Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 17 April 2026
Hadapi Natal dan Tahun Baru

BI dan TPID Upayakan Pasokan Kebutuhan Pokok dan Inflasi Terkendali

- Minggu, 05 November 2017 11:09 WIB
244 view
BI dan TPID Upayakan Pasokan Kebutuhan Pokok dan Inflasi Terkendali
Medan (SIB) -Menghadapi  Natal dan Tahun Baru diperkirakan akan meningkat  permintaan pasokan kebutuhan bahan pokok yang akan mendorong kenaikan harga. Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara Arief Budi Santoso kepada wartawan, Jumat (4/11). Pihaknya bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara terus melakukan upaya pengendalian inflasi sesuai roadmap TPID dalam menjamin pasokan dengan didukung distribusi penyaluran kebutuhan pokok juga menjaga ekspektasi inflasi masyarakat.

Selain itu, khusus untuk komoditas bawang merah TPID Sumut  melakukan koordinasi kerja sama dengan daerah lain seperti Riau dan Jawa Tengah agar pasokan bawang merah tetap terjaga.

Inflasi
Menyinggung inflasi Sumatera Utara, kata Arief, sampai dengan akhir tahun 2017 diyakininya masih terkendali dan berada pada sasarannya yaitu 4% 1% year on year (yoy). Namun demikian, risiko inflasi diperkirakan masih tinggi karena secara historis, inflasi pada akhir tahun relatif lebih tinggi terutama didorong oleh kenaikan harga-harga komoditas seperti cabai merah, rokok filter, tarif listrik, bawang merah, beras dan angkutan udara.

Disebutnya, terkendalinya harga komoditas pangan telah mendorong inflasi Sumatera Utara pada bulan Oktober 2017 kembali menurun menjadi 0,23% (mtm), lebih rendah dari rata-rata inflasi bulan Oktober selama 5 tahun terakhir yang mencapai 0,55% (mtm). Namun demikian, capaian inflasi tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 0,01% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun kalender Sumatera Utara sampai Oktober 2017 mencapai 2,05% (ytd).

Inflasi katanya terjadi di seluruh kota IHK Sumatera Utara yakni Sibolga (0,31%), Medan (0,24%), Padangsidimpuan (0,16%) dan Pematangsiantar (0,15%).

Sumber inflasi bulan ini terutama berasal dari kelompok volatile food dan administered prices sebagai penyumbang inflasi terbesar. Inflasi kelompok volatile food di bulan Oktober mencapai 0,34% (mtm). Cabai merah kembali menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar di Sumatera Utara dengan andil mencapai 0,28%.
Peningkatan harga cabai merah selama bulan Oktober 2017 disebabkan oleh faktor cuaca yang mengakibatkan hasil tanam yang kurang maksimal.

Sementara itu, implementasi Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas beras yang berjalan efektif telah mendorong komoditas beras mengalami deflasi sebesar 0,20% (mtm) atau andil sebesar -0,01%, sehingga mampu menahan tekanan inflasi bulan Oktober 2017. Komoditas lain yang mengalami deflasi di antaranya bawang merah, daging ayam ras, dan bawang putih. Deflasi pada komoditas pangan utama tersebut diharapkan dapat memberikan keyakinan bahwa perkembangan harga komoditas akan relatif terkendali. Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan, inflasi pada kelompok ini tercatat relatif rendah, yaitu sebesar 0,47%.

Mengenai kenaikan harga emas perhiasan, ungkapnya, dipengaruhi oleh kenaikan harga emas global yang didorong  adanya keyakinan kenaikan suku bunga The Fed yang ketiga kali untuk tahun 2017. Ditambah dengan adanya pengaruh pencalonan Gubernur Federal Reserve yang baru sehingga diperkirakan harga emas perhiasan akan terus mengalami kenaikan. Rendahnya inflasi inti ini mengindikasikan belum adanya tekanan dari sisi permintaan. (A2/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru