Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 24 April 2026

Oposisi Suriah Kecam Kebijakan Membingungkan AS

* Sudah 865 Orang Tewas Akibat Bombardir AS di Suriah, 13,6 Juta Terlantar
- Kamis, 13 November 2014 12:22 WIB
281 view
London (SIB)- Pemimpin oposisi moderat Suriah menuduh sekutu pimpinan Amerika Serikat menerapkan siasat membingungkan di Irak dan Suriah, yang menyasar pejihad, tapi menutup mata pada kejahatan Presiden Bashar al Assad. "Sekutu memerangi gejala masalah, yaitu ISIS (kelompok Negara Islam), tanpa mengatasi penyebab utama, yakni pemerintah," kata ketua Persekutuan Bangsa Suriah Hadi Bahra seperti dilansir dari Associated Press, Rabu (12/11).

"Orang melihat pesawat sekutu memukul ISIS tapi menutup mata pada angkatan udara Assad, yang menggunakan bom tandan dan roket terhadap warga di Aleppo dan di tempat lain," katanya dalam wawancara dengan The Guardian.

Bahra mengatakan itu dalam kunjungan ke London, saat ia bertemu perwakilan 11 negara pendukung persekutuannya dalam melawan pemerintah Assad. "Orang merasa ada rencana dan kerjasama tersembunyi antara sekutu dengan pasukan Assad karena Assad menganggap ia memiliki tangan bebas," tukas Bahra.

Bahra juga menuduh sekutu betul-betul mengabaikan pejuang dari pemberontak Tentara Pembebasan Suriah. "Seluruh gerakan itu membingungkan. Serangan udara tidak akan bisa membuat menang dalam pertempuran melawan kelompok keras. Anda harus mengalahkan ISIS di darat," katanya. "Anda harus berurusan dengan penyebab utama dan sumber persoalan garis keras, yaitu pemerintah," katanya.

865 Orang Tewas
Serangan udara militer Amerika Serikat dan pasukan koalisi di Suriah dilaporkan telah menewaskan 865 orang, termasuk 50 warga sipil. Jumlah tersebut tercatat sejak operasi militer AS terhadap ISIS di Suriah dimulai pada akhir September lalu.

Disampaikan kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, seperti dilansir Reuters, Rabu (12/11), mayoritas korban tewas merupakan anggota militan ISIS. Disebutkan juga bahwa jumlah korban tewas sebenarnya bisa saja lebih tinggi.

Menurut Syrian Observatory, sebanyak 8 warga sipil yang tewas merupakan anak-anak. Sedangkan sebanyak 68 korban tewas lainnya merupakan anggota militan Nusra Front yang menentang Presiden Bashar al-Assad.

Syrian Observatory menambahkan, serangan udara AS dan koalisi mengenai wilayah Aleppo, kemudian juga Deir al-Zor, Hasaka, Raqqa dan Idlib. Pihak AS mengatakan pihaknya menanggapi setiap laporan mengenai warga sipil yang menjadi korban tewas akibat serangan udaranya. AS juga menyatakan, pihaknya memiliki proses untuk menyelidiki setiap laporan yang ada. AS mendasarkan aksinya di Suriah pada Pasal 51 Piagam PBB, yang mengatur soal hak individu maupun kolektif untuk mempertahankan diri terhadap serangan bersenjata.

Sementara itu, menurut PBB, sebanyak 200 ribu orang tewas akibat serangkaian konflik di wilayah Suriah yang kini memasuki tahun keempat. Sekitar 13,6 juta orang kehilangan tempat tinggal akibat konflik yang terjadi di wilayah Irak dan Suriah. Banyak dari pengungsi yang tinggal tanpa makanan dan tempat penampungan yang layak, terlebih menjelang musim dingin.

Angka tersebut disampaikan oleh lembaga pengungsi PBB, UNHCR seperti dilansir Reuters, Rabu (12/11). Direktur UNHCR untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, Amin Awad menyebut dunia telah mati rasa dengan kebutuhan para pengungsi di wilayah tersebut. "Sekarang, ketika kita berbicara tentang jutaan orang terlantar dalam waktu 2 bulan terakhir, atau sekitar 500 ribu dalam semalam, dunia sama sekali tidak menanggapi," ucap Awad kepada wartawan di Jenewa, Swiss.

Dari angka 13,6 juta tersebut, menurut UNHCR, sekitar 7,2 juta orang yang terlantar di dalam wilayah Suriah ditambah dengan 3,3 juta pengungsi asal Suriah yang kini ada di luar negeri.  Sedangkan sekitar 1,9 juta orang lainnya terlantar di dalam wilayah Irak akibat konflik etnis dan keberadaan ISIS yang terjadi sepanjang tahun ini. Ditambah 1 juta orang yang terlantar pada tahun sebelumnya dan 190 ribu warga Irak yang menyelamatkan diri ke luar negeri.

Sebagian besar pengungsi asal Suriah memilih pergi ke London, Inggris, lalu ke Yordania dan Irak atau Turki. Menurut Awad, negara-negara tersebut memberikan dukungan bagi pengungsi Suriah yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak. "Negara lain di dunia ini, terutama negara Eropa dan sekitarnya, seharusnya membuka perbatasan mereka dan berbagi beban," sebutnya.

Juru bicara Program Makanan Dunia (WFP) pada PBB, Eliisabeth Byrs menuturkan kepada Reuters, pihaknya telah memotong rasio bantuan bagi 4,25 juta orang dan masih kekurangan dana untuk bisa memenuhi suplai pangan bagi para pengungsi untuk bulan depan.

Sedangkan UNHCR menyatakan, pihaknya hanya memiliki donasi US$ 58,5 juta bagi 990 ribu pengungsi untuk musim dingin, sehingga mereka harus memprioritaskan bagi pengungsi yang berada di dataran lebih tinggi dan dalam kondisi lebih rawan. Lebih lanjut, Awad mendorong negara-negara di dunia untuk lebih peduli dan membantu lebih banyak bagi para pengungsi Irak dan Suriah.

Assad, Selasa (11/11) menyatakan siap mempelajari rencana Perserikatan Bangsa-Bangsa menghentikan perang di kota utara, Aleppo, kata pernyataan kantornya. "Presiden Assad sudah diberitahu (utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa Staffan) de Mistura tentang masalah utama prakarsanya," kata pernyataan itu, yang dikeluarkan sesudah keduanya mengadakan pembicaraan di Damsyik. "Assad mengatakan itu layak dipelajari dan kajian diperlukan untuk membangun kembali keamanan di Aleppo," tambahnya.

Itu kunjungan kedua De Mistura ke Suriah sejak ditunjuk menjadi utusan perdamaian pada Juli. Pada 30 Oktober, De Mistura mengajukan rencana tindakan untuk Suriah, yang mengusulkan "pembekuan" pertempuran di daerah setempat untuk memungkinkan pengiriman bantuan dan meletakkan dasar untuk pembicaraan perdamaian. (Ant/AP/R16/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru