Kuala Lumpur (SIB)- Sebuah laporan dari PBB memberikan harapan baru atas peristiwa hilangnya MAS MH370 pada 8 Maret 2014 lalu. Lembaga dunia tersebut mengatakan ada kemungkinan pesawat Malaysia Airlines masih utuh. Hal ini didukung oleh fasilitas radar super sensitif yang dimiliki oleh organisasi di bawah badan perserikatan bangsa itu.
Adalah Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty OrganiÂsation (CTBTO) yang memiliki fasilitas radar super sensitif yang mampu mendeteksi ledakan atau kecelakaan di seluruh dunia, baik di darat maupun di lautan. Organisasi dan fasilitas ini berada di Austria.
Seperti dilansir The Star Online Malaysia, Rabu (19/3), Sekretaris Eksekutif CTBTO Lassina Zarbo mengatakan, kecelakaan pesawat bisa dideteksi dengan tiga dari empat teknologi yang digunakan oleh Monitoring System International Organization.
"Data kami berpotensi menjelaskan keberadaan penerbangan MH370. Kami berutang kepada keluarga penumpang yang cemas menunggu kabar dari orang yang mereka cintai, sehingga tidak menutup kemungkinan akan kami gunakan sistem itu sepenuhnya," ujar Lassina melalui situs CTBTO.
Sistem ini sebenarnya digunakan untuk mendeteksi ledakan nuklir di seluruh dunia. Namun kemampuannya juga mampu mendeteksi ledakan pesawat besar serta dampaknya di tanah dan di atas lautan. Stasiun CTBTO telah mendeteksi beberapa kecelakaan pesawat yang pernah terjadi, termasuk kecelakaan pesawat di Bandara Narita Jepang pada Maret 2009. Jika informasi CTBTO benar, maka muncul pertanyaan posisi pesawat saat ini.
Walau penyidik tidak mengesampingkan kemungkinan pesawat jatuh di Samudera Hindia, tetapi mereka juga melihat kemungkinan lokasi pesawat mendarat. Seperti laporan penduduk Maladewa yang mengaku melihat pesawat asing dengan corak garis merah terbang sangat rendah melintasi pulau Kuda Huvadhoo di hari hilangnya MH370.
Mahasiswa Taiwan Temukan Foto Satelit Pesawat di Hutan, Diduga MH370Sebuah foto satelit menunjukkan sebuah bentuk pesawat berwarna putih berada di sebuah hutan. Tetapi tidak diketahui apakah foto itu adalah benar pesawat Malaysia Airlines MH370. Foto satelit itu diambil dari situs Tomnod, -sebuah situs peta pencarian yang digunakan oleh ribuan orang untuk membantu pencarian pesawat Malaysia Airlines- dan diposting oleh situ Reddit.
Keaslian dari foto tersebut masih belum bisa diverifikasi dan wilayah dari foto tersebut masih belum diketahui. Mengejutkan melihat foto tersebut, karena menunjukkan bayangan pesawat berwarna masih dalam keadaan utuh. Demikian diberitakan Daily Mail, Rabu (19/3).
Menurut media China, China Times, foto satelit tersebut ditemukan oleh seorang mahasiswa dari Taiwan. Foto ini dikeluarkan di saat seorang warga Malaysia mengaku melihat pesawat melintasi desa mereka pada Minggu, 16 Maret 2014 lalu.
Sembilan orang nelayan di Kelantan, melaporkan kesaksian mereka kepada polisi. Mereka mengaku melihat kilatan cahaya di langit dan disertai dengan suara gemuruh keras. Informasi baru juga menunjukkan bahwa pesawat yang diduga Malaysia Airlines MH370 terlihat di Maladewa. Beberapa saksi di wilayah Dhaalu mengaku melihat sebuah pesawat melintas mengarah selatan. Pesawat dalam ukuran besar itu diketahui memiliki garis dan cat seperti pesawat Malaysia Airlines.
Warga setempat mengaku melihat pesawat itu sekira lebih dari tujuh pesawat dinyatakan hilang. Namun mereka masih belum terlalu yakin. Mereka mengaku tidak pernah melihat sebuah pesawat jet terbang rendah di wilayah pulaunya. Mereka bahkan mengaku bisa melihat pintu dari pesawat dengan jelas.
Ada Data yang Sengaja Dihapus dalam Simulator Milik Pilot MAS MH370Kepolisian Malaysia terus menyelidiki simulator penerbangan milik pilot pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370. Hasil sementara menunjukkan adanya sejumlah data di dalam simulator tersebut yang sengaja dihapus. Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi menuturkan, ahli forensik komputer terus bekerja untuk mengembalikan data-data yang dihapus tersebut. Data-data yang dihapus tersebut merupakan data baru dan diyakini bisa membantu penyelidikan hilangnya MAS MH370.
Namun demikian, Ahmad menyatakan bahwa kepolisian tidak lantas menuding pilot MAS MH370 Kapten Zaharie Ahmad Shah melakukan sabotase. Hal ini juga tidak dimaksudkan untuk menekan keluarga Kapten Zaharie.
Menurut Ahmad, hal ini justru memicu polisi untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan semakin intensif. Demikian seperti dilansir New Straits Times, Rabu (19/3). "Polisi telah mengundang sejumlah operator Boeing 777 dan juga pihak-pihak yang ahli dalam simulator penerbangan, demikian juga dengan pelaku profesional IT (Information Technology) untuk membantu penyelidikan ini," jelas Ahmad.
Ahmad Zahid menambahkan, pihaknya akan menggelar pertemuan dengan pihak-pihak terkait dalam waktu dekat, khusus untuk membahas protokol keamanan di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) dan sejumlah bandara lainnya.
Sebelumnya diungkapkan oleh seorang sumber yang mengetahui penyelidikan ini, pilot MAS MH370 pernah mempelajari sejumlah landasan yang ada di beberapa negara Asia Selatan dan juga landasan militer Amerika Serikat.
Media setempat, Berita Harian melaporkan bahwa simulator penerbangan yang disita dari rumah Kapten Zaharie menunjukkan adanya software lima landasan penerbangan berbeda, yakni Bandara Internasional Male di Maladewa, lalu tiga bandara di India dan Sri Lanka, dan sebuah bandara milik pangkalan militer AS di Diego Garcia. Seluruh landasan pacu tersebut memiliki panjang hingga 1.000 meter.
Kepolisian Malaysia menyita simulator penerbangan tersebut dari rumah Kapten Zaharie pada Sabtu (15/3) lalu. Oleh polisi, simulator tersebut kemudian disusun kembali di markas kepolisian federal di Bukit Aman dan kemudian diperiksa oleh ahli khusus penerbangan.
Pilot MAS MH370 Tak Ada Pengalaman Terbang ke 2 Koridor PencarianPenyelidikan hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 masih difokuskan pada pilot, awak dan penumpangnya merujuk pada indikasi pesawat sengaja dialihkan penerbangannya. Menanggapi hal ini, maskapai MAS menegaskan bahwa pilot dan kopilot MH370 tidak memiliki pengalaman terbang ke wilayah yang menjadi dua koridor utama pencarian saat ini.
"Kami tidak terbang ke wilayah itu sama sekali sebagai maskapai komersial. Kami tidak melakukan penerbangan ke koridor tersebut. Mereka (pilot dan kopilot) tidak memiliki pengalaman terbang ke sana," jelas CEO Malaysia Airlines, Ahmad Jauhari Yahya seperti dilansir The Star, Rabu (19/3).
Pernyataan Ahmad Jauhari ini menanggapi pertanyaan wartawan mengenai pengalaman terbang pilot Kapten Zaharie Ahmad Shah dan kopilot Fariq Abdul Hamid yang memegang kendali MAS MH370, yang hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Hal ini juga merujuk pada pertanyaan besar mengenai siapa yang sebenarnya sedang memegang kendali di kokpit ketika sistem komunikasi MAS MH370 dimatikan.
Mengenai sistem komunikasi, Ahmad Jauhari menyatakan pihaknya tidak mengesampingkan kemungkinan adanya malfungsi pada sistem komunikasi pesawat atau yang disebut Aircraft ComÂmuÂniÂcations Addressing and Reporting System (ACARS). Namun dia menekankan bahwa pesawat masih terus melakukan komunikasi satelit hingga pukul 08.11 waktu Malaysia, pada Sabtu, 8 Maret lalu ketika hilang kontak.
Ahmad Jauhari memastikan bahwa komunikasi terakhir dari kokpit kepada menara kontrol Air Traffic Control (ATC) terjadi pada pukul 01.19 waktu Malaysia. Namun dia tidak bisa memastikan kapan sistem ACARS dimatikan. Perkiraan waktunya bisa terjadi antara transmisi terakhir pada 01.07 waktu setempat hingga transmisi selanjutnya pada 01.37 waktu setempat.
Tidak hanya itu, kepada wartawan Ahmad Jauhari juga mengaku tidak bisa memastikan apakah sistem ACARS dimatikan sebelum pesan terakhir dari kokpit. Karena hal ini bisa semakin memperkuat indikasi bahwa salah satu pilot atau seseorang di dalam pesawat sengaja menyesatkan ATC sambil mematikan ACARS. Terakhir, ketika ditanya apakah MAS MH370 memang diprogram untuk terbang dengan tujuan ke barat, Ahmad Jauhari menyatakan bahwa sepengetahuan pihaknya, pesawat tersebut hanya diprogram untuk terbang ke Beijing, China. Operasi pencarian MAS MH370 difokuskan pada dua koridor utama, yakni koridor utara yang membentang dari wilayah Kazakhstan dan Turkmenistan di kawasan Asia Tengah dan koridor selatan yang membentang luas di Samudera Hindia. Area pencarian ini mencakup seluas 2,24 juta mil laut persegi atau setara 7,6 juta kilometer persegi.
Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 20 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.