Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 08 Juni 2026

Pemimpin Taliban Pakistan Mullah Fazlullah Tewas di Afghanistan

- Senin, 18 Juni 2018 16:43 WIB
678 view
Pemimpin Taliban Pakistan Mullah Fazlullah Tewas di Afghanistan
SIB/EPA via BBC
Inilah momen ketika seorang milisi Taliban berpelukan dengan polisi Afghanistan saat mereka merayakan Idul Fitri bersama.
Kabul (SIB) -Pemimpin Taliban Pakistan Mullah Fazlullah tewas dibunuh di Afghanistan. Fazlullah tewas dalam serangan udara yang dilancarkan militer Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Reuters, Jumat (15/6), kabar tersebut disampaikan oleh senior Departemen Pertahanan Afghanistan. Diduga serangan tersebut dapat menurunkan tensi antara Pakistan dan AS. Disebutkan Fazlullah tewas pada Kamis (14/6). 

"Saya mengkonfirmasi bahwa Mullah Fazlullah, pemimpin Taliban Pakistan, telah tewas dalam operasi udara bersama di daerah perbatasan distrik Marawera provinsi Kunar," kata juru bicara kementerian pertahanan Afghanistan Mohammad Radmanish. Sebelumnya Juru bicara Pasukan AS-Afghanistan Letnan Kolonel Martin O'Donnell sempat menyatakan mereka telah melakukan serangan yang ditujukan ke militan senior di provinsi Kunar, Afghanistan timur, yang berada di perbatasan Pakistan. Salah satu pejabat AS mengungkap sasaran yang dimaksud adalah Fazlullah. 

Dia menjadi aktor di balik pembantaian massal di satu sekolah 2014 silam yang menewaskan hingga 132 anak-anak. Selain itu dia juga terlibat dalam penembakan Malala Yousafzai pada tahun 2012. Malala kini telah dihadiahi Nobel Perdamaian. Presiden Ashraf Ghani juga mengukuhkan berita kematian komandan Taliban Pakistan, Mullah Fazlullah. 

Di Pakistan, Perdana Menteri Interim Nasir-ul Mulk mengatakan terbunuhnya pemimpin Taliban Pakistan Maulana Fazlullah merupakan perkembangan signifikan dalam perang melawan terorisme. Hal itu diucapkannya setelah berbicara lewat telepon dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang mengukuhkan kabar kematian pimpinan Taliban Pakistan itu. Panggilan telepon dari Presiden Ghani dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan kepercayaan Pakistan dan meningkatkan kerja sama dalam perang melawan militan di Afghanistan, yang banyak pemimpinnya tinggal di Pakistan.

Fazlullah dituding terlibat dalam sejumlah serangan di Pakistan, termasuk pembantaian sekolah di Peshawar pada tahun 2014 yang menewaskan lebih dari 150 orang. Dia juga dituding sebagai tokoh yang memerintahkan percobaan pembunuhan Malala Yousafzai, yang ditembak pada kepalanya di bus sekolah, saat ia masih merupakan siswi berusia 15 tahun. Taliban Pakistan mengatakan pada saat itu bahwa mereka menembak Malal karena dia "pro-Barat" dan "mempromosikan budaya Barat di kawasan Pashtun". 

Gencatan Senjata Idul Fitri
Sementara itu, dalam peristiwa yang beberapa hari lalu kelihatan mustahil, para anggota Taliban Afghanistan tampak berpelukan dengan para anggota pasukan keamanan Afghanistan di tengah gencatan senjata tiga hari yang diberlakukan untuk menandai Idul Fitri. Presiden Ashraf Ghani telah memperpanjang gencatan senjata sepihak dan menyerukan kepada Taliban untuk melakukan hal yang sama. Pemerintah juga membebaskan sejumlah militan Taliban dari penjara.

Bagi banyak orang Afghanistan ini adalah pemandangan yang luar biasa. Hanya beberapa hari lalu saja, kedua belah pihak saling bertarung. Perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini telah meningkatkan harapan akan perdamaian permanen di negara yang dilanda perang tak berkesudahan ini.
Namun 20 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri pada satu pertemuan antara Taliban dan pejabat pemerintah di Nangarhar. Sejumlah anggota Taliban dan warga setempat termasuk di antara korban serangan bunuh diri itu, kata jurubicara provinsi Nangarhar, Attaullah Khogyani, kepada BBC. Taliban mengatakan mereka tidak terlibat dalam serangan itu.

Presiden Ghani menginginkan gencatan senjata Idul Fitri ini bisa jadi pembuka jalan menuju perdamaian yang lebih langgeng, dan menyerukan Taliban untuk maju ke meja perundingan. Dalam pidato yang disiarkan televisi, Ashraf Ghani mengatakan, sekarang para anggota Taliban dapat menerima tunjangan pemerintah seperti warga lainnya. Namun Presiden tidak menyebut-nyebut peristiwa serangan di Nangarhar. 

Video dan gambar yang memperlihatkan berbagai peristiwa bercampurnya tentara Afghanistan dengan militan Taliban dan warga di berbagai pelosok negeri dipublikasikan di berbagai media lokal. Dalam berbagai foto juga tampak para militan bertemu Menteri Dalam Negeri Wais Barmak di ibukota Kabul. Awal bulan ini, Taliban menyangkal berita bahwa mereka sedang melakukan pembicaraan rahasia dengan pemerintah Afghanistan.

Pakistan dianggap memegang peran kunci dalam memulai proses perdamaian karena banyak pemimpin Taliban Afghanistan diyakini tinggal di negeri tetangga itu. Namun Islamabad menuduh Kabul menampung para gerilyawan Islamis yang melakukan sejumlah serangan kekerasan di Pakistan. 

Bagaimana Gencatan Senjata Terjadi?
Taliban mengumumkan penghentian permusuhan selama tiga hari setelah gencatan senjata sepihak hingga Rabu yang diberlakukan oleh pemerintah. Ini adalah gencatan senjata pertama Taliban sejak pemerintah mereka digulingkan oleh invasi tahun 2001 yang dipimpin AS.

Departemen luar negeri AS mengatakan pasukan AS dan mitra koalisi mereka akan "menghormati gencatan senjata" itu. Para pejabat mengatakan tidak terjadi serangan apa pun sejak gencatan senjata diumumkan. Pada bulan Februari lalu, Presiden Ghani menawarkan pembicaraan damai "tanpa prasyarat" dan pengakuan Taliban sebagai kelompok politik yang sah jika mereka menghormati aturan hukum. 

Warga mengungkapkan keterkejutan dan kegirangan mereka. "Saya tidak bisa mempercayai mata saya. Saya melihat Taliban dan polisi berdiri berdampingan dan melakukan selfie," kata seorang warga Kunduz, Mohammad Amir kepada Reuters. "Itu adalah Idul Fitri yang paling damai. Untuk pertama kalinya kami merasa aman. Sulit menggambarkan kegembiraan ini," kata Qais Liwal, seorang siswa di Zabul di Afghanistan selatan.

Orang-orang berseru dan bersorak menyambut para militan Taliban saat mereka masuk berbagai kota Afghanistan, Reuters melaporkan. Di Jalalabad di Afghanistan timur, warga memberikan berbagai buah-buahan dan makanan kepada para militan. Puluhan ribu warga Afghanistan tewas sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Taliban dari kekuasaan pada tahun 2001. (Rtr/AFP/BBCI/detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru