Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 22 Agustus 2026

Wilayah Pantai Timur Rawan Golput pada Pilgubsu 2018

- Minggu, 25 Februari 2018 11:19 WIB
243 view
Wilayah Pantai Timur Rawan Golput pada Pilgubsu 2018
Medan (SIB) -Sejumlah daerah di wilayah Pantai Timur dinilai rawan dengan potensi suara 'Golput' yang enggan menggunakan hak pillihnya pada masa pemilihan kepala daerah atau pemilihan Gubsu tahun 2018 ini sehingga harus diantisipasi berbagai pihak terutama KPU Sumut dan daerah demi suksesnya Pilkada Sumut atau Pilgubsu tahun ini.

Fungsionaris dewan pembina komunitas relawan Djarot-Sihar atau 'Relawan JAS', Ir Felix Simbolon dan Sekretaris Jhon Tulus Sitompul SSos kepada SIB, Rabu (21/2) mengklaim hasil survei timnya baru-baru ini menunjukkan potensi rawan Golput itu antara lain terdapat di sejumlah daerah terpencil dan terisolir di kawasan Asahan. Batubara, Labuhanbatu dan daerah sekitar di penjuru Pantai Timur Sumut.

Menurut Felix, pada Pilkada atau Pilgub Sumut 2013 lalu, porsi orang yang tak menggunakan hak pilih atau suaranya mencapai 63,38 persen dari jumlah pemilih terdaftar 2.121.551 orang. Belakangan, potensi suara Golput itu memang menciut dari 52 persen dari populasi daftar pemillih tetap (DPT) yang hampir 2,5 juta orang saat ini. Potensi Golput inilah yang harus diantisipasi serius agar semakin banyak orang menggunakan suaranya dan menjauhi Golput pada Pilgubsu di hari-H 27 Juni 2018 nanti, dan sekaligus agar Pilkada Sumut tahun ini menjadi momen pemulihan demokrasi utuh dengan satu sikap dan komitmen 'No Golput Again'.

Hal senada dicetuskan Jhon Tulus, bahwa setiap kandidat calon Gubsu dan calon Wagubsu harus bertindak ekstra untuk menggalang keyakinan publik agar menggunakan hak pilihnya. Selain untuk menumbuhkan kesadaran publik dalam berdemokrasi, juga untuk mengakhiri stigma bahwa beri hak suara itu bukanlah untuk tradisi transaksi sesaat yang selama ini dicap jual-beli suara.

Mereka mengutarakan hal itu dalam temu diskusi dan rapat komunitas relawan di Posko Pelangi Relawan JAS di jalan Gagakhitam Ringroad Medan dihadiri kordinator Tim Advokasi Lamsiang Sitompul SH, tim ahli Dr Dompak Pasaribu SE, kordinator harian Wesly Simanjuntak, Jannes Priadi Perangin-angin, Drs Laurencia Primawati SP, Septani Siahaan SE MSi Ak, Mona Mirza Aldemita, Eko Pramono SE, Mandarison Aritonang SE, Yanto Widjaya, Namora Madli Aktivia SE, M Rizaldi Batubara, Yuyun Primawati dan Junika Napitupulu SSi.

"Selama ini, dalam setiap Pilkada di provinsi maupun kabupaten, atau setiap Pilpres dan pemilihan legislatif, banyak orang di luar Golput ini berlaku unik. Mereka hadir di dekat TPS tapi hanya duduk ramai-ramai dan baru mau masuk ke TPS memberikan suaranya kalau sudah ada orang yang menawarkan rupiah untuk mencoblos nama kandidat tertentu. Kalau tadinya orang-orang ini tidak diakomodir secara transaksional begitu, berarti jumlah Golput lebih besar. Lihat saja di kampung-kampung, apalagi hari-H Pilkada itu hari libur umum yang membuat orang lebih banyak ngumpul di warung untuk minum-minum saja sambil main leng atau kartu domino. Siapa-siapa saja mereka itu dan mau dikemanakan suaranya, dan bagaimana cara agar meremka mau datang ke TPS-TPS. Ini yangn harus ditelusuri untuk solusinya, tak cukup hanya dipikirkan," ujar Felix serius. (A04/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru