Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 31 Mei 2026

Aliran Anak Sungai Hitam Pekat Diduga Akibat Pencemaran Limbah PKS di Besitang

- Kamis, 23 Januari 2014 12:28 WIB
1.947 view
Aliran Anak Sungai Hitam Pekat Diduga Akibat Pencemaran Limbah PKS di Besitang
SIB/LEsman Simamora
Terlihat dalam gambar, air berwarna pekat mengaliri anak sungai (paluh) diduga akibat pencemaran limbah PKS PT JBP di Desa Sei Meran, Kecamatan Pangkalansusu.
Pangkalansusu (SIB)- Kondisi air di aliran anak sungai (paluh) di perbatasan antara Desa Sei Meran, Kecamatan Pangkalansusu, dengan Lingk X Kelurahan Bukitkubu, Kecamatan Besitang, berwarna hitam pekat. Kondisi ini diduga akibat pencemaran dari limbah industeri pabrik kelapa sawit PT JBP.

“Air di aliran anak sungai berwarna hitam legam dan sudah mulai mengeluarkan aroma tak sedap.  Sungai yang dahulunya sangat potensial dan menjadi lapak andalan bagi nelayan karena potensi udang galahnya, kini telah ditinggalkan nelayan, karena lingkungan anak sungai sudah tercemar. Sungai ini kondisinya sangat rentan karena sejak puluhan tahun menjadi tempat pembuang limbah diduga dari salah satu Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Meskipun tidak membahayakan manusia, tapi limbah ini sangat berpotensi mengancam reproduksi biota laut seperti, ikan, kepiting dan udang galah.

Salah seorang pemuka nelayan yang juga Ketua Kelompok Masyarakat Pengawasan (Pokmaswas) yang dibentuk Dinas Kelautan dan Perikanan Langkat, Bakhtiar Nasution, kepada  wartawan meminta kepada instansi berkompeten memproses perusahaan yang diduga membuang limbah melanggar UU Lingkungan Hidup RI No.15 Tahun 2011 tentang baku mutu air limbah.

Dia mengatakan, aliran sungai ini dahulu sangat potensial karena populasi udang galahnya yang berkembang. Tapi, sekarang ini, lanjutnya, lapak nelayan tradisional ini mencari nafkah sudah tidak menjanjikan rejeki akibat air sungai selalu terkontaminasi limbah.

Sekarang ini, kehidupan nelayan kecil sangat terjepit. Selain dampak pembuangan limbah dari sejumlah PKS yang ada khususnya di kawasan pesisir pantai, nelayan juga harus menghadapi kenyataan pahit dengan penutupan ratusan paluh oleh beberapa perusahaan perkebunan yang mengkonversi hutan mangrove.

Nasution menekankan kepada pemerintah untuk menindak tegas perusahaan yang merusak lingkungan. “Kita meminta kepada aparatur pemerintah dapat menegakkan peraturan perundangan secara konsisten dengan harapan agar nasib nelayan tradisonal dapat dlindungi,” pungkasnya.

Terkait dugaan pencemaran limbah PKS, salah seorang pekerja PT JBP bagian limbah, Misnan bersama wartawan termasuk SIB, juga Kades Sei Meran, Jailani turun langsung ke lokasi anak sungai yang diduga tercemar tak jauh dari Titi Panjang perbatasan Kecamatan Besitang dan Kecamatan Pangkalansusu.

Menurut, Misnan, pihak perusahaan saat ini sedang melakukan perbaikan terhadap beberapa kolam penampungan limbah PKS PT JBP, termasuk melengkapi sarana kincir air, dia mengakui belakangan ini dengan waktu relatif panjang, kondisi bak penampung limbah PKS ada yang tidak beres. 

Secara terpisah, Manejer PT Jaya Baru Pertama, Robert dikonfirmasi SIB, Senin (20/1) di ruangan kerjanya membenarkan adanya warga petani yang melapor secara lisan bahwa ada tanaman padinya rusak diduga akibat pencemaran limbah pabrik kelepa sawit (PKS) berlokasi di Desa Sei Meran, Kecamatan Pangkalansusu.

Menindaklanjuti laporan petani itu, kata Robert, ia didampingi sejumlah stafnya telah turun ke lokasi untuk melihat tanaman padi tersebut, sembari mengambil sample tanah dan air dari dalam sungai untuk dilakukan pemeriksaan dan penelitian.

Menurut Robert, meski kondisi air di dalam anak sungai (paluh) terlihat berwarna hitam, itu belum tentu akibat pencemaran limbah dari PKS, sebab antara air limbah PKS dengan air laut saat terjadi pasang surut menyatu  dalam aliran anak sungai tersebut. Yang jelas, kita tunggu dulu hasil penelitian apakah limbah mengandung racun atau tidak. “ 

Terkait dugaan pencemaran, ia belum memiliki data dari perusahaan apakah kolam-kolam penampungan limbah PKS sudah sesuai dengan standart operasional (SOP). “ Saya baru beberapa  hari mendapat tugas sebagai manajer di PT Jaya Baru Pertama (JBP), ” ujar Robert menambahkan. (B3/w)
 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru