Medan(harianSIB.com)
Mulana Kartika br Nainggolan (31), ibu hamil yang menjadi korban penganiayaan di kawasan terowongan Tembung Jalan Baru Pasar VII, Kecamatan Percut SeiTuan, Deliserdang akhirnya angkat bicara terkait peristiwa yang viral di media sosial (Medsos). Ia membantah tudingan yang menyebut dirinya merekam aksi tawuran sebelum insiden penganiayaan terjadi.
Ditemui usai memberikan keterangan kepada penyidik Unit Resmob Sat Reskrim Polrestabes Medan, Jumat (5/6/2026), Mulana menegaskan dirinya dan suami Marga Purba hanya berusaha menghindari lokasi tawuran demi keselamatan, terlebih karena saat ini ia sedang mengandung.
"Kami tidak ada merekam tawuran itu. Saya sedih karena ada berita yang menyebut saya merekam kejadian tawuran yang viral itu," ujarnya.
Mulana menceritakan, peristiwa bermula saat dirinya dijemput suami sepulang bekerja. Ketika melintas di bawah rel kereta api terowongan Tembung, mereka mendapati sekelompok orang sedang terlibat aksi tawuran dan saling melempar batu. Karena khawatir menjadi korban lemparan batu, keduanya memilih berhenti di pinggir jalan dan menunggu situasi aman. Menurut Mulana, saat itu kondisi lalu lintas tidak macet dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Baca Juga:
"Namun, dua pria yang kini telah ditangkap polisi memaksa kami untuk tetap melintas melewati lokasi tawuran. Saya telah menjelaskan bahwa sedang hamil dan tidak berani melewati area yang dinilai berbahaya tersebut sebab ada tawuran. Tapi setelah itu suami saya langsung dihantam," katanya.
Melihat suaminya dipukuli, Mulana berupaya merekam kejadian sebagai bukti untuk laporan polisi. Namun telepon genggam yang digunakannya terjatuh saat keributan berlangsung sehingga rekaman tidak berhasil dilakukan. Tidak hanya menyaksikan suaminya menjadi korban kekerasan, Mulana juga mengaku turut menjadi sasaran penganiayaan. Salah seorang pelaku menendang bagian perutnya yang saat itu sedang mengandung.
"Setelah itu datang satu lagi menendang perut saya. Jadi memang ada dua pelakunya. Selain melakukan penganiayaan, para pelaku juga mengancam kami dengan menggunakan senjata api jenis airgun. Ancaman itu membuat kami semakin ketakutan dan trauma," ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, Mulana mengaku mengalami tekanan psikologis dan kelelahan karena harus menjalani serangkaian pemeriksaan serta mengurus proses hukum selama dua hari terakhir.
Meski demikian, ia menyampaikan apresiasi kepada saksi yang merekam kejadian hingga video penganiayaan tersebut viral dan membantu proses pengungkapan kasus oleh kepolisian.
"Saya berterima kasih kepada saksi yang merekam kejadian dan kepada pihak kepolisian yang sudah membantu menyelesaikan persoalan ini sampai pelakunya ditangkap," ujarnya.
Janin Dipastikan Sehat
Di tengah trauma yang dialaminya, Mulana mengaku sempat diliputi kekhawatiran terhadap kondisi janin yang dikandungnya setelah menerima tendangan di bagian perut. Wanita yang tengah mengandung 7 minggu atau memasuki trimester pertama kehamilan itu mengatakan dirinya segera menjalani pemeriksaan medis dan ultrasonografi (USG) untuk memastikan kondisi kandungannya.
"Puji Tuhan, hasil USG tadi kandungan saya sehat. Kehamilan saat ini sangat berarti bagi dirinya dan suami. Sebab, pada akhir tahun lalu ia pernah mengalami keguguran sehingga peristiwa penganiayaan tersebut membuatnya sangat cemas. Puji Tuhan, kami dipercaya cepat untuk memiliki anak lagi," katanya dengan rasa syukur.
Ia mengaku sempat merasakan nyeri hebat pada bagian perut setelah ditendang. Namun saat kejadian berlangsung, perhatian utamanya tertuju pada kondisi sang suami yang menjadi sasaran pemukulan.
"Yang saya rasakan itu sakit sekali perut saya. Cuma karena melihat suami saya sudah dihantam, rasa sakit itu tidak lagi saya pikirkan," kata Mulana.
Usai kejadian, pasangan tersebut menjalani pemeriksaan medis dan visum di RSUD Dr Pirngadi Medan. Mulana menegaskan dirinya tidak menjalani rawat inap, melainkan hanya pemeriksaan kesehatan serta pembuatan visum untuk kepentingan penyidikan.
"Sebenarnya bukan dirawat. Kami melakukan pemeriksaan visum suami saya dan saya sendiri juga karena mengalami kekerasan, termasuk ditendang di bagian perut," ujarnya.
Sementara itu, kondisi suaminya masih mengalami luka akibat penganiayaan. Luka terlihat pada bagian dagu dan pipi akibat pukulan yang diterima saat kejadian.
"Kalau suami saya masih ada luka di bagian dagu dan pipi. Memang tidak selebam saat malam kejadian karena sudah kami lakukan perawatan perlahan," terangnya.
Meski masih menyisakan trauma dan kelelahan, Mulana bersyukur kondisi kandungannya tidak mengalami gangguan dan berharap proses hukum terhadap para pelaku berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Trauma ada, capek juga ada. Semoga para pelaku dapat dihukum setimpal," harapnya mengakhiri.
Diberitakan sebelumnya, gerak cepat Tim Khusus Jaga, Cegah, Sigap (JCS) bersama Unit Resmob Sat Reskrim Polrestabes Medan membuahkan hasil. Kurang dari satu hari setelah kasus penganiayaan terhadap pasangan suami istri (pasutri) yang terjadi di kawasan Jalan Baru Pasar VII Tembung, Kecamatan Percut SeiTuan, Deliserdang dua pelaku berhasil diamankan.
Kedua pelaku abang beradik kandung diantaranya Zulyar dan Julpi ditangkap petugas di satu bengkel yang berada di Jalan Baru Pasar VII Tembung Rabu (3/6/2026) malam.(*)