Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 12 September 2026

Angin Kencang dan Kelangkaan Solar Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Tanjung Beringin

Muhammad Arif Hidayatullah - Rabu, 15 Juli 2026 19:42 WIB
358 view
Angin Kencang dan Kelangkaan Solar Lumpuhkan Aktivitas Nelayan Tanjung Beringin
Foto: Dok/ Warga
Puluhan sampan nelayan terpantau bersamdar akibat cuaca buruk dan kelangkaan BBM, Rabu (15/7/2026).

Sergai(harianSIB.com)

Aktivitas para nelayan di Kecamatan Tanjungberingin, Kabupaten Serdang lbedagai (Sergai), dalam sepekan terakhir nyaris terhenti. Kondisi cuaca buruk yang ditandai angin kencang di perairan, ditambah sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut.

Salah seorang nelayan, Ucok (54), mengatakan para nelayan terpaksa menghentikan aktivitas mencari ikan demi menghindari risiko keselamatan di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Di sisi lain, kelangkaan solar semakin memperberat kondisi mereka.

"Sudah sekitar satu minggu kami tidak pergi melaut karena angin kencang. Solar juga susah didapat. Kalaupun berangkat, hasil tangkapan belum tentu cukup untuk menutupi biaya belanja dan kebutuhan selama menginap di laut," ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, biaya operasional melaut cukup besar sehingga hasil tangkapan harus mampu menutupi seluruh pengeluaran. Namun, dengan kondisi cuaca ekstrem, nelayan khawatir keselamatan mereka terancam apabila tetap memaksakan diri melaut.

Hal senada disampaikan Usup (50), pengusaha sampan di Tanjungberingin. Ia menilai para nelayan saat ini menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni cuaca buruk dan sulitnya memperoleh solar bersubsidi.

Usup menjelaskan, kebutuhan BBM nelayan dipenuhi melalui Stasiun Pengisian Diesel Nelayan (SPDN) di Dusun I, Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Tanjung Beringin, yang melayani penyaluran solar dan Pertalite bagi nelayan serta masyarakat.

Menurutnya, harga solar di SPDN tercatat sebesar Rp6.800 per liter. Namun, setelah ditambah biaya pengangkutan menggunakan jeriken, harga yang harus dibayar nelayan mencapai sekitar Rp7.800 per liter. Selain itu, masih terdapat nelayan yang belum memiliki barcode sehingga mengalami kesulitan memperoleh solar.

Kondisi tersebut membuat banyak nelayan memilih menunda aktivitas melaut hingga cuaca kembali normal dan pasokan BBM tersedia.

Mereka berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mengatasi kelangkaan solar serta memastikan distribusi BBM bersubsidi bagi nelayan berjalan lancar, sehingga roda perekonomian masyarakat pesisir tidak semakin terpuruk. (*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru