Kairo (SIB)- Pemadaman listrik selama berjam-jam pada siang hari serta sengatan udara musim panas yang tak terperikan mengganggu rakyat Mesir selama Ramadan, saat 90 persen dari 94 juta warga di negeri itu berpuasa sepanjang hari.
Kenaikan harga listrik yang diumumkan pada Kamis (3/7) oleh Menteri Kelistrikan Mohamed Shaker telah meningkatkan ketidak-puasan yang sudah tinggi di kalangan rakyat, terutama setelah kenaikan harga gas alam dan rencana kenaikan harga bahan bakar.
"Ketika listrik padam, semua mesin jahit di pabrik saya berhenti beroperasi, sehingga saya rugi waktu dan uang," kata Khaled Hinnawi, penjahit yang berusia 38 tahun dan pemilik pabrik kecil pakaian.
Hinnawi mengatakan ia masih harus membayar penuh upaya pekerja yang tak bisa bekerja, akibat listrik padam, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi. "Untuk mengatasi itu, saya harus menaikkan harga produk saya dan barang itu jadi kurang laku. Ini benar-benar kerugian dari segala sisi."
Pemadaman listrik yang berulangkali, kekurangan gas dan harga yang membubung termasuk alasan yang mendorong kemarahan rakyat terhadap mantan Presiden Mohamed Moursi, yang berujung pada penggulingannya oleh militer Juli lalu.
Mantan kepala militer Abdel Fattah As-Sisi, yang memimpin penggulingan Moursi dan memangku jabatan pada Juni, telah mendesak rakyat Mesir agar mengetatkan ikat pinggang mereka. Ia juga mendorong mereka agar membuat pengorbanan bagi masa depan negeri itu yang lebih baik.
Di tengah gelombang ketidak-puasan rakyat, pemerintah --yang menghadapi kesulitan keuangan-- berjuang mengendalikan defisit anggaran tak kurang dari 10 persen bagi tahun fiskal baru, yang dimulai pada Selasa (1/7). Defisit anggaran tersebut berjumlah lebih dari 33,5 miliar dolar AS tahun ini.
Kenaikan tarif listrik akan menjadi bagian dari rencana untuk menghapuskan subsidi listrik dalam waktu lima tahun, kata menteri kelistrikan negeri itu dalam taklimat pada Kamis. "Sektor listrik menderita karena tarif listrik bersubsidi tak pernah mengalami kenaikan sesungguhnya sejak 2012," katanya.
Subsidi energi membuat negeri tersebut menanggung beban sebanyak 18 miliar dolar AS setiap tahun, sebanyak 20 persen dari produk domestik kotornya. Pemerintah bermaksud menguranginya sampai 14 miliar dolar pada tahun fiskal ini.
Namun, pemotongan subsidi energi dipandang sebagai cobaan besar buat presiden baru, sementara banyak rakyat Mesir terutama mereka yang berpenghasilan rendah, menentang kebijakan itu --yang akan menghapuskan kesejahteraan mereka selama beberapa dasawarsa.
Meskipun pemerintah menghadapi dilema dalam memperkecil defisit anggaran, rakyat tak gembira dengan iftar --makanan berbuka puasa-- yang mereka nikmati dalam kegelapan selama Ramadan; mereka juga tak bisa menggunakan kipas angin atau penyejuk udara selama siang hari yang panas saat Ramadan.
Jejaring sosial telah dipenuhi dengan sindiran tajam yang diposting atau ditweet mengenai pemadaman listrik sebelum dan selama Ramadan.
"Saya pergi kerja, listrik mati. Saya pulang ke rumah, listrik padam. Jangan-jangan ada yang tidak beres dengan diri saya," begitu celoteh seorang pemuda Mesir di laman Facebooknya.
(Ant/Ximhua/i)