Sittwe (SIB)-
Pekerja badan bantuan asing meninggalkan kota rusuh di Myanmar barat pada Jumat, setelah kantor mereka diserang dalam bentrokan, yang menewaskan seorang bocah perempuan berumur 11 tahun.
Warga berkabung memberi penghormatan terakhir kepada bocah malang itu, yang menurut polisi secara tidak sengaja tertembak pada Kamis saat petugas keamanan membubarkan massa, yang mengamuk dan menyerang gudang Badan Pangan Dunia (WFP).
"Ia tertembak saat petugas keamanan melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa di gudang WFP," kata Letkol Min Aung kepada AFP melalui telepon.
Pihak berwenang setempat yang telah memberlakukan jam malam mengatakan anak itu merupakan satu-satunya korban dalam aksi kekerasan terakhir di Sittwe, ibukota provinsi Rakhine.
Petugas keamanan menjaga gedung-gedung yang rusak pada Jumat, setelah massa melemparinya dengan batu, menghancurkan barang-barang dan menjarah gudang milik kelompok bantuan kemanusiaan asing di provinsi dimana kerusuhan berlatar belakang agama memaksa puluhan ribu orang mengungsi.
Lebih dari selusin warga asing tampak menunggu penerbangan di bandara kota itu, dan banyak organisasi kemanusiaan memindahkan sementara staf mereka dari kawasan itu untuk menghindari konflik yang lebih parah.
Badan bantuan medis Jerman Malteser International mengatakan semua stafnya meninggalkan wilayah itu pada Jumat.
Kerusuhan mulai pecah di wilayah itu pada Rabu malam saat ratusan massa dari kelompok Buddha berkumpul di sekitar kantor Malteser di Sittwe, menuding seorang pekerja Amerika telah memperlakukan bendera simbol agama dengan cara tidak hormat.
Malteser membantah tudingan itu dan mengatakan pecahnya aksi kekerasan terkait dengan rencana sensus penduduk yang mengipasi bara ketegangan antara komunitas Buddha dan Muslim di wilayah itu.
Pekerja kemanusiaan di wilayah konflik itu menghadapi tekanan dari nasionalis Buddha yang menuding mereka telah bersikap bias dan berpihak pada kelompok Muslim, terutama kepada kelompok minoritas Rohingya.
Lebih dari 70 pekerja kemanusiaan, termasuk 30 orang asing mendapat penjagaan polisi terkait aksi kekerasan itu.
Kantor-kantor badan pengungsi PBB termasuk diantara badan yang menjadi sasaran serangan.
Koordinator kemanusiaan PBB di Myanmar Toily Kurbanov mengatakan ia sangat prihatin dengan kekerasan itu, dan menambahkan bahwa pihaknya memastikan untuk melanjutkan operasinya di wilayah itu.
Kedutaan Besar AS di Yangon mengeluarkan pernyataan yang mengutuk kekerasan massa itu dan memastikan bahwa setidaknya ada tiga pekerja kemanusiaan warga negara AS yang mendapat "relokasi darurat" itu.
Myanmar pada Jumat mengatakan akan membentuk komite untuk mengusut kekerasan itu --kasus terakhir dalam serangkaian penyelidikan terhadap konflik berkepanjangan -- dan tim tingkat tinggi telah berangkat menuju wilayah tersebut.
Permusuhan lama antara kelompok Buddha dan Muslim di Rakhine pecah menjadi bentrokan berdarah pada 2012 yang menewaskan puluhan orang dan memaksa sekitar 140 ribu orang mengungsi.
Bendera Buddha dikibarkan di seluruh pelosok kota sebagai protes terhadap Muslim terkait digelarnya sensus, yang oleh kelompok garis keras Buddha akan diboikot karena khawatir sensus itu membolehkan Muslim mengklaim hak politik.
Bulan lalu kelompok bantuan medis Doctors Without Borders (MSF) diusir dari wilayah itu menyusul serangkaian aksi protes terhadap organisasi itu, sehingga menyebabkan puluhan ribu warga Rohingya di komunitas terpencil bergantung pada layanan kesehatan pemerintah.
Saat itu para pakar memperingatkan bahwa langkah itu akan membuat kelompok garis keras Rakhine semakin berani untuk mengusir badan bantuan asing lain.
Rohingya yang oleh PBB disebut sebagai salah satu kaum paling teraniaya, menjadi sasaran pembatasan untuk bepergian, bekerja, bahkan untuk menikah.
Komunitas Buddha dan pemerintah setempat menganggap mereka sebagai imigran gelap dari negara tetangga Bangladesh.
(Ant)