Washington (SIB)- Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (17/7), memperingatkan pengetatan sanksi Washington terhadap negaranya akan menjadi bumerang dan merugikan kepentingan nasional Amerika Serikat itu sendiri. "Tanpa ada keraguan dalam kasus ini (sanksi) membawa hubungan Rusia-AS menuju titik akhir, (dan) menyebabkan kerusakan serius bagi mereka," kata Putin seperti dikutip kantor berita ITAR TASS, saat mengunjungi Brasilia. "Dan saya yakin bahwa ini akan merugikan kepentingan jangka panjang nasional Amerika serta rakyat Amerika," kata Putin.
Amerika Serikat memberlakukan sanksi untuk individu yang dianggap merusak kedaulatan Ukraina atau menggelapkan properti Ukraina. "Sanksi ini penting, tapi sanksi tersebut juga membidik, yang dirancang untuk memiliki dampak maksimal atas Rusia dan pada saat yang sama membatasi dampak rembesan atas perusahaan Amerika atau mereka yang menjadi sekutu kami," kata Presiden AS Barack Obama di dalam pidato di Gedung Putih pada Rabu.
Sanksi itu melarang warga negara Amerika menyediakan keuangan baru untuk Gazprombank OAO dan VEB, dua lembaga utama keuangan Rusia, dan perusahaan energi OAO Novatek dan Rosneft, serta membatasi akses mereka ke pasar modal AS, kata pernyataan Kementerian Keuangan seperti dikutip kantor berita Xinhua.
Amerika Serikat juga membidik delapan perusahaan senjata Rusia, yang bertanggung jawab atas produksi sejumlah barang yang meliputi senjata ringan, bom mortir, dan tank, serta Feodosiya Enterprises, instalasi utama pelayaran di Semenanjung Krimea.
Sosok yang dikenai sanksi antara lain empat pejabat Pemerintah Rusia termasuk Sergey Beseda, pejabat tinggi Dinas Keamanan Federal Rusia. Sanksi baru tersebut adalah yang paling menghukum setakat ini bagi campur tangan Rusia di Ukraina, kata New York Times --yang mengutip pernyataan beberapa pejabat AS.
Putin yang tengah berada dalam kunjungan enam hari ke Amerika Latin, mengindikasikan Moskow butuh waktu menakar kemungkinan kerugian sebelum memberikan tanggapan. "Seseorang harus melihat apa sanksi itu, untuk lebih memperjelas, tanpa terburu-buru, dengan tenang," katanya.
Ia menuduh Amerika Serikat bertindak agresif dengan menekankan krisis di Irak, Libya, dan Afghanistan. Para pejabat Amerika Serikat, katanya, melakukan kebijakan luar negeri yang agak agresif dan agak tidak profesional untuk hal tersebut, menurut pendapat dia.
Pada saat yang sama, ia mengungkapkan harapan akan kembalinya akal sehat dan kedua negara bisa memecahkan semua masalah secara diplomatis. "Sungguh disayangkan partner kami mengikuti jalan ini. Namun kami tidak menutup pintu bagi proses negosiasi, untuk keluar dari situasi ini."
Ia mengatakan perusahaan-perusahaan energi AS akan menjadi korban utama akibat langkah penghukuman AS tersebut. "Mereka menyebabkan kerusakan pada perusahaan-perusahaan energi besar mereka dan semua ini untuk apa?" kata Presiden Rusia seperti dikutip kantor berita Ria Novosti.
Amerika Serikat dan Eropa secara dramatis memperketat sanksi terhadap Moskow terkait krisis Ukraina, dengan Washington untuk pertama kalinya menyasar sektor perbankan, militer dan energi Rusia. Serangan baru terhadap Rusia ini memperburuk ketegangan paling serius antara Moskow dengan Barat sejak berakhirnya Perang Dingin, di saat pertempuran antara pasukan pemerintah Kiev dan separatis pro-Rusia terancam meningkat menjadi perang sipil.
(Ant/AFP/f)