Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 21 Agustus 2026
Sikap Agresif Rusia Hilangkan Persahabatan dengan Ukraina

Crimea Siapkan Langkah Penggabungan dengan Rusia

* Ketergantungan Jerman Terhadap Gas Rusia Bahayakan Uni Eropa
- Selasa, 11 Maret 2014 17:06 WIB
552 view
 Crimea Siapkan Langkah Penggabungan dengan Rusia
Kiev (SIB)- Sikap agresif Rusia membuat Negeri Beruang Merah kehilangan persahabatan dengan Ukraina. Rusia juga memilih mendukung aksi sepihak di Crimea. "Padahal, persahabatan itu sudah berlangsung lama," kata Mikhail Khodorkovsky dalam kuliah umumnya di hadapan mahasiswa di Kiev, ibu kota Ukraina.

Khodorkovsky menambahkan, "Ukraina kehilangan persahabatan dengan Rusia karena tingkah laku Rusia." Mikhail Khodorkovsky memang bukan orang asing di Rusia. Ia adalah konglomerat paling tajir di negara tersebut. Pria dengan nama asli Mikhail Borisovich Khodorkovsky ini pernah menjadi orang nomor satu di perusahaan eksplorasi minyak mentah Siberia, Yukos. Sejauh ini, kekayaan bersih pria berusia 50 tahun tersebut mencapai 170 juta dollar AS versi majalah Forbes, tulis AP pada Senin (10/3).

Pada masa Vladimir Putin memerintah Rusia pada 2003, Khodorkovsky diseret ke pengadilan. Soalnya, dia dianggap melakukan pencucian uang dan tindakan mengemplang pajak. Bulan Mei 2005, pria beranak empat itu divonis penjara sembilan tahun. Namun, pada Desember 2013, Vladimir Putin memberikan pengampunan sehingga Khodorkovsky bisa bebas dari penjara.

Penggabungan dengan Rusia

Sementara itu, Perdana Menteri Crimea Sergei Aksyonov, Senin (10/3/2014), mengatakan persiapan penggabungan wilayah selatan Ukraina itu dengan Rusia sudah dilakukan. Pasukan Rusia membanjiri Crimea sejak jatuhnya presiden Viktor Yanukovych yang pro-Rusia. Kini, Crimea sedang mempersiapkan referendum sebagai salah satu rencana penggabungan dengan Rusia.

Tak hanya referendum, Crimea bahkan sudah siap untuk menerapkan undang-undang Rusia dalam beberapa bulan setelah referendum. Bahkan, kementerian keuangan setempat sudah mempersiapkan skema perpindahan mata uang dari hryvnia ke rubel.

Referendum di Crimea, yang 60 persen penduduknya adalah etnis Rusia, diharapkan berbuah hasil yang diinginkan agar melapangkan jalan aneksasi Moskwa terhadap wilayah itu. Namun, Aksyonov menjanjikan, jika Crimea bergabung dengan Rusia maka bahasa Ukraina tetap menjadi salah satu bahasa resmi wilayah semenanjung itu. "Setiap hari kami menggunakan dua bahasa yaitua Rusia dan Tatar Crimea. Jadi sudah pasti republik (Crimea) akan menggunakan dua bahasa," kata Aksyonov seperti dikutip kantor berita RIA Novosti.

Sebanyak 15 persen penduduk Crimea adalah etnis Tatar, yang sejauh ini masih mendukung pemerintah Kiev.  Sehingga, Aksyonov juga menjanjikan para tokoh masyarakat Tatar akan mendapatkan kursi menteri senior dalam pemerintahan baru Crimea nantinya.

Pemimpin Crimea Beri Dua Tawaran

Jika akhirnya Crimea menjadi bagian dari Rusia, pemimpin Republik Otonomi Crimea akan memberikan tawaran. Sergei Aksyonov, yang mengangkat dirinya sebagai pemimpin Crimea, mengatakan kalau tawaran bagi rakyatnya adalah memilih Rusia atau berpaspor Ukraina. "Semuanya akan terwujud pada referendum 16 Maret nanti," katanya, sebagaimana warta RIA pada Senin (10/3).

Tak cuma itu, imbuh Aksyonov, jika menjadi bagian dari Rusia, maka rakyat Crimea akan menggunakan dua bahasa, yakni Rusia dan Tatar. Catatan menunjukkan bahwa dari 2 juta warga Crimea, 250.000 di antaranya berasal dari etnis Tatar. Sampai sekarang, Crimea menjadi bagian dari Ukraina.
Etnis Tatar adalah penduduk asli Crimea. Pada masa ketika Josef Stalin memimpin Uni Soviet pada 1920-1953, etnis ini menjadi minoritas yang acap mendapat perlakuan diskriminatif. Sejak kembali ke Crimea pada 1980, etnis Tatar menentang aneksasi oleh Rusia.

Ketergantungan Jerman Terhadap Gas Rusia Bahayakan Uni Eropa


Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, Senin (10/3), memperingatkan terlalu tergantungnya Jerman terhadap gas alam dari Rusia mengancam kedaulatan Eropa. "Ketergantungan Jerman terhadap gas Rusia bisa secara efektif mengurangi kedaulatan Eropa," kata Tusk di tengah memanasnya hubungan Eropa-Rusia terkait masalah Ukraina.

Negara dengan ekonomi terkuat di Eropa itu membeli sepertiga kebutuhan gas dan minyaknya dari Rusia dan memiliki hubungan dagang yang luas dengan negeri besar itu.

Jerman berusaha untuk mencairkan kebuntuan antara Barat dan Moskwa terkait krisis Ukraina. Namun, Jerman tak berani berbicara lantang karena khawatir hubungan ekonominya dengan Rusia akan berdampak. "Isu Ukraina adalah masalah masa depan keamanan Uni Eropa," lan jut Tusk saat mengunjungi sebuah pangkalan militer di wilayah utara negeri itu.

Tusk menambahkan, 28 negara anggota Uni Eropa harus mengevaluasi kebijakan energi mereka. "Saya akan berbicara terus terang kepada Merkel, membuat semua jelas bahwa dengan kondisi saat ini dan kebijakan gas Rusia mengancam keamanan dan kedaulatan Eropa sebagai kesatuan," tambah Tusk. "Saya akan sampaikan pandangan politik ini terkait ancaman politik terkait ketergantungan terhadap gas dan uang Rusia," lanjut dia.

Rusia adalah penghasil satu-satunya energi di Eropa dan pipa-pipa gas alam Rusia yang melintas Ukraina sebagian digunakan untuk memasok gas alam ke negara-negara kaya Eropa Barat, termasuk Jerman. (Kps/RIA Novosti/AP/R16/f)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru