Istanbul (SIB) -Pemerintah Arab Saudi membantah keras laporan bahwa seorang jurnalis Saudi bernama Jamal Khashoggi telah dibunuh di dalam kompleks konsulat mereka yang ada di Istanbul, Turki. Otoritas Saudi menyatakan pihaknya telah mengerahkan tim untuk membantu menyelidiki hilangnya Khashoggi.
Seperti dilansir Arab News, Senin (8/10), bantahan itu disampaikan oleh seorang pejabat Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul yang enggan disebut namanya. Bantahan itu dilaporkan oleh kantor berita Saudi Press Agency (SPA). Pejabat Konsulat Saudi di Istanbul itu menegaskan, laporan soal Khashoggi dibunuh di dalam kompleks konsulat sebagai 'tuduhan tak berdasar'.
Ditambahkan pejabat yang sama bahwa dirinya meragukan laporan yang dimuat media-media asing itu datang dari para pejabat Turki 'yang telah mendapat informasi soal penyelidikan atau berwenang memberikan komentar soal isu tersebut'. Lebih lanjut, pejabat Konsulat Saudi di Istanbul menyatakan satu delegasi keamanan yang terdiri atas para penyidik Saudi telah dikirimkan ke Istanbul untuk membantu penyelidikan atas hilangnya Khashoggi. Delegasi keamanan Saudi itu telah tiba pada Sabtu (6/10) lalu.
Pejabat itu juga mengatakan, otoritas terkait di Saudi secara saksama memantau perkembangan kasus hilangnya Khashoggi ini, demi mengungkap fakta-fakta sebenarnya.
Sebelumnya, Konsul Jenderal (Konjen) Arab Saudi di Istanbul, Turki, Mohammad Al-Otaibi menegaskan bahwa jurnalis Jamal Khashoggi yang dilaporkan hilang, tidak ada di dalam kompleks konsulat Saudi. Khashoggi disebut telah menyelesaikan urusannya dan telah meninggalkan Konsulat Saudi pada 2 Oktober lalu. Seperti dilansir Arab News, Senin (8/10), Al-Otaibi menegaskan bahwa Khashoggi telah meninggalkan gedung Konsulat Saudi di Istanbul usai menyelesaikan dokumen yang diurusnya pada 2 Oktober lalu.
"Saya juga ingin mengonfirmasi bahwa... Jamal tidak ada di konsulat maupun di Kerajaan Arab Saudi, dan pihak Konsulat juga Kedutaan Besar berupaya untuk mencarinya," tegas Al-Otaibi dalam wawancara di Konsulat Saudi di Istanbul. "Kami khawatir soal kasus ini," imbuhnya.
Khashoggi yang merupakan mantan penasihat pemerintah Saudi, mendatangi Konsulat Saudi di Istanbul sejak 2 Oktober lalu. Kedatangannya ke sana bertujuan untuk mendapatkan dokumen resmi bagi pernikahannya dengan tunangannya asal Turki.
Hatice, tunangan Khashoggi, menemaninya ke konsulat tetapi tidak diizinkan masuk bersamanya. Menurut Hatice, Khashoggi menitipkan telepon genggamnya kepadanya dan mengatakan untuk menghubungi seorang penasihat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan jika dia tidak kembali. Benar saja, Khashoggi belum terlihat lagi sejak masuk gedung Konsulat Saudi pada 2 Oktober lalu.
Reputasi Putra Mahkota Dipertaruhkan
Hilangnya wartawan Arab Saudi setelah memasuki gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, hingga kini masih misterius. Beredar rumor bahwa jurnalis pengkritik pemerintah Saudi itu telah dibunuh. Para pengamat mengatakan, jika tuduhan itu benar bisa merusak imej Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman yang dianggap sebagai reformis. "Ini akan menjadi pukulan besar bagi imej yang telah berusaha ditumbuhkan oleh para pendukung Arab Saudi di Barat, khususnya di Washington," ujar Kristian Ulrichsen, pengamat di Rice University's Baker Institute, Amerika Serikat.
Bessma Momani, profesor di University of Waterloo, Kanada setuju bahwa reputasi Pangeran Mohammed dipertaruhkan dalam kasus ini. "Jika kematian Khashoggi terkonfirmasi dan tuduhan terhadap Saudi terbukti, imej 'reformis' putra mahkota akan lebih sulit diterima, khususnya di Washington dan ibu kota negara-negara Barat lainnya," ujarnya kepada AFP, Senin (8/10).
James Dorsey, pakar urusan internasional mengatakan, hilangnya pengkritik pemerintah Saudi itu bisa memicu semakin memburuknya hubungan antara Saudi dan Turki. "Turki dan Saudi berbeda dalam sejumlah isu, apakah itu soal Iran, Qatar, Ikhwanul Muslimin. Ada lebih banyak ketidaksepahaman daripada kesepahaman," tutur Dorsey, pengamat dari S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura.
Kasus menghilangnya Khashoggi ini sedang diselidiki otoritas Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara pribadi menantikan hasil investigasi terhadap hilangnya seorang jurnalis Arab Saudi. Dia juga mengaku secara pribadi memantau penyelidikan Kashoggi yang hilang setelah masuk ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada pekan lalu.
"Saya menindaklanjuti (kasus itu) sebagai Presiden Republik Turki," ucapnya, seperti diwartakan CNN, Minggu (7/10). "Saya mengejarnya. Kami akan membagikan hasil penyelidikan kepada dunia. Semua rekaman masuk dan keluar dari gedung konsultan sedang diinvestigasi," katanya.
Laporan menyebut, pihak kepolisian Turki telah memeriksa kamera-kamera pengawas dan tidak melihat Khashoggi meninggalkan konsulat Saudi di Istanbul dengan berjalan kaki.
Berbagai spekulasi pun beredar, dengan sejumlah sumber dalam pemerintahan Turki menuturkan kepada Reuters dan Washington Post bahwa tinjauan awal kepolisian adalah Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Saudi. "Kami meyakini pembunuhan itu direncanakan dan jenazahnya belakangan dikeluarkan dari konsulat," ujar salah satu sumber kepada Reuters.
Khashoggi adalah mantan penasihat pemerintah Saudi yang mengasingkan diri ke AS tahun lalu, demi menghindari penangkapan. Selama ini, Khashoggi diketahui bersikap kritis terhadap sejumlah kebijakan putra mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dan intervensi militer Saudi di Yaman.
Sebagai informasi, Saudi berada di posisi 169 dari 180 negara berdasarkan Indeks Kebebasan Pers Dunia versi Reporters Without Borders (RSF).
Dibunuh Secara Brutal
Sementara itu, kelompok asosiasi jurnalis Turki-Arab mengklaim pihaknya memiliki bukti yang menunjukkan bahwa jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi yang dilaporkan hilang, telah dibunuh. Menurut asosiasi jurnalis ini, Khashoggi dibunuh secara brutal. Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Senin (8/10), klaim itu disampaikan Kepala Asosiasi Media Turki-Arab (TAM), Turan Kislacki, di depan Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul pada Minggu (7/10) waktu setempat. Kepada wartawan setempat, Kislacki menyebut pihaknya telah diberitahu bahwa Khashoggi 'dibunuh secara brutal'.
Khashoggi yang dikenal sebagai jurnalis dan kolumnis tetap untuk media Amerika Serikat (AS), Washington Post, menghilang sejak mendatangi Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Kedatangannya bertujuan untuk mendapatkan dokumen resmi bagi pernikahannya dengan seorang wanita Turki.
Disebutkan Kislakci bahwa pihaknya menerima informasi soal pembunuhan itu sejak dua hari lalu tapi harus menunggu konfirmasi. "Kami mendapat konfirmasi untuk informasi itu kemarin (Sabtu-6/10). Memang benar bahwa Jamal Khashoggi dibunuh," tegas Kislacki dalam pernyataannya. "Informasi kedua menyebut bahwa dia (Khashoggi-red) dibunuh dengan sangat brutal," imbuhnya. Kislacki sama sekali tidak menyebut lebih lanjut soal dari mana dan bagaimana kelompoknya mendapat konfirmasi soal pembunuhan Khashoggi.
Otoritas Turki saat ini tengah menyelidiki laporan hilangnya Khashoggi. Laporan menyebut, pihak kepolisian Turki telah memeriksa kamera-kamera pengawas dan tidak melihat Khashoggi meninggalkan konsulat Saudi di Istanbul dengan berjalan kaki. (AFP/Arabnews/Detikcom/h)