader untuk bersama membangun Simalungun karena kepengurusan bukan urusan pribadi," takadnya sambil menyebut sejumlah nama yang berjasa pada organisasi seperti Japorman Saragih, Jan Toguh Damanik dan anggota DPD Parlindungan Purba SH MM.

Sekarang, ketika tugas yang diembankan padanya adalah melestarikan dan menggali kesenian Simalungun, Samrin mengewajantahkan motto Himapsi Sapangambei Manoktok Hitei I Bagas Habonaron do Bona: kebersamaan adalah kekuatan, dengan adanya kekuatan pasti menang sebagai langkah nyata. (R9/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru