Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 23 Agustus 2026

Pedagang Pasar di Medan Keluhkan Dampak Program MBG, Minta Dilibatkan sebagai Pemasok

Indah Apriliana dewi Ginting - Kamis, 25 Juni 2026 17:23 WIB
1.225 view
Pedagang Pasar di Medan Keluhkan Dampak Program MBG, Minta Dilibatkan sebagai Pemasok
harianSIB.com/Indah Apriliana Ginting
Pedagang pasar tradisional di Kota Medan mengeluhkan belum dilibatkannya mereka sebagai pemasok kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (25/6/2026).

Medan (harianSIB.com)

Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kota Medan mengaku belum merasakan manfaat ekonomi dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka berharap pemerintah melibatkan pedagang kecil sebagai pemasok bahan pangan agar manfaat program dapat dirasakan lebih merata.

Berdasarkan penelusuran harianSIB di sejumlah pasar tradisional, Kamis (25/6/2026), para pedagang menyebut pasokan kebutuhan dapur MBG lebih banyak berasal dari pemasok skala besar, sehingga pedagang pasar tidak ikut menikmati perputaran anggaran program tersebut.

Pedagang ayam di Pasar Simpang Limun, Budi (35), mengaku belum pernah memasok kebutuhan dapur MBG sejak program berjalan.

"Pengelola dapur MBG tidak membeli ayam dari kami. Mereka belinya dari pemasok besar," ujarnya.

Baca Juga:
Menurut Budi, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih memilih membeli langsung dari rumah potong atau peternak besar yang mampu menyediakan pasokan dalam jumlah besar dengan harga lebih kompetitif.

Ia juga mengaku harga ayam sempat mengalami kenaikan sejak program MBG berjalan.

"Sebelum ada MBG, harga ayam sekitar Rp25.000 sampai Rp30.000 per kilogram. Setelah MBG berjalan naik menjadi sekitar Rp40.000 hingga Rp45.000. Sekarang saat MBG libur karena sekolah libur, harga turun lagi sekitar Rp30.000 dan pembeli kami justru lebih banyak," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Indah, pedagang sayur di Pasar Sei Sikambing Medan. Ia mengatakan penjualan berbagai jenis sayuran seperti buncis, kentang, dan wortel mengalami penurunan karena tidak pernah dilibatkan sebagai pemasok kebutuhan dapur MBG.

"Kami di pasar ini tidak pernah diajak memasok kebutuhan MBG. Yang dilibatkan hanya orang-orang tertentu yang sudah punya akses," ujarnya.

Menurut Indah, kondisi tersebut membuat sebagian dagangannya tidak habis terjual hingga akhirnya rusak dan terpaksa dibuang.

Hal senada diungkapkan pedagang buah di Pasar Kampung Lalang, Saipul. Ia mengaku selain tidak pernah menjadi pemasok MBG, harga sejumlah komoditas buah juga mengalami kenaikan sejak program berjalan.

"Harga buah naik, terutama jeruk. Barang juga sulit didapat karena lebih dulu dibeli untuk kebutuhan dapur MBG. Penjualan kami ikut menurun," katanya.

Para pedagang menegaskan mereka tidak menolak Program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat. Namun mereka berharap pelaksanaan program tersebut dapat memberikan ruang bagi pedagang pasar tradisional dan UMKM lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan pangan.

Mereka berharap distribusi manfaat program dapat dilakukan lebih merata sehingga anggaran yang beredar tidak hanya dinikmati pemasok berskala besar, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi pedagang kecil di pasar-pasar tradisional.

Hingga berita ini diturunkan, harianSIB.com belum memperoleh tanggapan dari pihak penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait keluhan para pedagang tersebut. Redaksi akan memuat penjelasan dari pihak terkait pada pemberitaan berikutnya sebagai bagian dari prinsip keberimbangan. (**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Fokus Pembangunan Ekonomi, Sandiaga Janji Perkuat UMKM
Cawapres RI Sandiaga Uno dan Ketum PAN Tatap Muka dengan Pedagang Pasar
Wali Kota Apresiasi RPX One Stop Logistics untuk Geliatkan UMKM di Medan
Surat Pertama Belum Dijawab, Pedagang Pasar Inpres Titikuning Surati Lagi Ombudsman RI
Pemprovsu Serahkan Penghargaan Siddhakarya kepada Enam Pelaku UMKM
PTPN III Salurkan Dana Bergulir untuk 2 Pelaku UMKM
komentar
beritaTerbaru