Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 14 Juni 2026

Museum Negeri Sumut Tampilkan Perlengkapan Makan Sirih Tradisional

- Kamis, 30 April 2015 10:34 WIB
632 view
Museum Negeri Sumut Tampilkan Perlengkapan Makan Sirih Tradisional
Medan (SIB)- Museum Negeri Sumut menampilkan perlengkapan  makan sirih tradisional yang ada di Sumut seperti Puan yang terbuat dari logam, kuningan, perak dan emas. "Puan ini berbentuk bundar atau segi enam. Kemudian Cerana, fungsinya hampir sama dengan Puan, cuma berbentuk nampan berkaki dan biasanya digunakan saat acara adat Melayu," kata Kepala Museum Negeri Sumut Dra Sri Hartini MSi melalui Fungsional Museum Sumut Martina Silaban SH kepada wartawan  di Kompleks PRSU, Senin (20/4).

Hadir mendampingi Kasubag TU Museum Sumut Drs Sepakat Sebayang, Sekdisbudpar/PPTK Avon Syaffrullah Nasution dan Kasi Konservasi/Preparasi Hernauli Sipayung.

Dia mengatakan, selain peralatan di atas, ada juga peralatan makan sirih lainnya dipamerkan dalam acara itu,  seperti Tepak, Dompet Anyaman terbuat dari  pandan yang berasal dari Karo, Bolanafo dari Nias, Tappa Salipi dipakai pada adat Angkola/Mandailing,  Dongsi dipakai dalam adat Pakpak, Petak juga dipakai dalam adat Karo.

Selanjutnya, kata dia ada juga wadah tembakau, wadah kapur, panutuan napuran dari Batak Toba, ketur dan kacip. "Makan sirih selalu identik dengan acara perkawinan di sejumlah suku yang ada di Sumut. Apalagi perkawinan adalah fase penting dalam hidup manusia. Sirih merupakan elemen penting dalam hubungan sosial maupun seksual kedua mempelai," paparnya.

Selain dalam acara pernikahan itu sendiri, papar dia,  sirih juga disertakan dalam acara pertunangan atau lamaran. Sirih adalah pembuka dalam diskusi mengenai pasangan, mas kawin dan hal-hal penting lainnya, untuk persiapan upacara perkawinan. Diterimanya sirih akan menandakan persetujuan terhadap lamaran yang diajukan.

Dalam upacara meminang dalam adat Melayu misalnya, kata dia, sirih dan segala kelengkapannya adalah hal yang tak bisa ditinggalkan. Demikian juga pada masyarakat Karo dimana terdapat prosesi bernama mbaba belo selambar, upacara lamaran yang secara harfiah berarti membawa sehelai sirih.

Dikatakannya,  beberapa pakaian pengantin tradisional juga masih dilengkapi  penginangan. Misalnya pengantin wanita Karo membawa kampil, pengantin wanita Pakpak membawa ucang marsemsem, dan pengantin wanita Angkola/Mandailing membawa tappa salipi. "Semua ini, kita tampilkan dalam sebulan ini selama PRSU berlangsung, dengan tujuan budaya kita ini tidak punah dimakan jaman kedepan," katanya mengakhiri.(A14/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru