Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 12 Oktober 2026

HKBP Peringati 165 Tahun Perjalanan dari Sipirok dan Pahae hingga Penjuru Dunia

Anwar Lubis - Sabtu, 10 Oktober 2026 20:20 WIB
785 view
HKBP Peringati 165 Tahun Perjalanan dari Sipirok dan Pahae hingga Penjuru Dunia
Foto Dok/Tangkapan Layar
Tangkapan layar video sejarah 165 tahun HKBP yang dibagikan di akun Facebook Sekjen HKBP, Sabtu (10/10/2026).

Taput(harianSIB.com)

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) genap berusia 165 tahun pada 7 Oktober 2026. Perjalanan panjang dari pelayanan kecil di Tanah Batak hingga hadir di berbagai penjuru dunia itu dirangkum dalam video sejarah yang diputar panitia Sinode Godang HKBP di Gedung Seminarium, Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Rabu (7/10/2026).

Video tersebut diputar di sela peluncuran (launching) Buku Sejarah 165 Tahun HKBP dan Bibel Bahasa Akit (bagian dari rumpun Melayu yang digunakan oleh Suku Akit). Video itu juga dibagikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) HKBP Pdt Rikson Mangapul Hutahaean di akun Facebooknya, dikutip Sabtu (10/10/2026).

Dalam video itu, HKBP digambarkan sebagai gereja yang lahir dari sebuah pelayanan kecil di Tanah Batak, lalu bertumbuh bersama kehidupan jutaan orang. Perjalanan tersebut disebut telah dimulai sebelum nama HKBP ada.

Menurut narasi video, sejak awal abad ke-19 orang-orang dari luar telah mencoba memasuki pedalaman Tanah Batak. Sebagian datang lalu kembali, sebagian lain tidak pernah menyelesaikan perjalanannya. Meski demikian, upaya memahami Tanah Batak terus berlangsung.

Baca Juga:
Bahasa kemudian menjadi pintu penting. H.N. Van Der Tuuk mempelajari bahasa Batak, menyusun kamus dan membuka jalan bagi penerjemahan serta komunikasi yang lebih dalam dengan masyarakat.

Tahun 1861 disebut sebagai titik penting. Pada tahun itu, pelayanan misi mulai ditata lebih terorganisasi di Sipirok dan Pahae. Tanggal 7 Oktober kemudian dikenang sebagai awal perjalanan HKBP. Setahun berselang, Ingwer Ludwig Nommensen tiba di Sumatera.

Dari Silindung, pelayanan berkembang dengan pendekatan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Gereja tidak berdiri sendiri. Di sekitarnya tumbuh sekolah, tempat tinggal pelayan, layanan kesehatan dan kehidupan bersama. Pola pelayanan ini kemudian dikenal sebagai pargodungan.

Perubahan terpenting pun terjadi ketika orang Batak sendiri mulai menjadi guru, penginjil dan kemudian pendeta, sehingga pelayanan tidak lagi hanya datang dari luar. Pada 1885, generasi pertama pendeta Batak ditahbiskan.

Dari Silindung, pelayanan bergerak ke Humbang dan Toba, menyeberang ke Samosir, lalu menjangkau Simalungun, Dairi, Angkola, dan berbagai daerah lain. Orang Batak tidak hanya membangun jemaatnya sendiri, tetapi juga mulai mengutus penginjil ke wilayah lain.

Pada awal abad ke-20, rumah sakit dan pusat kesehatan berkembang. Dokter, suster, perawat dan bidan hadir di tengah masyarakat. Pelayanan kepada orang sakit, penderita kusta dan penyandang disabilitas memperluas pemahaman tentang panggilan gereja, yakni hadir bagi manusia secara utuh.

Perempuan juga mengambil ruang yang semakin besar, sebagai guru, penginjil, perawat, bibelvrouw, diakones dan akhirnya pendeta. Ketika Nommensen meninggal pada 1918, gereja telah memiliki ratusan jemaat dan jaringan pelayan lokal yang semakin kuat.

Pada 1940, HKBP memasuki babak kemandirian. Pdt Kasianus Sirait terpilih sebagai ephorus pertama dari kalangan Batak. Setelah Indonesia merdeka, pelayanan terus berkembang, mencakup pendidikan tinggi, rumah sakit, diakonia, penginjilan dan jaringan jemaat yang mengikuti masyarakat Batak ke berbagai penjuru Indonesia.

Perjalanan itu, menurut narasi video, tidak selalu mudah. HKBP pernah mengalami konflik dan perpecahan. Namun pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari proses belajar untuk kembali berjalan bersama. Kini, pelayanan yang dahulu berpusat di Tanah Batak telah hadir di berbagai wilayah Indonesia hingga luar negeri.

Video itu juga menegaskan, bahwa sejarah HKBP bukan hanya sejarah para tokoh besar. Sejarah tersebut dibangun oleh generasi guru, penginjil, dokter, suster, pendeta, penatua dan jemaat yang memilih untuk melayani.

Pada bagian penutup, video itu menyebut bahwa yang diwariskan kepada generasi sekarang bukan hanya gedung, organisasi, atau sejarah yang panjang. Yang diwariskan adalah sebuah panggilan, yaitu tetap hadir, tetap melayani dan terus menjadi berkat bagi dunia, bagi kemuliaan Allah (**)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Ketua Umum KMDT Dukung Keputusan Sinode Godang, Diharapkan Pelayanan HKBP Semakin Dirasakan Masyarakat
Ephorus HKBP Sampaikan Pesan Sinode Godang ke-68 HKBP
Sinode Godang ke-68 HKBP Berakhir, Ephorus Harapkan Hasil Dilaksanakan Seluruh Pelayan Gereja
Rayakan HUT ke-165, HKBP Siapkan Ibadah Raya di Gelora Bung Karno
Refleksi 165 Tahun HKBP : Panggilan Transformasi Gereja Dan Ketaatan Kepada Allah di Tengah Perubahan Zaman
Satreskrim Tapteng Bekuk Pelaku Pembobolan Sekolah Swasta HKBP Poriaha
komentar
beritaTerbaru