Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 25 Agustus 2026

Desa Sei Dua Hulu Asahan Terendam Banjir Mencapai 1 Meter

* SDN Karanganyer Kisaran Diliburkan
- Selasa, 01 Desember 2015 21:30 WIB
727 view
Desa Sei Dua Hulu Asahan Terendam Banjir Mencapai 1 Meter
SIB/Donal Tampubolon
BANJIR: Hujan yang mengguyur kota Kisaran menyebabkan jalan protokol Cokroaminoto serta ruas jalan lainnya terendam banjir. Hingga pukul 13.30 WIB siang hari air masih tetap menggenangi jalan Merpati, Pergam, Elang, Setia serta rumah penduduk, Senin (30/1
Tanjungbalai (SIB)- Tingginya curah hujan mengakibatkan meluapnya air sungai hingga merendam permukiman warga di Desa Sei Dua Hulu Asahan, Senin (30/11).

Andi warga Dusun 8 Desa Sei Dua Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan, kepada SIB, Senin membenarkan terjadinya banjir.

"Sudah dua hari (sejak Minggu) banjir datang dan merendam dusun kami. Bahkan saat ini ketinggian air banjir meningkat hingga mencapai hampir 1 meter," terang Andi.

Selain Dusun 8 sejumlah dusun di Desa Sei Dua Hulu turut terendam. Banjir terjadi akibat tingginya curah hujan sepekan terakhir sehingga meluapnya air Sungai Bandar Nippon, Bandar Jaksa dan Bandar H Daud. "Air Bandar Nippon meluap hingga membanjiri permukiman dan perkebunan warga," ujar Saleha (50) warga Dusun 16 Desa Pasar Banjar Simpang Empat menjelaskan kepada SIB, Senin (30/11) petang saat memantau kondisi air banjir di wilayah yang terendam.

Wanita paruh baya ini menuturkan, setiap banjir datang ketinggian air bisa mencapai 2 meter. "Biasanya kalau banjir tingginya sampai 2 meter, air masuk ke rumah saya. Kami pernah tidur di atas jembatan," tuturnya. Acap kali banjir menerjang warga pun mengungsi dan bahkan tidur di atas jembatan.

Senada diungkapkan Wakini (40) warga Dusun 9 Desa Sei Dua Hulu yang khawatir ketinggian air telah merendam pekarangan rumah panggung miliknya.
"Lihatlah air semakin deras dan sungai sudah meluap. Semoga air tak naik. Sekarang ini saja kami sulit bekerja ke kebun karena sudah terendam banjir," tandas Wakini yang rumahnya berada di sekitar bantaran Sungai Bandar Jepang.

Warga mendesak Pemkab Asahan segera membangun bronjong di sepanjang Sungai Bandar Jepang mencegah banjir. "Maunya dibangun tembok penahan atau bronjong biar air tak masuk ke pemukiman kami," ujar Wakini dan Saleha mengharapkan perhatian Pemkab Asahan untuk membangun bronjong sebagai penahan air yang mengalir di sepanjang sungai.

Amatan SIB Sungai Bandar Jepang atau Nippon tak mampu mengalirkan air hingga meluap ke permukiman warga desa. Banyaknya enceng gondok hingga menutupi badan sungai yang diduga salah satu pemicu tingginya air banjir.

Banjir bukan hanya merendam sejumlah dusun di dua desa itu, bahkan telah meluas ke wilayah Tanjungbalai dan dikhawatirkan banjir kiriman akan merendam permukiman di beberapa kelurahan di Tanjungbalai yang berbatasan dengan Desa Sei Dua Hulu.

SDN Karanganyer Diliburkan

Hujan yang mengguyur Kota Kisaran  sejak Sabtu (29/11) dinihari menyebabkan di rumah warga, areal sekolah serta jalan protokol dan sejumlah ruas jalan terendam banjir. Akibatnya, banyak kendaraan mogok, arus lalu lintas terkendala dan siswa SDN 010096 di Jalan Merpati Karanganyer Kisaran Timur terpaksa diliburkan.

Dari pantauan SIB, air menggenangi ruas jalan mulai dari batas mata kaki hingga betis orang dewasa di jalan WR Supratman, Mahoni, Akasia, jalan protokol Cokroaminoto, Imam Bonjol, Bundaran Tugu, Diponegoro, Malik Ibrahim, Panglima Polim, Haji Misbah, Chairil Anwar, A Rivai, Merpati, Pergam, Saroha, Lapangan Parasamya dan sebagainya.

Siswanto warga Jalan Cokroaminoto serta beberapa warga kepada SIB, Senin (30/11) mengatakan, tahun lalu meski hujan satu harian pun genangan airnya tidak begitu parah. Warga menyarankan genangan air di pusat kota harus dicarikan solusi agar tidak terjadi lagi termasuk di kelurahan dan daerah rawan banjir lainnya.
Edo Hutagalung, warga Kisaran Barat mengkritik Pemkab Asahan dengan  menyebut, seharusnya bangunan ruko dan tempat usaha dibangun dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. “Tidak menyediakan saluran air mengakibatkan genangan air atau banjir karena pemerintah tidak begitu tegas. Jika tidak salah banyak bangunan di atas rawa atau bantaran sungai yang mempersempit aliran air dan akhirnya menjadi banjir,” ucapnya.       

Lanjut Edo, Permukaan air tanah drainase seharusnya berada di bawah lapisan subgrade atau lapisan tanah dasar pada jalan raya supaya air pada permukaan jalan dapat tertampung.

Jalan raya seharusnya memiliki kemiringan permukaan sekitar dua persen agar air mengalir ke drainase dan tidak tergenang. Idealnya harus ada kemiringan jalan sekitar dua persen. (D03/D19/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru