Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 09 September 2026

Korut-Korsel Normalisasi Komunikasi Antar-Kapal

- Senin, 02 Juli 2018 15:14 WIB
282 view
Korut-Korsel Normalisasi Komunikasi Antar-Kapal
SIB/AFP
Foto yang dirilis kantor berita Korea Utara, KCNA, bertanggal 20 Juni 2018, menunjukkan Presiden China Xi Jinping (kiri) bersalaman dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dalam pertemuan tersebut, dikabarkan Kim Jong Un membujuk presiden China agar memb
Seoul (SIB) -Korea Utara dan Korea Selatan membuka kembali saluran komunikasi antar kapal, pertama dalam 10 tahun terakhir. Kementerian Pertahanan Korea Selatan menyatakan kedua pihak menormalisasi jaringan radio dalam pembicaraan militer tingkat tinggi, guna meredakan ketegangan dan mencegah konfrontrasi, khususnya di Laut Kuning. "Kedua negara melakukan kontak radio pertama kali dalam satu dekade," pernyataan Kementerian Pertahanan Korea Selatan, seperti dilansir Reuters, Minggu (1/7).

Kapal patroli Korea Utara langsung menanggapi Angkatan Laut Korea Selatan yang mengontaknya melalui saluran radio internasional pada pukul 09.00 waktu setempat di laut barat, menandai pulihnya komunikasi yang terputus selama 10 tahun terakhir. Langkah tersebut menunjukan kedua Korea "mengambil langkah praktis" untuk mematuhi kesepakatanyang diteken pada 27 April ketika pemimpin Korut Kim Jong Un dan Presiden Korsel Moon Jae In memutuskan untuk meredakan ketegangan militer secara bertahap, kata seorang pejabat dari kementerian tersebut. 

Bujuk Presiden China
Sementara itu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dikabarkan membujuk Presiden China Xi Jinping agar membantu mengakhiri sanksi ekonomi terhadap negaranya. Pernyataan itu dimuat oleh surat kabar Jepang Yomiuri Shimbun pada Minggu (1/7), seperti dikutip dari AFP. Kim menyampaikan permintaan tersebut ketika bertemu Xi di Beijing pada bulan lalu. Sementara, Xi berjanji untuk melakukan yang terbaik guna memenuhi keinginan Kim. "Kami merasa sangat menderita karena sanksi ekonomi. Sekarang, kami telah menyimpulkan KTT AS-Korea Utara berhasil, saya ingin (China) bekerja untuk mencabut sanksi lebih awal," kata Kim. 

Dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara berusaha memperbaiki hubungan yang dirusak oleh uji coba nuklir Korea Utara dan dukungan China terhadap sanksi PBB. Kim memilih China sebagai destinasi kunjungan luar negeri resmi pertamanya pada Maret lalu, kemudian bertemu Xi lagi pada Mei 2018 di kota pelabuhan Dalian. Kim meminta Xi untuk membantu meringankan sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi Korea Utara. Dia mendesak China untuk mendukung Korea Utara dalam pembicaraan denuklirisasi dengan Amerika Serikat. Xi disebut secara aktif mendukung reformasi dan Korea Utara yang terbuka, serta akan bekerja sama dengan isu-isu yang terkait dengan upaya itu. 

Dia juga meminta Korea Utara untuk melanjutkan konsultasi dengan China atas negosiasinya dengan pemerintah AS. Pada tahun lalu, China mengeluarkan sinyal agar Dewan Keamanan PBB dapat mempertimbangkan pengurangan hukuman terhadap Korut. Baca juga: Kim Jong Un Berkunjung Ke China Selama Dua Hari Kunjungan resmi ketiga Kim ke China dipandang sebagai langkah untuk meyakinkan negara itu bahwa Korut tidak akan mengabaikan kepentingannya, setelah pertemuan bersejarah dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura. 

China dan AS sama-sama berharap melihat semenanjung Korea bebas dari senjata nuklir. Tetapi China khawatir AS dan Korut mungkin akan semakin dekat, sehingga terlihat ancaman terhadap kepentingan ekonomi dan keamanan di kawasan tersebut. (Rtr/AFP/CNNI/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru