Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Putra Mahkota Saudi Berjanji Pelaku Pembunuhan Khashoggi Akan Dihukum

* Direktur CIA Sudah Dengarkan Rekaman Audio Pembunuhan Khashoggi
- Jumat, 26 Oktober 2018 16:10 WIB
421 view
Putra Mahkota Saudi Berjanji Pelaku Pembunuhan Khashoggi Akan Dihukum
SIB/Rtr
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, terlihat asyik berswafoto (selfie) pada konferensi Future Investment Initiative, ketika dunia menyoroti kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.
Riyadh (SIB) -Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman mengecam pembunuhan Jamal Khashoggi dan menggambarkannya "sangat keji" serta berjanji bahwa keadilan akan terungkap.

Mohammed bin Salman untuk pertama kali mengeluarkan komentar terkait Khashoggi yang dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul pada tanggal 2 Oktober lalu. Ia mengatakan "kejahatan itu menyakitkan bagi semua warga Saudi," namun berjanji tidak akan membiarkan kasus ini menjadi pemecah hubungan dengan Turki. Pihak Saudi sebelumnya menyanggah tuduhan bahwa putra mahkota Saudi berperan dalam pembunuhan itu. Pemerintah Saudi menyebut pembunuhan itu dilakukan "agen-agen liar". "Siapa yang berada di balik kejahatan itu akan bertanggung jawab...pada akhirnya keadilan akan terungkap," kata Pangeran Mohammed bin Salman dalam Forum Investasi di Riyadh, Rabu (24/10) waktu setempat.

Putra Mahkota Saudi mengatakan banyak orang yang menggunakan pembunuhan itu untuk memecah hubungan Turki dan Arab Saudi. "Tidak diragukan lagi, kerja sama antara pemerintah Turki dan Saudi berjalan baik dan kami tahu bahwa banyak orang yang mencoba menggunakan situasi menyakitkan ini untuk menciptakan perpecahan antara Arab Saudi dan Turki. "Dan dari sini saya ingin menyampaikan pesan, anda tidak akan pernah bisa melakukan itu sepanjang kami memiliki raja bernama Salman bin Abdulaziz," katanya disambut tepuk tangan mereka yang hadir dalam forum investasi itu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan Khasoggi, pengkritik pemerintah Saudi itu adalah korban "pembunuhan politik" yang direncanakan dengan hati-hati oleh perwira intelijen Saudi dan pejabat lainnya. Pihak Saudi berusaha menggambarkan forum tetap berjalan seperti biasa, namun Menteri Energi KHalid al-Falih mengakui Selasa (23/10) bahwa terjadi "krisis" terkait pembunuhan Khasoggi.

Mohammed bin Salman, 33, dianggap sebagai penguasa de fakto negara eksportir minyak terbesar dunia ini. Ia banyak dipuji karena melakukan reformasi namun juga menghadapi kritikan berat karena penanganan terkait Yaman dan Qatar. Sejumlah pihak banyak yang menyerukan dia mundur menyusul kasus Khasoggi, di tengah kecurigaan ia terlibat.

Saudi Akui Kirim Tim
Arab Saudi dilaporkan telah mengakui mengirim tim ke konsulat mereka di Istanbul, Turki, dalam kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Pengakuan tersebut dilontarkan dua pejabat anonim Saudi, sebagaimana diwartakan Associated Press via Hurriyet Rabu (24/10). Para pejabat itu berkata, mereka mengaku tim telah dikirim, termasuk di antaranya pakar forensik Salah al-Tubaigy dan Mustafa al-Madani. 

Madani merupakan pria yang berperan sebagai "kembaran" Khashoggi dengan berjalan di sekitar gedung konsulat pada 2 Oktober, atau hari kejadian Khashoggi dilaporkan menghilang. Pejabat itu menjelaskan, rencananya adalah tim itu bakal membawa Khashoggi dari gedung konsulat dan membawanya ke satu "rumah aman". Tubaigy dikerahkan untuk membersihkan bukti bahwa Khashoggi berada di konsulat. 

Sementara Madani bertugas untuk berkeliling dan menunjukkan Khashoggi keluar dengan selamat. Selain itu, terdapat pula kolega Khashoggi yang mempunyai peran untuk membujuknya agar bersedia bekerja sama dengan tim. Namun, proses penangkapan itu berlangsung ricuh dan menyebabkan kontributor The Washington Post tersebut terbunuh karena dicekik. 

Pejabat anonim tersebut menjelaskan, sembilan dari 15 orang tim menjadi panik dan menghubungi salah seorang "kolaborator" Turki. Mereka menjalin kerja sama dengan kolaborator itu untuk membawa jenazah Khashoggi. Jenazah itu dimasukkan ke dalam suatu wadah, dan dibawa ke luar dari konsulat. Associate Press mewartakan, sumber itu tidak bisa menjelaskan klaim penyelidik Turki bahwa jurnalis berusia 60 tahun itu dimutilasi menggunakan gergaji tulang oleh Tubaigy. 

Khashoggi tewas ketika mendatangi gedung konsulat Saudi untuk mengurus dokumen pernikahan dengan tunangannya, Hatice Cengiz, pada 2 Oktober lalu. Awalnya Saudi bersikukuh Khashoggi telah keluar dari gedung. Namun, pekan lalu, mereka akhirnya mengakui bahwa dia tewas dalam pertikaian. Sejumlah media Turki dan dunia memberitakan Khashoggi dibunuh oleh 15 orang, dengan jenazahnya dimutilasi dan dilenyapkan menggunakan cairan asam. Tim 15 orang itu dikabarkan bergerak atas perintah penasihat MBS bidang komunikasi, Saud al-Qahtani. Bahkan, Qahtani memerintahkan pembunuhan melalui Skype. 
Pada Selasa (23/10), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan Khashoggi merupakan korban dari pembunuhan berencana yang kejam. Dia menjelaskan, sebelum Khashoggi dibunuh, tiga warga negara Saudi tiba di Istanbul sehari sebelumnya dan bergerak untuk memetakan lokasi. Erdogan meminta agar 18 orang yang diklaim telah ditangkap otoritas Saudi untuk dibawa ke Istanbul dan diadili di sana. 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) kemungkinan terlibat dalam upaya pembunuhan tersebut. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan, jajarannya bakal melakukan serangkaian kebijakan. Termasuk memberikan sanksi.

Sudah Dengarkan Rekaman Audio
Sementara itu, Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Gina Haspel, dilaporkan telah mendengarkan rekaman audio interogasi dan pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Rekaman itu didengarkan Haspel saat berkunjung ke Turki awal pekan ini. 

Seperti dilansir Anadolu Agency dan Hurriyet Daily News, Kamis (25/10), laporan itu disampaikan media ternama AS, The Washington Post, yang mengutip sejumlah sumber yang memahami kunjungan Haspel ke Turki. "Haspel, yang bertolak untuk perjalanan rahasia ke Turki pada Senin (22/10) waktu setempat, telah mendengarkan (rekaman) audio itu dalam kunjungannya, menurut orang-orang yang familier dengan pertemuan-pertemuannya," tulis The Washington Post dalam laporannya.

"Seseorang yang familier dengan (rekaman) audio itu mengatakan rekaman itu 'meyakinkan' dan bisa memberikan tekanan lebih besar kepada Amerika Serikat untuk meminta pertanggungjawaban Arab Saudi atas kematian Khashoggi," imbuh The Washington Post dalam laporannya. 

Laporan terpisah dari surat kabar Turki, Sabah, menyebut otoritas Turki juga telah membagi rekaman video terkait pembunuhan Khashoggi kepada Haspel. Belum ada tanggapan dari otoritas Turki maupun otoritas AS juga CIA terkait laporan ini. Kunjungan yang dilakukan Haspel ke Turki juga tidak dikonfirmasi oleh CIA. Sebelumnya, sejumlah sumber, yang dikutip Reuters, menyebut kunjungan itu dimaksudkan untuk membahas dan membantu penyelidikan kasus Khashoggi yang masih dilakukan oleh otoritas Turki. Sedangkan empat sumber berbeda yang dikutip Reuters menyebut bahwa Haspel juga berniat mendengar langsung rekaman yang diklaim sebagai bukti kasus Khashoggi itu. 

Para pejabat Turki sebelumnya mengklaim telah memiliki bukti berupa rekaman audio dan video yang membuktikan Khashoggi disiksa dan dibunuh, bahkan dimutilasi. Pemberitaan soal bukti rekaman itu banyak dibahas media. Namun ternyata Turki belum membagikan bukti-bukti itu kepada negara lain, termasuk AS dan sekutunya. Padahal Presiden AS Donald Trump telah meminta Turki untuk membagikan bukti-bukti yang didapatnya. Diketahui bahwa badan-badan intelijen AS dan Eropa kesulitan mendapatkan bukti saat menyelidiki dugaan keterlibatan putra mahkota Saudi dalam kasus Khashoggi. Dilaporkan CNN bahwa Haspel dijadwalkan akan menyampaikan briefing kepada Trump terkait penyelidikan kasus Khashoggi pada Kamis (25/10) waktu setempat. (Anadolu Agency/Hurriyet Daily News/AP/dtc/kps/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru