Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 29 Juni 2026

Keluarga Boy Simamora Curigai Ada Unsur Pembunuhan

Rosianna Anugerah Hutabarat - Senin, 29 Juni 2026 09:19 WIB
168 view
Keluarga Boy Simamora Curigai Ada Unsur Pembunuhan
harianSIB.com/Rosianna Anugerah Hutabarat
Ayah korban, Lamsehat Simamora (kanan), tertunduk lesu saat kuasa hukumnya, Parlaungan Silalahi (tengah), memberikan keterangan pers di Desa Sampang Maruhur, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sabtu (27/6/2026).

Tapteng (harianSIB.com)

Keluarga Boy Simamora (21), warga Desa Sampang Maruhur, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah, menduga terdapat unsur pembunuhan di balik kematian korban yang sebelumnya disebut-sebut akibat serangan buaya di Sungai Saga Matua usai berusaha melarikan diri dari area perkebunan PT Nauli Sawit, Rabu (27/5/2026) lalu.

Dugaan tersebut disampaikan keluarga setelah melihat kondisi jenazah yang dinilai tidak sesuai dengan ciri-ciri korban serangan buaya. Mereka meminta Polres Tapanuli Tengah mengusut tuntas penyebab kematian Boy Simamora.

Ayah korban, Lamsehat Simamora (46), didampingi kuasa hukumnya, Parlaungan Silalahi, mengatakan pada tubuh korban ditemukan sejumlah luka yang menurut keluarga perlu didalami penyidik.

"Kami melihat ada dugaan luka tusuk di leher, bagian belakang kepala remuk, serta luka sayatan di pangkal paha. Potongan lengan juga terlihat terlalu rapi seperti bekas benda tajam, bukan akibat cabikan buaya," ujar Lamsehat di Desa Sampang Maruhur, Sabtu (27/6/2026).

Baca Juga:
Ia berharap laporan yang telah disampaikan ke Polsek Manduamas dan kini dilimpahkan ke Polres Tapanuli Tengah segera diproses.

"Beri kami keadilan atas kematian anak saya. Saya tidak yakin luka di leher anak saya merupakan bekas gigitan buaya," ucapnya.

Kuasa hukum keluarga dari LKBH Sumatera, Parlaungan Silalahi, mengatakan pihaknya bersama keluarga telah melakukan penyisiran di lokasi penemuan jenazah di sekitar Sungai Saga Matua yang berbatasan dengan areal perkebunan PT Nauli Sawit.

Menurutnya, dari hasil penyisiran ditemukan sejumlah petunjuk yang kemudian diserahkan kepada penyidik, termasuk sebilah parang yang ditemukan tidak jauh dari lokasi penemuan jenazah.

"Sebilah parang tersebut telah kami serahkan kepada pihak kepolisian sebagai alat bukti tambahan," katanya.

Parlaungan menegaskan pihaknya tidak membenarkan dugaan aktivitas pencurian sawit atau yang dikenal dengan istilah "Ninja Sawit". Namun, menurutnya, sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut perlu diusut secara menyeluruh.

Ia meminta penyidik memeriksa sembilan rekan korban yang saat itu diduga bersama Boy Simamora, termasuk mengamankan telepon seluler mereka untuk kepentingan penyelidikan.

"Supaya handphone teman-teman korban dan korban dikumpulkan karena diduga ada percakapan sebelum aktivitas itu dilakukan," ujarnya.

Selain itu, Parlaungan mengaku keluarga masih meragukan hasil autopsi yang akan diterbitkan pihak forensik karena keluarga tidak diperbolehkan menyaksikan proses ekshumasi.

"Keluarga juga belum dimintai keterangan terkait penemuan jenazah Boy Simamora," katanya.

Sementara itu, kakek korban, Hasian Simamora, menyatakan keluarga akan menempuh autopsi ulang secara mandiri apabila hasil autopsi resmi nantinya tetap menyimpulkan penyebab kematian akibat serangan buaya.

"Kami akan melakukan autopsi ulang secara mandiri," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Polres Tapanuli Tengah maupun pihak forensik terkait perkembangan penyelidikan serta hasil autopsi atas kematian Boy Simamora.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Suami Dipenjara, Istri Kawin Lagi Dilaporkan ke Polres Tapteng
Poldasu Tangkap 6 Ninja Sawit dan 2 Penadah, Kerugian PTPN IV Rp15,63 M
Tim u201cKeluarga Djoss Bersinaru201d Kabupaten Tapanuli Tengah Terbentuk
Tim Supervisi Biro Ops Polda Sumut Tinjau Pos Pam Polres Tapteng
Pembalakan di Tapanuli Tengah, Dishut Sumut Turun Melakukan Cek Tunggul
Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Seorang Pemulung
komentar
beritaTerbaru